MENCINTAI TANPA BATAS

news-thumb1280

(Kisah Para Rasul 11:1-18, Mazmur 148, Wahyu 21:1-6, Yohanes 13:31-35)

John Lenon, seorang penyanyi Pop Rock, pernah mempopulerkan sebuah lagu yang berjudul Imagine, sebuah lagu yang mengajak para pendengarnya untuk membayangkan bagaimana manusia bisa hidup dengan damai, bersatu, saling berbagi tanpa dibatasi oleh ideologi negara atau keyakinan agama. Ia dan mungkin banyak orang lainnya, merasa kecewa melihat kehidupan manusia yang beragama dan berideologi, tetapi justru malah saling membenci, ingin menaklukkan dan mengalahkan. Agama dan ideologi dalam kehidupan manusia telah mengurung dan memisah-misahkan manusia yang satu dengan yang lainnya. Relasi cinta kasih di antara sesama manusia semakin miskin, karena masing-masing orang dibatasi oleh berbagai pagar agama dan ideologi. Mereka akan baik pada orang-orang yang mereka lihat memiliki keyakinan agama dan ideologi yang sama dengan mereka. Tetapi sebaliknya mereka kadang tidak segan untuk bertindak tidak ramah, bahkan menyakiti dan sampai membunuh orang-orang yang berbeda dengan mereka. Agama dan ideologi dalam kehidupan manusia, malah membawa manusia pada kebencian dan permusuhan yang memisahkan mereka seorang dengan yang lain.

Tuhan Yesus hadir di tengah-tengah dunia yang dibelenggu oleh berbagai ajaran, hukum dan peraturan agama dan ideologi. Kehadiran-Nya bukan untuk mempopulerkan sebuah agama atau ideologi baru, melainkan untuk mengajak manusia kembali pada panggilan utama dalam kehidupan yang dianugerahkan Tuhan kepada manusia, yaitu panggilan untuk saling mengasihi (Yohanes 13:34-35). Bukan tata cara atau berbagai ketetapan dan peraturan keagamaan baru yang diajarkan oleh Tuhan Yesus, melainkan bagaimana manusia yang diciptakan dan dijadikan oleh Allah dapat benar-benar mengasihi Allah, mengasihi sesamanya manusia dan mengasihi dirinya sendiri dengan benar. Bahkan ketika orang-orang Farisi, yaitu para ahli agama di tengahtengah bangsa Yahudi, bertanya kepada Yesus tentang keyakinan agama mereka, tentang hukum atau peraturan mana dalam ajaran agama yang paling penting dan harus diutamakan untuk dilakukan, maka dengan tegas Tuhan Yesus menjawab bahwa mengasihi Allah adalah hukum yang utama dan mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri adalah hukum kedua yang memiliki otoritas yang sama dengan hukum utama (Matius 22:34-40).

Sebagai pengikut Kristus, kita tidak dipanggil untuk membangun sebuah tata cara beragama yang baru, melainkan membangun cara hidup yang baru, yang di dalamnya kita dapat sungguh-sungguh mengasihi Tuhan dengan segenap hati, kekuatan dan akal budi kita, dan juga dapat mengasihi sesama kita manusia seperti diri kita sendiri, tanpa melihat apa warna kulit, agama dan ideologi mereka. Dan untuk berubah seperti ini memang tidak mudah, karena kita sudah terbiasa hidup dengan berbagai tembok agama dan ideologi yang memisahkan kita. Kristus memanggil kita untuk mengasihi, bukan hanya mengasihi orang-orang yang mengasihi kita, tetapi mengasihi seperti Ia sudah mengasihi kita, dengan kasih yang tidak terbatasi oleh perbedaan. Tuhan menolong dan memampukan kita, sehingga kita dapat menyatakan kasih di bumi kita yang penuh dengan keragaman suku bangsa, bahasa dan agama.

LN

Leave a comment