Mengikut Jalan Kemuliaan Yesus

news-thumb1280

Ibr 5:5-10; Yoh 12:20-33

Apakah saudara pernah memperhatikan perubahan warna kain di bagian depan mimbar? Jika diperhatikan kita akan menemukan ada beberapa warna yang digunakan berdasarkan waktu, misalnya: selama minggu Pra Paskah kain yang digunakan berwarna ungu, di minggu Paskah kain yang digunakan berwarna putih, dalam kebaktian peneguhan dan pemberkatan pernikahan, kain yang digunakan berwarna merah. Perubahan warna kain menjadi salah satu bentuk simbol yang mengingatkan pada suatu makna didalamnya. Misalnya, warna putih sebagai simbol kemuliaan Tuhan. Dalam ruang kebaktian ada berbagai simbol (selain warna kain) yang dengan sengaja diletakkan, misalnya: salib, Alkitab, bejana baptisan, peralatan Perjamuan Kudus, dsb. Semua simbol itu digunakan untuk menolong umat mengingat suatu hal yang jauh melampaui apa yang terlihat. Seperti salib sebagai simbol yang mengingatkan kita akan kematian Kristus di atas kayu salib untuk menebus kita dari dosa.

Dalam bacaan hari ini Yesus juga menggunakan simbol untuk mengajar para murid. Yesus menggunakan simbol biji gandum untuk menjelaskan kematian-Nya. Biji gandum digambarkan harus jatuh ke dalam tanah, mati, barulah dapat bertumbuh dan menghasilkan banyak buah. Melalui simbol biji gandum, Yesus hendak menyampaikan bahwa melalui kematian-Nya maka akan datang kehidupan di tengah dunia.

Hal yang menarik adalah penjelasan tentang biji gandum dan kematian-Nya menjadi bagian dalam pernyataan Yesus tentang “telah tiba saatnya Anak Manusia dimuliakan”. Dengan kata lain Yesus hendak menyatakan bahwa waktu Anak Manusia dimuliakan adalah pada saat atau melalui kematian-Nya. Jalan kemuliaan yang disampaikan oleh Yesus bukanlah melalui kekayaan yang berlimpah, kekuasaan dan kekuatan, melainkan di dalam kematian-Nya di atas kayu salib. Maka kematian yang dialaminya bukanlah sebagai korban dari kejahatan manusia, melainkan sebagai bentuk kesediaan Yesus untuk memuliakan Bapa di sorga dan bahwa Yesus juga dimuliakan oleh Bapa dalam penderitaan-Nya. Yoh 12:28 berbunyi, Bapa, muliakanlah nama-Mu!” Maka terdengarlah suara dari sorga: “Aku telah memuliakan-Nya, dan Aku akan memuliakan-Nya lagi!”.

Kesediaan Yesus menjalani penderitaan dan kematian-Nya disebabkan karena visi yang kuat dalam hidup-Nya, yaitu melakukan kehendak Bapa. Visi inilah yang membuat Yesus tidak mudah diombang-ambingkan dengan hal lain (seperti pencobaan di padang gurun). Dengan visi yang jelas, Yesus memilih untuk menderita dan mati supaya melalui-Nya hadirlah kehidupan. Itu sebabnya penderitaan dan kematian Yesus dilihat sebagai sebuah penyelesaian tugas yang sempurna dan menjadi pokok keselamatan yang abadi bagi semua orang yang taat kepada-Nya (Ibr 5:8-9). “Dan sekalipun Ia adalah Anak, Ia telah belajar menjadi taat dari apa yang telah diderita-Nya, dan sesudah Ia mencapai kesempurnaan-Nya, Ia menjadi pokok keselamatan yang abadi bagi semua orang yang taat kepada-Nya,

Sebagai orang Kristen (sebutan bagi para pengikut Kristus), maka visi hidup yang sama juga diberikan kepada kita, yaitu hidup dalam kehendak Allah. Dalam menjalani visi itu, tentu ada banyak hal yang dapat membuat kita menjadi bimbang dan goyah, terlebih lagi ketika diperhadapkan dengan penderitaan yang akan dialami sebagai konsekuensi melakukan kehendak Allah. Misalnya: ketika sedang mengalami kesulitan keuangan pada saat yang sama kita juga harus melakukan kehendak Allah, maka cara menyelesaikan kesulitan keuangan yang dialami harus sesuai dengan kehendak Allah, tidak bisa sesukanya. Ketika berupaya menyelesaikannya dengan kehendak Allah, tidak jarang kita akan mengalami kesulitan dan bahkan menderita. Oleh sebab itu, pandanglah kepada Yesus yang telah lebih dulu mengalami penderitaan untuk memuliakan Allah. Di dalam Kristus, kita mendapat kekuatan untuk tetap teguh melakukan kehendak dan memuliakan Allah.

                                                                                                DRS

 

Leave a comment