Memperbarui Diri Setiap Hari

Quote-02Mar2020

Yohanes 3:1-17

Pendeta Eka Darmaputera memberi refleksi positif atas ketelanjangan manusia di Taman Eden. Ketelanjangan Adam dan Hawa adalah simbol keterbukaan satu sama lain. Mereka hidup tanpa “tedeng aling-aling”. Di antara mereka tidak ada yang ditutup-tutupi. Adam menerima Hawa apa adanya. Hawa pun mengasihi Adam sepenuh hatinya. Dalam pengertian ini, manusia benar-benar menampilkan diri secara otentik dan menerima kehadiran sesamanya secara tulus dan terbuka.

Akan tetapi, kejatuhan ke dalam dosa telah menghilangkan keterbukaan itu. Pakaian yang membalut tubuh menjadi simbol penghalang antara manusia dengan sesamanya. Menurut filsuf Mircea Eliade, sejak jatuh ke dalam dosa, manusia membutuhkan “topeng” untuk menutupi egonya. Topeng itu bisa berupa tata krama, sopan santun dan perilaku sehari-hari yang hanya sekadar formalitas. Dalam beragama, peribadahan juga bisa jadi sekadar ekspresi verbal (kata-kata manis dan indah), ornamental (sebatas simbol/dekorasi) maupun seremonial (tradisi atau ritual) belaka.

Nikodemus adalah pemuka agama yang terkenal di Israel. Ia berasal dari kalangan Farisi, kelompok ulama yang paling kuat menjaga tradisi dan hukum Taurat. Nikodemus juga merupakan salah satu dari 70 anggota Sanhedrin, mahkamah agama pemegang otoritas hukum tertinggi saat itu. Suatu malam, ia datang seorang diri untuk bercakap-cakap dengan Tuhan Yesus. Ia memanggil Tuhan Yesus sebagai “guru” dan “orang yang disertai oleh Allah” (ay 2).

Meski sudah lama menjadi pemuka agama dan “pengajar Israel”, Nikodemus masih perlu belajar banyak tentang Allah dan jalan keselamatan. Selama ini, Nikodemus sibuk memelajari Hukum Taurat, memegang tradisi dan menjaga adat istiadat. Tetapi, ia gagal memahami Allah dan rencana-Nya melalui Yesus Kristus. Nikodemus menganggap Yesus hanya sebagai Rabi, bukan Juruselamat. Nikodemus menganggap Yesus hanya orang yang disertai Allah, bukan Allah yang menjadi manusia. Ketika Kristus mengajarkan pentingnya “dilahirkan kembali” agar dapat melihat Kerajaan Allah (karya keselamatan Allah melalui Yesus Kristus), Nikodemus menjadi bingung. Ia bertanya: “Dapatkan ia (orang yang sudah tua) masuk kembali ke dalam rahim ibunya dan dilahirkan lagi?” Nikodemus berpikir sangat harafiah. Padahal, kelahiran kembali “dari air dan Roh” menunjuk pada baptisan air dan baptisan Roh yang menuntun kepada keberimanan baru dalam Yesus Kristus.

Yesus Kristus adalah satu-satunya orang yang telah turun dari sorga dan kembali naik ke sorga (ay 13). Beriman kepada-Nya adalah kunci kelahiran baru dan keselamatan yang sejati. Ayat 15-17 menegaskan bahwa iman kepada Kristus akan menghantar manusia pada hidup yang sepenuhnya baru. Jika selama ini manusia hidup menurut hukum duniawi, Kristus menghantar manusia pada anugerah Allah. Jika selama ini manusia dibayangi hukuman karena hukum Taurat, Kristus menghantar manusia pada kasih dan berkat sorgawi. Jika selama ini manusia sibuk dengan tradisi dan adat jasmani, Kristus menghantar manusia pada keintiman rohani dengan Allah. Jika selama ini manusia hanya mengejar selamat duniawi, Kristus memberi keselamatan yang kekal. Dalam hal-hal inilah Nikodemus perlu memperbarui dirinya.

Percakapan Tuhan Yesus dan Nikodemus memberikan kita kesadaran baru bahwa kekristenan pertama-tama bukan soal denominasi gereja, aliran teologi, jabatan gerejawi, status sosial, tradisi ataupun kesalehan diri yang sempit. Kekristenan terutama bukan soal simbol, ornamen, dekorasi, seremoni atau program gerejawi. Jabatan dan tradisi tidak menjamin kedewasaan iman kepada Kristus. Banyaknya program dan aktivitas gerejawi tidak menjamin keintiman hati dengan Kristus.

Kekristenan adalah soal relasi personal dengan Tuhan Yesus. Kekristenan berbicara tentang keintiman dengan Kristus. Keserupaan dengan-Nya adalah mutlak. Itu sebabnya, kita harus terus memperbarui diri agar makin mengikuti karakter dan nilai-nilai hidup Kristus. Jadi, biarlah keanggotaan kita pada gereja sungguh mewujudkan persekutuan kita dengan Tuhan Yesus. Pelayanan kita pada sesama menjadi persembahan hidup kita kepada Kristus. Kita menghayati diri sebagai hamba Kristus, sehingga seluruh perilaku kita mewakili sikap dan kasih Kristus. Kita menjadi kitab yang terbuka untuk dibaca setiap saat. Dengan begitu, hidup beragama kita bukan lagi sekadar simbol dan seremoni, melainkan kesatuan yang penuh dengan Allah di dalam Yesus Kristus. Amin!

                                                                                                            MM

Leave a comment