Membuka Isolasi, Menjalin Relasi

woman-at-the-well

(Yohanes 4:5-42)

Wabah virus corona (Covid-19) yang bermula dari kota Wuhan, Tiongkok, telah menjangkiti banyak sekali orang. Virus ini telah menyebar lintas negara dan benua serta menimbulkan kepanikan global. Tidak hanya itu, wabah ini juga telah memicu maraknya xenophobia di antara orang-orang yang kurang teredukasi. Xenophobia adalah kebencian atau prasangka buruk terhadap orang-orang dari negara atau ras tertentu. Dalam kasus virus corona, orang-orang Asia (khususnya negara Tiongkok atau ras Tionghoa) kerap menjadi sasaran sikap rasisme ini. Mereka dicurigai terjangkit dan membawa virus ini kemana-mana. Contoh kasus terjadi pada seorang mahasiswa asal Singapura yang sedang studi di London, Inggris. Ia di-bully dan dianiaya dengan cara dipukul dan ditendang seraya diteriaki: “Aku tak mau virus coronamu ada di negaraku”.

Maraknya xenophobia dan rasisme akibat virus corona ini telah mendorong banyak komunitas untuk makin giat mengampanyekan kesetaraan HAM di berbagai negara. Di Amerika Serikat misalnya, terdapat komunitas Guardian Angles yang turun ke jalan-jalan untuk melindungi siapapun yang mengalami diskriminasi. Mereka berkeliling untuk membantu orang-orang yang rentan menjadi target hate crime dan xenophobia. Jika terjadi diskriminasi atau kekerasan, mereka akan membela korban, bahkan melaporkan pelaku kepada polisi.

Pada zaman Tuhan Yesus, xenophobia dan rasisme juga merupakan isu besar. Pasalnya, orang-orang Yahudi merasa sangat superior atas bangsa dan ras mereka. Bangsa dan ras lain dianggap musuh dan ancaman. Sikap ini ditunjukkan dengan adanya larangan keras bagi orang Yahudi untuk bergaul atau masuk ke rumah orang bukan Yahudi (Kis 10:28). Larangan yang sama juga ternyata berlaku bagi orang-orang Samaria, yakni orang-orang Yahudi yang telah mengalami percampuran dalam perkawinan dan budaya akibat penjajahan yang mereka alami. Orang Yahudi Yerusalem tidak menganggap orang Yahudi Samaria sebagai bagian diri mereka. Dampaknya, orang Yahudi Yerusalem tidak akan sudi berkunjung ke wilayah Samaria. Orang Yahudi Samaria juga tidak diberi akses memasuki Yerusalem atau beribadah di Bait Suci. Inilah yang mendesak orang Yahudi Samaria membangun tempat ibadah sendiri di Samaria, tepatnya di Gunung Gerizim.

Ternyata, sikap Tuhan Yesus berbeda dengan eksklusivisme orang Yahudi. Yoh 4:4 mencatat, “Ia harus melintasi daerah Samaria”. Jika menuju Galilea, orang Yerusalem akan mengambil jalur memutar untuk menghindari daerah Samaria. Demikian pula saat orang Galilea pergi ke Yerusalem. Akan tetapi, Tuhan Yesus “harus” memasuki Samaria. Kata “harus” di sini menunjukkan pilihan sengaja dan desakan hati untuk segera mengunjungi orang Samaria. Sesampainya di Samaria, Tuhan Yesus lalu menemui seorang perempuan yang sedang menimba air di sebuah sumur. Lihat, Tuhan Yesus berbicara dengan seorang perempuan dari ras Samaria yang kerap dicap kafir. Semua ini menegaskan bahwa dalam diri Kristus tidak sedikitpun tumbuh sikap xenophobia atau rasisme terhadap bangsa atau ras lain manapun.

Kehadiran Tuhan Yesus di Samaria ini menjadi contoh teladan pentingnya mendobrak sekat-sekat yang menghalangi persekutuan antar umat manusia. Semua sekat yang memicu permusuhan antar ras dan bangsa harus dibongkar. Sebagai gantinya, relasi yang terbuka dan setara harus dijalin. Saat menemui perempuan Samaria itu, Tuhan Yesus sengaja berkata: “Berilah Aku minum” (ay 7). Bayangkan, Sang Sumber Air Hidup meminta minum kepada seorang perempuan lemah. Di sini, Kristus berusaha menempatkan diri sejajar dengan sang perempuan, yakni sama-sama memiliki kebutuhan, kelemahan dan keterbatasan. Dengan begitu terciptalah kesetaraan dan sikap saling membutuhkan di antara mereka. Tuhan Yesus butuh bantuan sang perempuan untuk mendapatkan air. Sang perempuan butuh Tuhan Yesus untuk meraih Air Kehidupan. Dengan begitu, terbukalah dialog yang positif dan tulus di antara keduanya.

Kepada perempuan itu, Tuhan Yesus berkata: “Saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran, sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian.” (ay 23). Dasar penyembahan kepada Allah adalah roh dan kebenaran. Penyembahan itu tidak dibatasi oleh suku, bangsa atau ruang tertentu. Siapapun terbuka untuk mengenal dan beribadah kepada Allah. Di manapun orang bisa menyembah Dia. Itulah kasih Allah yang kita kenal di dalam Tuhan Yesus. Kasih-Nya melampaui batas wilayah, ras, budaya, bahkan agama.

Untuk itu, marilah kita terus menyadari bahwa Allah menghendaki kita hidup berdampingan dengan damai dan penuh kasih pada semua orang. Dasari relasi kita pada kasih Kristus. Terima dan kasihi semua orang. Jangan curiga atau berprasangka buruk pada orang lain. Jangan membeda-bedakan orang (bersikap diskriminatif) menurut suku, bangsa atau agamanya. Tuhan mengasihi kita semua. Khususnya di tengah maraknya isu dan fakta virus corona, tumbuhkanlah belas kasihan kepada semua orang. Doakanlah mereka yang sakit. Berbagilah dengan mereka yang membutuhkan. Hiburlah mereka yang kuatir, takut dan bersedih. Bangun harapan baik bahwa wabah ini pasti akan kita lalui bersama-sama. Melalui peristiwa ini, mari kita buktikan bahwa semua kita bersaudara di dalam Tuhan! Tuhan Memberkati!

                                                                                                MM

Leave a comment