Menanti dengan Aktif

IMG-20201206-WA0000

2 Petrus 3:8-15 & Markus 1:1-8

“Kapan ya pandemi ini selesai?”, sadar atau tidak kalimat ini sering terucap dalam percakapan yang kita lakukan. Entah ketika kita berbicara dengan orangtua, anak, saudara, teman ataupun rekan kerja, kalimat ini bisa ‘terdengar’ di tengah percakapan. Kita semua memang ada dalam masa menanti. Menanti kapan pandemi ini akan selesai. Apakah pandemi ini akan selesai? Iya. Tetapi kapan waktunya, tidak ada yang tahu. Dalam masa penantian ini semua orang memiliki kebebasan untuk mengisinya dengan kegiatan apapun. Mungkin ada yang mengisi waktu menanti pandemi berakhir dengan bermain tiktok, nonton drakor, mengasah kemampuan di bidang memasak, atau mungkin ada yang ikut kursus bahasa, bersepeda,  istirahat atau santai, dll. Setiap orang memiliki kebebasan dalam menentukan caranya mengisi masa menanti ini. Namun, satu hal yang perlu disadari bahwa pilihan kita akan menentukan masa menanti ini menjadi sesuatu yang bermakna dan menyenangkan atau justru membosankan.

Hal yang sama berlaku juga ketika bicara tentang Adven. Adven adalah masa penantian, menanti kedatangan Yesus di dunia melalui kelahiran-Nya (kedatangan-Nya di masa lalu) dan menanti kedatangan-Nya kembali. Itu sebabnya seruan kita di minggu Adven ini adalah Maranatha (Datanglah ya Tuhan!). Dalam minggu Adven kedua, pesan yang ditekankan adalah tentang kesetiaan dan cinta dalam mempersiapkan jalan bagi kedatangan Tuhan Yesus. Kita akan belajar dari Yohanes Pembaptis.

Nubuat akan pemberitaan keselamatan dan pemulihan dari Allah yang dinubuatkan oleh Nabi Yesaya, digenapi dalam diri Yohanes Pembaptis. Yohanes Pembaptis tidak berseru-seru atau berkotbah di daerah pemukiman, seperti kota dan desa di Galilea atau Yudea. Ia justru berseru-seru di padang gurun agar orang Yahudi dan juga kita saat ini mempersiapkan jalan bagi Tuhan serta bertobat dan memberi diri dibaptis. Di sini kita melihat bahwa seruan untuk mempersiapkan jalan bagi Tuhan dilanjutkan dengan seruan untuk bertobat. Artinya mempersiapkan jalan bagi Tuhan dilakukan dengan cara bertobat dan kembali dari segala yang jahat.

Seruan Yohanes Pembaptis ini sejalan dengan nasehat Petrus dalam 2 Petrus 3:8-15. Petrus mengatakan bahwa dalam menantikan langit yang baru dan bumi yang baru, orang percaya harus bertindak aktif dalam menantikan janji tersebut. Tindakan aktif seperti apa yang dimaksudkan oleh Petrus dalam menantikan kedatangan Tuhan? Perhatikan di ayat 9-11, yaitu dengan hidup kudus, bertobat dan berbalik kepada Allah.

Bertobat dalam bahasa Yunani (metanoia) memiliki arti perubahan pola pikir, akal budi, hati dan cara hidup. Dalam KBBI, bertobat artinya secara aktif berusaha memperbaiki perbuatannya ke arah yang lebih baik. Maka baik Yohanes maupun Petrus, keduanya mengajak kita untuk berusaha secara nyata, terus-menerus, setiap hari berusaha untuk semakin baik dalam melakukan perintah dan ketetapan Tuhan. Jadi, bertobat itu tidak hanya sekedar berhenti melakukan segala hal yang jahat, melainkan ada sebuah tindakan aktif berubah menjadi seperti yang dikehendaki oleh Tuhan. Seperti yang dicontohkan oleh Zakheus. Ketika mengalami perjumpaan dengan Tuhan, hidupnya berubah. Zakheus bertindak dan mengatakan kepada Tuhan bahwa ia akan memberikan setengah miliknya bagi orang miskin dan jika ada yang diperas akan ia kembalikan empat kali lipat. Inilah suatu bentuk pertobatan yang serius dan nyata.

Salah satu kendala untuk bisa hidup dalam pertobatan adalah sikap pembenaran diri sendiri. Kalimat yang sering muncul untuk membenarkan diri seperti: “sekali-sekali, yang lain juga sama” membuat kita enggan untuk hidup dalam pertobatan. Kendala lainnya adalah ketika dengan mudahnya kita menghakimi orang lain berdasarkan firman yang kita dengar. Kalimat yang biasanya muncul misalnya, “coba orang itu datang, pasti kena banget tuh sama firman hari ini”. Padahal firman itu disampaikan kepada semua orang untuk memeriksa diri dan bertobat. Coba bayangkan jika semua orang melihat firman itu untuk orang lain dan bukan untuk dirinya, maka kepada siapakah firman itu berbicara? Semoga kita mau merendahkan hati, membuka diri untuk diajar dan dikoreksi oleh firman-Nya. Mari kita menantikan kedatangan Tuhan dengan pertobatan setiap hari. Ingatlah bahwa kesabaran Tuhan yang dinyatakan kepada kita merupakan kesempatan bagi kita untuk beroleh selamat. Ia mau agar jangan ada yang binasa. Bertobatlah dan nantikanlah kedatangan-Nya. Tuhan menolong kita.

DRS

Leave a comment