MENGASIHI DENGAN PERKATAAN DAN PERBUATAN

news-thumb1280

(Kisah Para Rasul 4:5-12, Mazmur 23, 1Yohanes 3:16-24, Yohanes 10:11-18)

Semua orangtua umumnya sayang pada anak atau anak-anak mereka. Mereka akan berusaha berjuang dengan segenap kekuatan untuk mencukupi dan memenuhi apa yang diperlukan dan dibutuhkan oleh anak-anak mereka. Mereka akan menjaga anak-anak mereka sedemikian rupa agar anak-anak terlindung dari segala mara bahaya. Mereka tidak segan-segan mendisplin anak-anak mereka sekalipun hati mereka merasa pedih ketika melakukannya, agar anak-anak dapat dididik dengan baik dan bertumbuh menjadi pribadi yang matang dan dewasa, yang siap menghadapi berbagai situasi dalam hidup mereka kelak. Mereka rela bersusah payah, mereka rela memberi diri dan semua yang ada pada mereka, semuanya karena mereka, para orangtua, mengasihi anak-anak mereka. Sesudah semua yang mereka lakukan, apakah semua anak tahu bahwa orangtua mereka sayang kepada mereka? Ternyata tidak semua anak tahu bahwa mereka disayang. Ada banyak anak-anak yang tumbuh dengan kemarahan dan kebencian karena merasa tidak disayang, merasa terlalu banyak peraturan dan larangan yang harus dipatuhi, terlalu banyak hukuman dan pukulan yang mereka terima, merasa terus dituntut dan tidak pernah dihargai atau dipuji. Mereka merasa bahwa para orangtua hanya sibuk dengan semua urusan pekerjaan dan dirinya sendiri, dan tidak peduli kepada anak-anak mereka.

Mengapa ada banyak anak yang merasa bahwa mereka tidak dikasihi, padahal para orangtua selama ini sudah melakukan banyak tindakan kasih dan pengurbanan dalam merawat, mendidik dan membesarkan anak-anak mereka? Apa yang salah dengan semua tindakan kasih yang dinyatakan para orangtua kepada anak-anak mereka? Jika kita perhatikan dengan baik, bagaimana kita selama dibesarkan dan dididik oleh orangtua kita, maka kita akan mendapati bahwa sekalipun banyak tindakan kasih sayang yang dinyatakan orangtua kepada kita, sedikit sekali para orangtua (khususnya orangtua “jaman old”) yang bisa dan biasa mengungkapkan kasih sayangnya dengan perkataan. Mereka hanya mengasihi dengan tindakan tanpa perkataan, jarang sekali mereka mengungkapkan rasa sayang mereka dengan kata-kata, jarang sekali mereka mengungkapkan kekaguman mereka dengan pujian. Sehingga sekalipun mereka mengasihi dengan berlimpah, kita kadang merasa tidak atau kurang dikasihi. Ternyata mengasihi itu tidak cukup hanya dengan tindakan, tetapi harus juga dengan perkataan, seperti tema kita hari ini.

Di sisi lain kita juga sering mendapati ada banyak orang yang kadang hanya perkataannya saja yang penuh kasih, terdengar baik dan menyenangkan, tetapi tidak terbukti dalam tindakannya. Melalui bacaan Alkitab kita hari ini, secara khusus dalam surat Yohanes, ditegaskan kepada kita bahwa tidak benar jika kita hanya mengasihi dengan perkataan, karena kasih yang hanya berwujud dalam perkataan dan tidak dinyatakan dalam perbuatan atau tindakan adalah kasih yang “omdo” (omong doang) hanya memberi harapan palsu alias bohong. Memang benar kita butuh mendengar bahwa kita dikasihi, tetapi tidak hanya berhenti sampai di situ, kita juga butuh melihat dan benar-benar merasakan kasih itu dalam tindakan atau perbuatan. Pernyataan kasih yang kita ungkapkan dengan kata-kata perlu dan harus kita wujudkan juga dalam perbuatan atau tindakan. Itulah kebenaran yang disampaikan Yohanes dalam surat yang ditulisnya.

Yohanes mengajak supaya setiap orang yang sungguh mengasihi Tuhan, dapat juga mengasihi sesamanya manusia dan dapat mewujudkan kasih itu dengan benar, tidak hanya mengasihi dengan perkataan, tetapi juga dengan perbuatan. Mengasihi dengan benar itu bukan dengan meniadakan perkataan, tetapi dengan menambahkan perbuatan, dengan demikian pernyataan kasih itu menjadi sempurna, dinyatakan dalam kebenaran bukan kepalsuan atau sekadar lip service.

Ketika Tuhan Yesus berkata bahwa Ia adalah Gembala yang baik, yang mengasihi domba-domba-Nya, maka perkataan itu bukan hanya perkataan yang diucapkan agar enak didengar. Perkataan itu bukan perkataan yang memberi harapan palsu. Tuhan membuktikan perkataan itu dengan memberikan diri-Nya, memberikan nyawa-Nya untuk menyelamatkan domba-domba-Nya. Melalui Kristus, Allah menyatakan betapa besar-Nya kasih Allah pada kita, tidak hanya dengan perkataan, tetapi juga dengan perbuatan. Juga bukan hanya dengan perbuatan tetapi juga dengan perkataan. Karena itu marilah kita belajar untuk mengasihi dengan lebih benar, seperti Tuhan sudah mengasihi kita, mengasihi dengan perkataan dan juga dengan perbuatan. Tuhan beserta kita.

LN

Leave a comment