Memandang Seperti Yesus

5 apr

Matius 27:11-26

Kita pernah mengalami apa yang disebut dengan salah paham. Berawal dari kesalahpahaman dalam komunikasi membuat kita akhirnya gagal untuk memahami. Efek dari kesalahapahaman adalah tindakan responsif, emosi dan kemarahan yang ditujukan kepada orang lain. Hal ini terjadi seperti contoh berikut ini.

Para imam dan Tua-tua Yahudi adalah orang-orang yang sangat dihormati oleh orang-orang Yahudi dan mereka mempunyai pengaruh yang sangat besar – karena itu mereka mampu menghasut orang banyak. Mereka adalah orang-orang yang sangat paham dengan hukum-hukum agama Yahudi. Namun mereka gagal  memahami pribadi Yesus melalui pengajaran-pengajaran dan karya-karyaNya yang mereka dengar dan lihat selama ini. Kesalahpahaman ini membuat mereka bertindak responsif penuh dengan kedengkian – menangkap Yesus dan menghadapkanNya ke pengadilan agama Yahudi, menghadirkan saksi-saksi palsu untuk membuat tuduhan  bahwa Yesus bersalah – telah menghujat Allah, menista agama, melecehkan penguasa,  dan akhirnya memilih memutuskan Yesus dihukum mati – disalibkan, dan membebaskan Barabas.

Begitu juga dengan orang-orang Yahudi. Sebagaian besar orang-orang Yahudi pernah melihat sosok Tuhan Yesus, baik dalam ajaranNya maupun tindakan-tindakanNya. Bahkan diantara mereka pasti juga pernah mengalami kebaikan Tuhan Yesus. Makanya tidak heran diantara mereka banyak yang takjub dengan apa yang dilakukan oleh Tuhan Yesus, sampai-sampai mereka berkata, “Yang begini belum pernah kita lihat”(Markus 2:12). Namun kemudian mereka terhasut oleh kata-kata Para Imam dan Tua-tua Yahudi, sehingga mereka mengabaikan fakta-fakta yang pernah mereka lihat dengan mata kepala mereka sendiri tentang Tuhan Yesus. Perkataan para iman dan tua-tua Yahudi membentuk gambaran yang kuat dalam pikiran mereka tentang siapa Yesus. Mereka gagal memahami siapa Yesus. Itulah sebabnya mereka memilih Barabas dibebaskan dan Yesus harus dihukum mati – disalibkan (Matius 27:20-22).

Bagaimana dengan Pilatus? Secara hukum jabatannya sebagai gubernur, Pilatus mempunyai kuasa untuk membebaskan Yesus dari tuntutan hukuman mati. Pula, Pilatus menegaskan berulang kali bahwa ia tidak menemukan kesalahan apapun pada diri Yesus (Lukas 23:4).  Namun jika Pilatus memilih Yesus untuk dibebaskan, itu berarti ancaman bagi jabatannya sebagai gubernur. Maka sekalipun ia punya gambaran yang baik tentang siapa Yesus, bagi Pilatus memilih membebaskan Yesus bisa menjadi sebuah ancaman yang merugikan dirinya. Akhirnya Pilatus memilih membebaskan Barabas dan membiarkan Yesus disalibkan.

Mereka, para imam, tua-tua Yahudi, orang-orang Yahudi dan Pilatus memandang Yesus hanya sebagai seorang yang menista agama, melecehkan agama, pengajar agama yang menakjubkan, pembuat mujizat yang hebat dan seorang yang baik, tidak bersalah secara hukum. Mereka semua gagal memahami siapa Yesus sesungguhnya.  Apakah kita juga demikian? Dalam Minggu Pra-Paskah 6 ini, mari kita mengintrospeksi diri dengan pertanyaan “Siapakah Yesus bagi kita?”

Pertanyaan Diskusi:

  1. Apakah saudara pernah mengalami peristiwa “salah paham”? coba ceritakan! Bagaimana respon/reaksi saudara atas kesalahpahaman tersebut? Mengapa demikian?
  2. Menurut saudara, bagaimana bisa para imam, tua-tua Yahudi dan orang-orang Yahudi serta Pilatus gagal memahami Yesus? Apa dampaknya atas gagal paham tersebut? Apakah saudara pernah gagal memahami Yesus? Coba ceritakan!
  3. Menurut saudara, bagaimana caranya agar kita dapat memahami Yesus dengan benar?

 

 

YKD

Leave a comment