MENGENAL KRISTUS DAN KARYA-NYA DALAM SETIAP PERAYAAN

news-thumb1280

(Kisah Para Rasul 9:36-43, Mazmur 23, Wahyu 7:9-17, Yohanes 10:22-30)

Dalam Minggu Paskah keempat ini, suasana hiruk pikuk perayaan Paskah sudah mulai tidak terasa. Kepadatan agenda perayaan Paskah sudah selesai, dekorasi sudah mulai dibongkar dan kepanitiaan pun akan segera dibubarkan. Kegiatan di gereja lalu akan berjalan kembali seperti biasa dalam rutinitas mingguan, sampai saatnya tiba hari raya gerejawi lainnya. Kehidupan keagamaan kita kadang hanya terus berputar dari satu perayaan ke perayaan berikutnya, dari satu panitia perayaan ke kepanitiaan perayaan lainnya. Terkadang baru saja kita bernapas lega karena telah menyelesaikan pelayanan dalam satu perayaan, kita sudah harus bersiap sedia untuk pelayanan dalam perayaan berikutnya. Diakhir tiap-tiap pelayanan, yang tersisa kadang hanya rasa lelah dan hampa. Karena kita hanya menjadi orang-orang Kristen selebritas, yang aktif menjaga dan merayakan hari-hari raya keagamaan kita dengan tekun dan konsisten, tetapi tidak mengalami perjumpaan dengan Tuhan yang kita layani dan kita rayakan karya-Nya. Perayaan-perayaan kita membawa banyak kesibukan dalam hidup kita, tetapi tidak menambah pengenalan dan cinta kita akan Tuhan.

Situasi seperti inilah yang dialami oleh orang-orang Yahudi pada zaman Tuhan Yesus. Mereka giat memelihara dan merayakan hari-hari raya, tetapi perayaan-perayaan yang mereka lakukan tidak membawa mereka semakin peka dalam mengenali kehadiran Tuhan Allah dan karya-Nya dalam hidup mereka. Peristiwa yang dicatat dalam Injil Yohanes yang menjadi bacaan kita hari ini memperlihatkan pada kita bahwa sekalipun mereka sedang merayakan kebaikan dan kemurahan Allah dalam hidup mereka, tetapi hati mereka dipenuhi dengan pikiran dan keinginan yang jahat. Yohanes mencatat, ketika tiba hari raya Penahbisan Bait Allah (hari raya Hanukkah) orang-orang Yahudi berkumpul di Bait Suci dan Tuhan Yesus ada di sana. Mereka mengelilingi Yesus dan bertanya kepada-Nya, apakah benar bahwa Ia adalah Mesias? Pertanyaan tersebut diajukan bukan karena mereka ingin mengetahui kebenaran, mengenal Yesus dengan lebih baik dan mengerti kehendak Allah, tetapi supaya mereka bisa menemukan alasan untuk melempari Dia dengan batu sampai mati. Karena pada dasarnya sejak awal dan sampai saat mereka mengajukan pertanyaan kepada Yesus, mereka tetap tidak percaya dan tidak dapat menerima kebenaran yang dinyatakan dan diberitakan oleh Yesus.

Sekalipun mereka begitu giat memelihara dan melakukan berbagai kegiatan keagamaan mereka, Tuhan Yesus tahu bahwa mereka bukanlah domba-domba kepunyaan Allah, mereka tidak mengenal Allah, Sang empunya mereka. Karena itu mereka tidak dapat mengenali kehadiran Allah dalam Yesus Kristus, yang datang ke dunia untuk membawa domba-domba kepunyaan Allah ke dalam hidup yang kekal. Mereka mencari kesempatan untuk berada dekat dengan Yesus dan bertanya jawab dengan Dia dalam setiap event perayaan-perayaan mereka, tetapi semuanya itu dilakukan bukan karena mereka benar-benar ingin mendapat kebenaran untuk meyakinkan mereka. Mereka ingin membungkam Yesus karena mereka tidak percaya bahwa Ia adalah Mesias yang diutus Allah untuk menyelamatkan mereka. Sekalipun keseharian hidup mereka begitu dekat dengan pembacaan kitab-kitab Suci dan perayaan-perayaan agama, tetapi hati mereka jauh dari pengenalan akan Allah dan kehendak-Nya.

Berefleksi dari hidup keagamaan orang-orang Yahudi, baiklah kita bertanya pada diri kita masing-masing, orang Kristen seperti apa kita? Adakah kita sungguh-sungguh sudah mengenal Allah dan karya-Nya dalam hidup kita, sehingga kita merayakan hari-hari raya yang kita sebut hari raya gerejaTuhan? Apakah perayaan-perayaan yang kita lakukan semakin mambawa kita lebih mengasihi Tuhan dan sesama atau justru sebaliknya, hanya menjadi kesibukan yang melelahkan, yang membuat kita jauh dari Tuhan dan bermusuhan dengan sesama? Tuhan kiranya menolong kita untuk semakin mengenal Dia, dan dapat mewartakan kebenaran tentang Dia serta karya-Nya dalam perayaan-perayaan kita. Amin.

LN

Leave a comment