MENGIKUT YESUS DI JALAN PENDERITAAN DAN KERENDAHAN

news-thumb1280

Lukas 13 : 31-35; Filipi 3 : 17-21

Tuhan Yesus adalah Allah yang mengosongkan (Fil. 2:7) dan merendahkan diri-Nya, taat sampai mati untuk menjadi jalan penebusan bagi orang yang percaya kepada-Nya. Jadi, ketika Yesus datang ke dunia Ia sedang menjalankan misi penebusan. Yesus tahu kapan dia akan disalibkan dan dimuliakan, maka Yesus berkata kepada orang yang memperingatkan-Nya untuk pergi meninggalkan Yerusalem (Luk. 13:31) dengan berkata “Aku mengusir setan dan menyembuhkan orang, pada hari ini dan besok, dan pada hari yang ketiga Aku akan selesai” (ay. 32). Kalimat ini jelas menunjukkan bahwa Yesus tahu kapan waktunya Ia harus menderita taat sampai mati menjalankan misi Allah. Yesus melanjutkan perkataan-Nya, “Tetapi hari ini dan besok dan lusa Aku harus meneruskan perjalanan-Ku, sebab tidaklah semestinya seorang nabi dibunuh kalau tidak di Yerusalem.” Kalimat ini menunjukkan keteguhan dan kesiapan Yesus menjalani panggilan dan misi Allah bagi dunia ini. Yesus pun tahu bahwa Ia harus berada dan mati di Yerusalem.

Paulus hidup mengikuti teladan Tuhan Yesus, sehingga ia berkata: “ikutilah teladanku dan perhatikanlah mereka, yang hidup sama seperti kami yang menjadi teladanmu” (Fil. 3:17). Paulus lalu mengajak jemaat di Filipi untuk tidak berfokus kepada perkara duniawi (ay. 19). Bahkan Paulus mengajak jemaat untuk melihat bahwa kewargaan orang percaya itu di sorga dan dari situ menantikan Tuhan Yesus Kristus (ay. 20). Penjelasan Paulus menunjukkan pemahamannya mengenai tujuan hidup sebagai anak-anak Allah seperti yang telah diteladankan Yesus, yaitu hidup melakukan perkara dari Allah bukan dari dunia. Walaupun perkara dari Allah itu mendatangkan penderitaan, tetapi Allah menjanjikan kemuliaan bagi mereka yang taat yakni dimuliakan sebagaimana Kristus dimuliakan (ay. 21). Penderitaan adalah suatu realitas ketika orang percaya sungguh-sungguh mengikut Yesus. Seperti yang dikatakan Yesus dalam Lukas 14:27: “Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.”

Kehidupan orang Kristen zaman sekarang secara khusus di Indonesia, terlihat lebih baik jika dibandingkan di daerah Timur Tengah dan keadaan pada zaman para rasul. Akan tetapi, kenyamanan dan ketenangan dalam mengikut dan beribadah kepada Tuhan Yesus ini jangan sampai membuat kita (orang Kristen) terlena. Kita perlu merenungkan secara pribadi, “mengapa saya jarang mengalami penderitaan karena Kristus? Mengapa saya tidak pernah merasa memikul salib seperti yang Yesus katakan?” Kiranya dalam perenungan pribadi dapat menolong kita untuk fokus pada panggilan dan misi Allah yang kita kerjakan di dunia ini, yaitu untuk memuliakan Dia. Jangan sampai kita tidak merasa “menderita karena Kristus” dan tidak merasa “memikul salib” karena kita menjadi orang Kristen yang “mencari aman” di dunia ini. Kita enggan untuk menyatakan “buah iman” kepada sekitar kita agar Tuhan Yesus dipermuliakan. Oleh sebab itu, mintalah Tuhan berbelas kasihan dan menjadikan kita menjadi murid Yesus yang sejati.

WA

Leave a comment