Menanti Sang Terang dalam Karya yang Berdampak

Quote-01Des2019

Yesaya 2:1-5; Mazmur 122:2;  Roma 13:11-14; Matius 24:36-44

Minggu Adven pertama ini merupakan tahun baru liturgi. Secara liturgis, kita telah beralih dari tahun C menuju tahun A. Tanggal 25 Desember mendatang, kita merayakan Natal. Saat ini kita mempersiapkan diri menuju Natal. Kata yang digunakan dalam persiapan ini adalah Masa Adven. Adven berarti “Kedatangan”. Kita menanti kedatangan Tuhan. Beberapa ribu tahun lalu Ia sudah datang dan Ia akan datang kembali. Dalam adven kita menghayati dua peristiwa. Secara liturgis, kita menanti kedatangan Masa Natal. Kita  juga sedang menantikan kedatanganNya kembali. Pada minggu advent pertama ini kita diajak menggumulkan  kehidupan sehari-hari di masa penantian.

Di dalam Injil Matius 24:37-44 Tuhan Yesus mengungkapkan tiga kondisi hidup manusia dalam masa-masa penantian, yaitu :

  1. Kondisi pertama, gaya hidup orang-orang pada masa penantian seperti gaya hidup di zaman Nuh yaitu gaya hidup hedonis. Orang-orang pada zaman Nuh hidupnya sedemikian rusak dan tidak merasa bahwa yang dilakukannya adalah dosa (ay. 37-39). Yang mereka sibukkan hanyalah makan, minum, kawin. Semua tanda yang Tuhan berikan tidak mereka hiraukan. Manusia  begitu cuek – manusia hidup dalam gaya hidup yang semakin hari semakin acuh tak acuh. Dalam perjalanan sejarah, situasi zaman Nuh akan terulang kembali secara perlahan-lahan – gaya hidup masa penantian ini mirip seperti zaman Nuh. Gaya hidup sekarang ini diwarnai dengan semangat hedonis. Kesenangan dan kenikmatan merupakan tujuan utama dalam hidup. Sebagai murid Kristus, kita perlu berhati-hati menyikapi  gaya hidup tersebut, kita tidak membiarkan diri kita larut dalam gaya hidup tersebut dan mengabaikan kebenaran firman Tuhan bahwa Yesus akan segera datang kembali.
  2. Kondisi kedua, Tuhan Yesus membukakan agar kita tidak terjebak tampilan luar (ay. 40-41) Ayat 40 dan 41 menceritakan dua orang penggarap tanah dan dua perempuan sedang memutar batu kilangan. Dari dua penggarap tanah itu, yang seorang dibawa dan yang seorang tidak, demikian juga dengan dua perempuan yang memutar batu kilangan. Mereka sama-sama bekerja, melaksanakan tugas kewajibannya sehari-hari, tanpa ada yang membedakan satu sama lain. Tampilan luar yang sama. Namun ternyata sikap hati mereka berbeda – yang satu mempunyai iman, pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus (Efesus 4:13), yang lain tidak.  Pada masa-masa penantian Natal dan kedatanganNya kembali seringkali  kita lebih tertarik dengan tampilan luar dan mengejarnya. padahal Yesus memerintahkan kita untuk memiliki sikap batin yang semakin menyerupai Yesus Kristus.
  3. Kondisi ketiga, Tuhan Yesus membukakan tentang bagaimana sikap yang seharusnya sebagai orang percaya dalam masa-masa penantian (ay. 42-44). Ayat 42 dan 43 menyuruh kita untuk berjaga-jaga, ayat 44 menyuruh kita untuk siap sedia. Tuhan bukan menginginkan kita untuk berjaga-jaga secara pasif tetapi juga siap sedia/ mempersiapkan diri dengan baik. Orang yang demikian akan hidup secara dinamis. Di semua aspek, kalau kita melakukan penantian pasif kita akan merasa lelah dan jenuh. Jika orang yang sudah divonis oleh dokter bahwa hidupnya sudah tidak lama lagi, apa yang harus dilakukan? Jika orang yang tahu bahwa waktu hidupnya terbatas seharusnya bersikap apa? Orang yang sekedar menunggu secara pasif akhirnya akan memiliki hidup yang sangat negatif. Jika ia menyadari bahwa waktunya sudah tinggal sedikit lagi maka harus bekerja dengan lebih baik dan lebih keras. Hal inilah yang membedakan antara orang yang betul-betul di dalam Tuhan dengan orang yang di luar Tuhan. Orang yang di dalam Tuhan akan tahu menggarap hidupnya dengan positif. Tuhan menginginkan kita bukan sekedar mempunyai sikap positif melainkan juga mempunyai produktivitas. Hidup haruslah produktif, harus ada hasil yang kita bawa, harus ada buah-buah yang kita persembahkan kepada Tuhan dan buah-buah itu yang disukai Tuhan bukan yang saya sukai!

                                                                                                                                           Y.K.

Leave a comment