“Membenci Dosa, Mengasihi Pendosa”

Quote-04Nop2019

(Lukas 19:1-10)

Pengantar

Ketika berhadapan dengan orang bersalah, kehidupan di dunia nyata bisa terlihat begitu ganas. Belum lama ini, seorang warga di lingkungan penulis bercerita tentang seorang maling yang bernasib malang. Maling tersebut disergap warga ketika sedang beraksi. Setelah tertangkap, ia lalu diarak di depan orang banyak. Orang-orang kompak mengutuki si maling. Beberapa orang meluapkan amarahnya dengan memukul kepala, menampar pipi dan menendang tubuh si maling. Karena massa makin ganas, warga memutuskan untuk memanggil ketua RW. Setibanya ketua RW, alih-alih menenangkan, ia malah menabrak perut si maling sebanyak 2 kali.

Kehidupan di dunia nyata tidak jauh berbeda dengan kehidupan di dunia maya. Maraknya penggunaan media sosial telah mempercepat penyebaran suatu kejadian. Kita pasti sering mendengar atau membaca kata “Viral”, “Viralkan”, “Ayo bantu viralkan, biar…” Kata-kata ini biasanya disertai foto atau video kejadian tertentu. Foto atau video yang ingin diviralkan tersebut umumnya merupakan peristiwa buruk atau kejahatan oleh orang lain. Kejahatan itu direkam dan disebarluaskan agar pelaku ditangkap dan dihukum. Atau setidaknya, masyarakat bisa memberikan sanksi sosial berupa komentar penuh kemarahan, menghakimi dan turut mengutuk pelaku kejahatan. Semakin viral berarti semakin heboh kejadian itu, semakin hebat kebencian massa dan semakin banyak kutukan bagi si pelaku.

Sebagai orang Kristen, bagaimana seharusnya kita bersikap dan bertindak ketika bertemu dengan orang berdosa atau pelaku kejahatan? Ketika Tuhan Yesus melintasi kota Yerikho, banyak orang berdesakan ingin melihat-Nya, termasuk seorang pria bernama Zakheus. Zakheus adalah orang Yahudi yang ditunjuk menjadi kepala pemungut cukai atau kepala sebuah kantor pajak. Sebagai kepala petugas pajak, Zakheus tentu memiliki anak-anak buah yang membantunya memungut pajak. Ia adalah kaki tangan pemerintah yang dilindungi. Itu sebabnya, kebanyakan orang tidak berkutik ketika ditagih pajak oleh Zakheus dan anak buahnya. Kenyataan ini jugalah yang membuat tidak disukai masyarakat. Ia dianggap lebih berpihak kepada pemerintah atau penjajah daripada kepada rakyat. Ia dicap sebagai orang berdosa dan makan uang “haram” yang dipungut secara paksa.

Meski menerima cap buruk dari masyarakat, Zakheus ternyata menaruh hati kepada Tuhan Yesus. Selama ini ia hanya mendengar saja tentang Dia. Zakheus ingin melihat sosok Tuhan Yesus secara langsung. Akan tetapi, tubuh Zakheus terlalu pendek di atara kerumunan massa. Namun, ia tidak menyerah. Ia lalu mendahului massa, menaiki sebuah pohon di tepi jalan dan menunggu Tuhan Yesus lewat di depannya. Di luar dugaan, Tuhan Yesus ternyata malah menghampiri Zakheus dan berkata bahwa Ia “harus” menumpang di rumahnya. Kata “harus” di sini menegaskan bahwa Tuhan Yesus sejak awal sudah memilih dan membulatkan hati untuk masuk ke rumah Zakheus dan makan bersama-sama dengannya dan keluarganya.

Pada umumnya, orang sangat menghindari Zakheus. Meskipun Zakheus kaya, namun dirinya lebih banyak dicibir dan dibenci orang. Perasaan itu terungkap dalam ayat 7, “semua orang yang melihat hal itu bersungut-sungut, katanya: “Ia menumpang di rumah orang berdosa”. Akan tetapi, Tuhan Yesus bersikap lain. Ia justru memilih Zakheus dan rumahnya di antara ratusan rumah lain di Yerikho. Ia memutuskan untuk tidur dan makan bersama orang berdosa daripada bersama orang saleh di kota itu. Mengapa demikian? Tuhan Yesus mengungkapkan alasan-Nya: “Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang” (ay 10).

Bagi Tuhan Yesus, Zakheus memang orang berdosa, banyak merampas milik orang dan lebih berpihak kepada pemerintah yang lalim. Akan tetapi, bagaimanapun, ia tetaplah keturunan Abraham. Dirinya tidak boleh dilupakan dan disia-siakan. Orang seperti Zakheus seharusnya dirangkul, bukan disingkirkan. Orang berdosa seharusnya didampingi, bukan diabaikan, supaya mereka dapat kembali ke jalan yang benar. Mereka harus dibantu dan dikuatkan agar bisa melepas dan meninggalkan jerat-jerat dosa mereka.

Lihatlah Zakheus, meski sudah banyak berbuat dosa, hatinya ternyata masih lembut. Perjumpaannya dengan Tuhan Yesus itu begitu berkesan. Kasih Tuhan Yesus meluluhkan jiwanya. Ia berjanji untuk berubah. Ia akan memberikan setengah dari hartanya kepada orang-orang miskin. Ia akan mengembalikan 4 kali lipat setiap barang yang dirampasnya dari orang lain. Zakheus memperlihatkan pertobatan. Anugerah keselamatan tercurah atasnya dan atas seisi rumahnya.

Pertanyaan Diskusi

  1. Mengapa Zakheus begitu ingin bertemu Tuhan Yesus dan begitu bersemangat menyambut Tuhan Yesus di rumahnya?
  2. Bagaimana Saudara memahami ayat 9 di atas? Pertobatan seperti apakah yang Tuhan inginkan sehingga mendatangkan keselamatan yang daripada Allah?

Pertanyaan Sharing

  • Pernahkah Saudara melihat orang yang (dianggap) sangat jahat bertobat dan kembali ke jalan yang benar? Bagikanlah pengalamannya bagaimana ia bisa bertobat!
  • Mengapa kebanyakan orang begitu mudah membenci dosa sekaligus juga membenci orang yang berbuat dosa?
  • Apa yang harus kita lakukan agar bisa membenci dosa, tetapi tetap mengasihi orang yang berbuat dosa? Bagaimana caranya kita menyatakan kasih kepada orang yang berbuat dosa?

                                                                                                                  MM

Leave a comment