Memandang Dengan Sebelah Mata

Quote-14Okt2019

2 Raja-raja 5:1-3; 7-15 & Lukas 17:11-19

Beberapa tahun belakangan ini kuliner pedas sedang jadi primadona di Indonesia. Mulai dari mie ayam, bakso, mie instan, kerupuk, kripik, seblak, ceker, martabak, ayam geprek, semua memiliki varian pedas disertai dengan level/tingkat kepedesannya. Bicara tentang rasa pedas kita tidak bisa memisahkan diri dari salah satu jenis cabai pedas di Indonesia, yaitu cabe rawit. Sekalipun bentuknya paling kecil dibandingkan cabai lainnya, namun ia memiliki tingkat kepedasan (SHU) yang lebih tinggi. Seperti lirik sebuah lagu, ‘kecil-kecil si cabai rawit, biar kecil tetapi pedas.’ Ketika kita terbiasa untuk menilai atau menyepelekan sesuatu berdasarkan penampilannya semata, sepenggal uraian tentang cabai rawit mengingatkan kita untuk tidak melakukannya. Dalam bahasa Inggris kita mengenalnya dengan ungkapan don’t judge the book by it’s cover. Jangan menilai atau menyepelekan sesuatu hanya dari penampilannya semata.

Sejalan dengan uraian di atas, Firman Tuhan hari ini juga menyampaikan pesan yang sama. Dalam perjalanan ke Yerusalem, Yesus melewati perbatasan antara Samaria dan Galilea. Pada saat itu datanglah 10 orang kusta menemui Dia dan meminta belas kasihan kepada-Nya. Kesepuluh orang kusta itu disuruh untuk memperlihatkan dirinya kepada para imam. Imam-lah yang berperan untuk menyatakan seseorang tahir atau najis. Di tengah jalan ketika mereka hendak menemui para imam, mereka tahir (sembuh). Kesepuluh orang kusta itu sembuh, tetapi hanya 1 orang yang kembali sambil memuliakan Allah, tersungkur di hadapan Tuhan dan mengucap syukur kepada-Nya. Orang itu adalah orang Samaria. Melihat hal ini Yesus berkata, “tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain dari pada orang asing ini?”. Tuhan Yesus tidak bermaksud merendahkan orang Samaria dengan menyebutnya orang asing. Ia justru hendak menegaskan bahwa ‘orang asing’ yang selama ini dipandang sebelah mata oleh orang Yahudi justru hanya dia yang datang dan memuliakan Allah. Perbuatan orang Samaria ini merupakan tindakan iman. Itu sebabnya Tuhan berkata, “berdirilah dan pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau.” Melalui pernyataan-Nya, Tuhan hendak menempatkan orang Samaria sebagai teladan iman dan mengubah kebiasaan buruk orang Yahudi yang memandang sebelah mata kepada mereka. Di dalam Tuhan, orang yang dianggap remeh dan direndahkan justru ditempatkan sebagai teladan iman bagi orang yang menganggap dirinya lebih baik dan terhormat.

Pesan yang sama dapat kita temui dalam kisah Naaman, seorang panglima raja Aram yang sembuh dari sakit kustanya. Pada awalnya ia menganggap remeh cara yang dianjurkan Elisa karena terlalu sederhana. Untungnya ada seorang pegawai yang berhasil membujuknya untuk melakukan hal sederhana itu dan akhirnya ia sembuh. Hal yang menarik dari kisah ini selain cara Tuhan menyembuhkannya adalah juga tentang peran penting seorang anak perempuan. Anak perempuan itu bekerja di rumah Naaman. Dia bukan orang terpandang, tidak ada yang menganggapnya penting dan namanya juga tidak disebutkan. Sekalipun begitu, Tuhan memberinya peranan penting. Melaluinya istri Naaman mengetahui tentang Elisa dan memberitahukannya kepada Naaman. Dalam karya Tuhan yang besar, terhadap orang besar (Naaman), melalui nabi besar (Elisa), Tuhan berkenan melibatkan seorang anak perempuan sederhana itu. Tuhan dapat melibatkan orang yang paling sederhana sekalipun. Ia berkenan melibatkan orang yang seringkali dipandang sebelah mata, orang-orang yang tak terduga untuk menyatakan kasih-Nya dan melaksanakan rencana-Nya yang mulia.

Kedua kisah ini membawa kita untuk memeriksa 2 hal, yaitu:

  1. Apakah kita kerapkali berpikir, ‘saya tidak mampu melakukan apa-apa; saya hanya punya kemampuan yang kecil; saya bukan siapa-siapa’ dan pikiran ini membelenggu dan membuat kita ragu untuk terlibat dalam karya Tuhan? Kita berpusat pada kelemahan dan keterbatasan yang membuat kita enggan untuk terlibat melayani-Nya. Setiap orang tentu memiliki kelemahan dan keterbatasannya masing-masing. Itu sebabnya kita perlu untuk terus memperbaiki diri dan meningkatkan kapasitas kita. Pada saat yang sama, tidak perlu menunggu menjadi manusia sempurna lebih dulu untuk terlibat dalam karya Tuhan. Hal yang perlu kita lakukan adalah membuka hati dan menyediakan diri untuk dipakai oleh-Nya sesuai ‘porsi’ yang ditentukan-Nya. Ingatlah bahwa tidak ada suatu kemampuan yang terlalu kecil untuk melakukan karya-Nya. Tidak ada hal yang terlalu kecil untuk dipersembahkan dihadapan Tuhan. Ia memanggil kita semua untuk terlibat dalam karya-Nya.
  2. Tuhan mengajar kita untuk tidak meremehkan siapapun dengan alasan apapun. Tuhan bisa memakai siapa saja untuk terlibat dalam karya-Nya. Mari kita periksa sikap dan cara pandang kita terhadap sesama. Apakah ada orang yang selama ini kita pandang sebelah mata, entah karena status ekonomi, usia, tingkat pendidikan, pengalamannya? Berbalik, bertobatlah dari keangkuhan itu sebab Tuhan bisa memakai orang yang paling rendah sekalipun untuk menyatakan kasih dan rencana-Nya. Inilah arti keramahan yang sesungguhnya. Ramah bukan soal salam, senyum, sapa. Ramah itu tentang memberi ruang yang sama besar bagi setiap orang.

Setiap kali lihat cabai rawit, ingatlah untuk tidak menyepelekan dan menilai orang dari luarnya saja. Ingatlah Tuhan bisa memakai semua orang untuk menyatakan kasih dan rencana-Nya. Perlakukanlah sesama dengan cara yang sama dengan yang kita mau diperlakukan dan yang berkenan dihadapan Tuhan. Tuhan menguatkan dan memampukan kita. Amin.

DRS

Leave a comment