Menggembalakan Bukan Dengan Kuasa

WhatsApp Image 2021-04-24 at 09.30.53

Yohanes 10:11-18

Suatu hari ibu Teresa sedang berjalan menelusuri kota Kolkata, India, tiba-tiba seorang perempuan pengemis mendatanginya dan memberikan semangkuk uang koin. Perempuan pengemis itu hendak menyerahkan uang yang didapatkannya kepada ibu Teresa. Dengan segera ibu Teresa menolak pemberiannya. Namun, perempuan pengemis itu terus memohon kepada ibu Teresa untuk menerimanya. Ia berkata, “Mohon terimalah pemberian saya ini. Masih banyak orang yang lebih kesusahan daripada saya”. Perempuan itu mengemis untuk keluar dari kesusahan hidupnya. Tetapi kesusahan yang dialaminya tidak membuatnya kehilangan kasih kepada sesama. Ia menunjukkan belas kasihya kepada sesama, sampai-sampai ia tidak mementingkan dirinya sendiri lagi. Kasih dan rasa sakit atau pengorbanan memang berjalan beriringan. Itu sebabnya Ibu Teresa pernah berkata, “Mencintailah sampai kamu terluka.”

Mencintai sampai terluka menjadi pembeda antara gembala yang baik dengan seorang upahan. Yoh 10:11-18 mencatat perbedaan itu. Siapakah gembala upahan? Mereka adalah orang-orang yang dibayar untuk membantu sang pemilik ternak dalam menggembalakan seluruh ternak miliknya. Seorang gembala upahan digambarkan sebagai sosok yang hanya mencari keuntungan dan kenyamanan bagi dirinya sendiri. Ketika ada bahaya mengancam, seperti serigala misalnya, seorang upahan akan lari meninggalkan domba-dombanya. Ia memilih untuk menyelamatkan dirinya sendiri ketimbang berkorban bagi domba-dombanya. Lain halnya dengan seorang gembala sekaligus pemilik domba-domba tersebut, Ia tidak akan meninggalkan domba-domba ketika ada bahaya mengancam. Ia justru akan mempertaruhkan nyawanya demi menjaga domba-dombanya.

Tuhan Yesus adalah Sang Gembala yang baik, gembala pemilik domba-domba yang sesungguhnya. Ia menyatakan kasih-Nya dengan kematian-Nya di atas kayu salib. Ia mati demi menyelamatkan dunia. Ia mati bukan karena kewajiban, tetapi karena Ia sendiri yang memberikan nyawa-Nya untuk keselamatan kita. Sekali lagi, kasih dan pengorbanan berjalan beriringan. Inilah teladan yang Tuhan sudah nyatakan kepada kita. Kini kita yang dipanggil melakukan hal yang sama di tengah dunia, menjadi gembala sebagaimana yang telah diteladankan oleh-Nya.

Banyak orang percaya berpikir bahwa yang disebut sebagai gembala adalah para pendeta dan penatua saja. Padahal semua orang percaya memiliki tugas yang sama, “gembalakanlah domba-domba-Ku”, demikian perkataan Tuhan Yesus. Bagi mereka yang telah mendengar dan mengenal pengajaran dan teladan Yesus dipanggil untuk menggembalakan. Menjadi gembala yang memperhatikan domba-dombanya, yaitu sesamanya yang membutuhkan pertolongan. Menggembalakan dalam kasih yang dinyatakan dengan kesediaan untuk berkorban. Dalam hal ini, maka kasih dengan kerelaan untuk berkorban menjadi bentuk ketaatan pada perintah Tuhan.

Kembali dengan kisah perempuan pengemis dan ibu Teresa di atas. Apakah saat ini masih ada orang yang bertindak seperti perempuan itu? Memiliki kerelaan memberi di tengah kekurangan dan keterbatasannya. Mengasihi sampai melupakan kepentingannya sendiri. Apakah orang seperti itu masih bisa kita jumpai? Masih! Salah satu nama yang diusulkan untuk menerima bantuan sembako dari GP3, justru ikut menyumbang bantuan dana untuk gerakan tersebut. Mengapa ia melakukannya? Sekali lagi karena kasih. Kasih yang mendorongnya untuk tetap memberi di tengah kekurangannya. Ia mengasihi sampai terluka. Semoga kita juga dapat menggembalakan dengan kasih yang rela berkorban. Tuhan pasti menolong kita.

Leave a comment