Mematut Diri Menyambut Sang Terang

Quote-09Des2019

Yesaya 11:1-10; Mazmur 72:1-7; Roma 15:4-13; Matius 3:1-12

Mematut berasal dari kata “PATUT”. Dalam Kamus Bahasa Indonesia, kata “Mematut” berarti “Mengatur supaya baik” atau “Memperbaiki”. Contoh: “Ia mematut kata yang kurang tepat pemakaiannya”, artinya “Ia memperbaiki kata yang kurang tepat pemakaiannya”.

Memasuki Minggu Advent II ini, melalui bacaan Alkitab, umat diajak untuk mematut atau memperbaiki diri dalam menyambut Sang Terang. Melalui pemberitaan firman Yohanes Pembaptis mengajak umat untuk mempersiapkan diri atau memperbaiki diri menyambut natal dan kedatangan Yesus kedua kalinya – menyambut Sang Terang.

  1. Yohanes Pembaptis memberitakan Pertobatan. Pertobatan dapat diartikan sebagai “Perubahan akal budi”. Inilah salah satu hal yang sangat ditekankan oleh Yohanes Pembaptis dalam pewartaannya, yaitu agar umat Allah merenungkan ulang orientasi utama dari pikiran mereka. Perubahan akal budi menuntun orang untuk menjalani hidup yang tidak berpusat pada diri sendiri – baik itu kesuksesan materiil, pengakuan dari orang lain – , tetapi pada Allah. Pikiran yang telah diubah akan menghantar seseorang kepada perubahan hati. Bagi orang Ibrani, “hati” adalah pusat dari segala pertimbangan manusia. Demikianlah  kehidupan yang beriman yang otentik selalu dimulai dari perubahan dari dalam hati, yang kemudian terpancar keluar dari diri.  Hal ini tergambar dalam Matius 3:6, “Lalu sambil mengaku dosanya mereka dibaptis oleh Yohanes Pembaptis di sungai Yordan.” Dengan kata lain, tanpa pengakuan dosa secara tulus dari dalam hati, baptisan air itu tidak akan berarti apa-apa selain sebuah simbolisme yang kosong.
  1. Yohanes Pembaptis memberitakan Perubahan Hidup. Perubahan pikiran dan hati tentu bermuara pada perubahan tingkah laku. Itu sebabnya Yohanes Pembaptis berseru, “Hasilkanlah buah yang sesuai dengan pertobatan.” (Matius 3:8). Pada masa kini, tidak sedikit orang yang mengaku diri “rohani atau beragama”, tetapi pada kenyataannya hidup mereka bercela dan penuh kemunafikan. Seperti itulah orang Farisi dan Saduki, yang merupakan dua kelompok pemimpin dalam masyarakat Yahudi. Secara jumlah, orang Farisi lebih banyak dan populer dalam masyarakat Yahudi. Mereka dianggap sebagai orang-orang saleh yang terhormat, sangat ketat melaksanakan hukum Taurat dan tradisi-tradisi Yahudi. Karena itu, akhirnya mereka terjebak dalam legalisme, formalitas agama, dan kemunafikan. Berbeda dengan orang Saduki yang lebih terbuka (liberal) dalam menjalankan tradisi Yahudi. Mereka hanya percaya pada lima kitab Musa saja. Mereka menolak konsep agama tentang kebangkitan, penghakiman terakhir, roh dan malaikat. Soal gaya hidup, orang Saduki lebih duniawi, bergaya hidup mewah, dan mengejar kekuasaan. Mereka termasuk kalangan yang dihormati dalam masyarakat Yahudi karena jabatan dan kekuasaan mereka. Yohanes Pembaptis menyebut kedua kelompok ini dengan sebutan “keturunan ular beludak” (Matius 3:7). Mereka meracuni pikiran rakyat Yahudi dengan keyakinan bahwa mereka dapat lolos dari murka Allah sebab mereka keturunan Abraham yang dilindungi oleh sistem dan aktivitas keagamaan yang mereka jalani (Matius 3:7, 9). Karena itu, Yohanes Pembaptis berseru-seru agar mereka bertobat dan menghasilkan buah sesuai dengan pertobatannya (Matius 3:8). Tanda lahiriah dari pertobatan adalah dibaptis dengan air. Sedangkan tanda batiniahnya adalah dibaptis dengan Roh Kudus (Matius 3:11). Apabila tidak segera bertobat, mereka akan menghadapi penghakiman Allah, yang digambarkan dengan kapak dan alat penampi (Matius 3:10, 12).

Memasuki Minggu Advent II,  dalam menyambut Natal dan Kedatangan Sang Terang kembali, kita perlu bertanya. “Adakah perilaku kita menjadi bukti nyata pertumbuhan atau kemerosotan rohani? Ataukah identitas keagamaan kita hanya sebatas aktivitas agama yang belum sungguh-sungguh mengalami pertobatan.” Pada momen ini, hendaknya kita mematut diri/memperbaiki diri dan kerohanian kita menyambut Sang Terang.

BW

Leave a comment