MENGASIHI MUSUH, MUNGKINKAH?

news-thumb1280

Kejadian 45:3-15, Mazmur 37:1-11, 39-40, 1Korintus 15:35-38, 42-50, Lukas 6:27-38

Bagaimana sikap kita terhadap orang-orang yang berbuat jahat kepada kita dan menyakiti kita? Pada umumnya kita akan marah dan membalas perbuatan jahat dengan perbuatan jahat, tindakan yang menyakitkan dengan tindakan yang menyakitkan juga. Kita merasa sudah seharusnya kita bersikap seperti itu, kita berhak menuntut balas terhadap orang-orang yang melakukan kejahatan terhadap kita. Apakah setelah melakukan pembalasan kita dapat kembali berelasi dengan baik dengan mereka yang pernah menyakiti kita atau berbuat jahat kepada kita? Umumnya orang akan menjawab, “Tidak”. Tidak akan ada lagi pertemanan dan persaudaraan dengan orang-orang yang berlaku jahat dan menyakitkan, yang ada adalah permusuhan, relasi yang diwarnai dengan kebencian.

Dalam Lukas 6:27-38, Tuhan Yesus mengajarkan kepada kita, murid-murid-Nya, satu sikap yang berbeda dari perilaku kita yang biasanya dan pada umumnya. Terhadap orang-orang yang menyakiti kita dan berbuat jahat terhadap kita, Tuhan tidak mengajar kita untuk menuntut hak kita melakukan pembalasan. Tuhan justru mengajar kita untuk mengasihi mereka yang membenci kita, meminta berkat Tuhan bagi mereka yang mencaci kita. Tuhan Yesus mengajar kita untuk tidak membalas mereka yang melakukan kejahatan terhadap kita dengan melakukan kejahatan terhadap mereka, sebaliknya kita justru dipanggil untuk mengasihi mereka dan menyatakan kebaikan terhadap mereka. Apa yang Tuhan Yesus ajarkan, benar-benar berbeda dengan yang biasa dan yang umumnya kita lakukan. Mengapa Tuhan Yesus mengajar kita untuk melakukan hal itu? Apakah Ia tidak peduli dengan kaidah keadilan, sehingga mengajar kita untuk melepaskan orang-orang yang melakukan kejahatan terhadap kita?

Ada dua alasan yang mendasari ajaran ini, yang pertama adalah bahwa sebagai orang-orang yang sudah ada di dalam Kristus, kita dipanggil untuk memiliki cara hidup yang berbeda, karena di dalam Dia, setiap kita memiliki status yang baru dalam relasi kita dengan Allah. Kita tidak lagi disebut sebagai musuh-musuh Allah, karena Allah di dalam Kristus Yesus sudah mengampuni kita dan menyediakan jalan pendamaian bagi kita. Setiap kita yang berada di dalam Kristus disebut sebagai anak-anak Allah. Dan sebagai anak-anak Allah, yang sudah menerima kebaikan dan kemurahan hati Allah, kita dipanggil untuk menyatakan kemurahan hati. Kita dipanggil untuk menyatakan kebaikan kepada semua orang, tidak hanya kepada mereka yang baik kepada kita, juga kepada mereka yang jahat, sama seperti Bapa kita, yang di Sorga, yang selalu memberikan apa yang baik dan diperlukan oleh semua orang, baik orang-orang yang baik maupun yang jahat.

Alasan yang kedua adalah karena Tuhan Yesus menghendaki kita menyatakan kualitas hidup yang berbeda sebagai orang-orang yang sudah dikasihi-Nya. Kita dipanggil untuk menyatakan kasih yang lebih dalam daripada kualitas kasih orang-orang pada umumnya yang belum mengenal Kristus. Umumnya tindakan orang dalam mengasihi bersifat reaktif, mereka hanya akan mengasihi orang-orang yang mengasihi mereka dan mereka akan jahat kepada orang-orang yang jahat kepada mereka. Bagaimana mereka bersikap akan ditentukan oleh bagaimana orang-orang bersikap terhadap mereka. Tetapi tidak demikian dengan kita, setiap kita yang ada dalam Kristus, dipanggil untuk menyatakan kualitas kasih yang berbeda, bukan kasih yang reaktif, melainkan kasih yang proaktif. Tindakan kasih kita tidak tergantung pada kondisi orang-orang yang harus dikasihi. Bahkan kita dipanggil untuk menyatakan kasih kepada orang-orang yang menurut ukuran orang pada umumnya, mungkin tidak pantas untuk dikasihi. Penyataan kasih seperti ini menunjukkan kualitas hidup yang kita miliki di dalam Kristus, yang dapat membuat setiap orang yang melihatnya, memuji dan memuliakan Bapa di sorga.

Mengasihi musuh, mungkinkah kita lakukan? Ya dan amin, pasti bisa kita lakukan, jika kita memang sudah benar-benar berada di dalam Kristus, sudah mengecap kasih dan kebaikan-Nya dalam hidup kita.

LN

Leave a comment