MENEMBUS BATAS, MEMBANGUN SOLIDARITAS

news-thumb1280

(Yeremia 23:1-6, Mazmur 23, Efesus 2:11-22, Markus 6:30-34, 53-56)

Beberapa waktu yang lalu, Kementerian Keuangan (Kemenkeu) RI mengadakan Program Bersama Keluarga Kemenkeu. Dalam Program ini, 26 pelajar SMP dari berbagai daerah di Indonesia diajak untuk tinggal selama beberapa hari dengan keluarga Kemenkeu yang memiliki keyakinan agama yang berbeda. Melalui kegiatan ini para pelajar diharapkan mendapatkan pelajaran berharga mengenai toleransi atas perbedaan. Apa yang melatarbelakangi munculnya program seperti ini? Menkeu, Ibu Sri Mulyani Indrawati menyadari bahwa kita bangsa Indonesia dengan beragam suku bangsa, bahasa dan agama ini begitu mudah dipecah belah karena berbagai perbedaan yang ada. Keragaman bangsa kita adalah berkat dan anugerah Tuhan pada kita, bukan perbedaan yang memecah belah dan memisahkan kita dengan sesama warga negara Indonesia, melainkan sikap arogansi yang ada dalam diri kita, kecenderungan kita memandang diri lebih benar, lebih penting, lebih berhak, lebih berharga dari yang lain, inilah yang menjadi akar perpecahan itu.

Sikap arogansi membuat orang kemudian cenderung membentuk kelompoknya sendiri dan menyingkirkan mereka yang berbeda. Mereka peduli dan baik kepada orang-orang yang dianggap sekelompok dengan mereka, tetapi masa bodoh dan bahkan tidak jarang melakukan apa yang jahat terhadap orang-orang di luar kelompok mereka. Sikap seperti ini bukan hanya ada saat ini di jaman kita, tetapi jauh sebelum kita. Pada waktu Tuhan Yesus hidup di dunia, dunia telah di kotak-kotakkan oleh berbagai macam bentuk perbedaan. Perbedaan jenis kelamin, laki-laki dan perempuan; perbedaan status sosial, hamba/budak atau orang merdeka; perbedaan bangsa, Yahudi, Samaria, Romawi atau Yunani; dan perbedaan agama, orang bersunat atau tidak bersunat, umat Allah atau umat kafir, orang suci dan orang najis. Semua perbedaan itu membuat mereka terpisah satu dengan yang lain, dan tidak jarang diwarnai dengan permusuhan dan kebencian. Bagaimana Tuhan Yesus ketika ada di tengah-tengah masyarakat yang terkotak-kotak karena perbedaan-perbedaan yang dimilikinya?

Ketika Yesus dan murid-murid-Nya melihat sejumlah besar orang banyak dari berbagai kota, yang datang mencari dan mengikuti Dia, Alkitab mencatat bahwa tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka. Ia tidak melihat dan memandang mereka sebagai orang asing yang berbeda, tidak termasuk pada kelompok para murid. Ia melihat bahwa mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala, Matius dalam Injil yang ditulisnya menambahkan gambaran keadaan mereka dengan menyebutkan bahwa keadaan mereka

begitu lelah dan terlantar. Tidak ada orang yang peduli kepada mereka karena mereka mungkin dikategorikan sebagai orang yang harus disisihkan dan disingkirkan, karena sakit penyakit yang mereka derita, karena cacat yang mereka bawa sejak mereka lahir, atau karena kemiskinan dan cara hidup mereka yang dipandang najis oleh orang-orang yang menyebut diri mereka tahir. Sikap Tuhan Yesus jelas, bukan menolak dan menjauhi mereka, Tuhan Yesus justru datang menghampiri mereka dan memberikan pertolongan yang mereka perlukan. Ia menembus batas-batas yang dibuat oleh orang-orang di sekitar-Nya, oleh para pemimpin agama di tengah-tengah bangsa-Nya. Bukan kebencian, tetapi kasih dan kepedulian, itulah yang ditunjukkan-Nya.

Dalam belas kasihan dan kemurahan Allah,  Allah berkenan menyatakan kasih dan anugerah-Nya kepada banyak orang, dari beragam suku bangsa dan bahasa. Mereka yang jauh dan mereka yang dekat, sama-sama beroleh tempat di hadapan-Nya. Mereka yang punya hukum Taurat dan yang tidak, mereka yang bersunat dan tidak bersunat sama-sama diterima menjadi umat-Nya. Mereka yang berbeda, telah dipersatukan dalam kasih dan penebusan yang dinyatakan-Nya, menjadi kawan sewarga kerajaan Allah dan menjadi anggota keluarga Allah. Itu sebabnya, Rasul Paulus banyak menuliskan surat untuk mengingatkan umat Tuhan yang sudah terbiasa hidup dengan mengkotak-kotakkan sesamanya agar dengan anugerah Allah mereka dapat menerima dan menyatakan kasih kepedulian kepada yang berbeda.

Pertanyataan untuk kita renungkan, bagaimana sikap kita terhadap sesama anggota keluarga Allah yang berbeda dengan kita yang Tuhan letakkan dekat dengan kita? Bisakah kita menerima mereka sebagaimana dikehendaki Allah? Atau kita masih mengkotak-kotakkan mereka jadi yang sekelompok dengan saya dan yang di luar kelompok saya? Bagaimana juga dengan mereka yang ada di luar persekutuan kita, bisakah kita memandang mereka juga sebagai sesama yang harus kita kasih dan pedulikan? Kiranya Tuhan menolong kita mengikut dan meneladani Dia. Amin.

LN

Leave a comment