Memaknai Pengharapan

ig_post_29_mar

(Yohanes 11:1-45)

Menjalani hidup di tengah kesukaran memang bukanlah perkara mudah. Terkadang, berbagai pemikiran negatif bisa muncul dan memberikan tekanan berat. Dalam menghadapi jangkitan virus corona (covid-19) misalnya, muncul pemberitaan tentang orang-orang yang menggunakan obat-obat keras tanpa lagi melalui anjuran dan penanganan dokter. Akibatnya, banyak orang mengalami overdosis, bahkan meninggal dunia. Mungkin, pikiran mereka menjadi kalut. Apapun dilakukan demi merdeka dari jeratan virus dan berharap bisa sembuh.

Bacaan Injil Minggu ini juga mengisahkan pergumulan Maria dan Marta. Saudara mereka, Lazarus, sedang sakit keras. Tidak disebut sakit apa, tetapi keadaannya sangat buruk. Maria dan Marta tentu berupaya mengobati Lazarus. Mereka pasti merawatnya dengan baik, memberinya makanan yang sesuai, membelikan obat yang dianggap cocok dan menemani sepanjang waktu. Begitulah keluarga; selalu hadir dan melayani di kala suka dan susah. Lebih dari itu, Maria dan Marta ternyata juga menunjukkan tindakan iman yang baik. Mereka berusaha mencari Tuhan Yesus. Mereka lalu berkabar kepada-Nya: “Tuhan, dia yang Engkau kasihi, sakit” (ay 3).

Maria dan Marta sadar bahwa tindakan mereka tidaklah cukup. Upaya yang mereka lakukan belum membawa hasil. Meski begitu, mereka tidak habis pengharapan. Mereka ingat kepada Tuhan Yesus. Mereka rindu dilawat oleh-Nya. Itu sebabnya, mereka mencari-Nya. Walau dalam berita mereka itu tidak tersirat suatu permohonan, rupanya Maria, Marta dan Tuhan Yesus sudah saling memahami isi hati masing-masing. Ini bukti kedekatan relasi di antara mereka. Maria dan Marta percaya bahwa Tuhan Yesus mengasihi mereka, khususnya Lazarus yang sedang sakit.

Dalam menghadapi kesukaran yang saat ini melanda kita dan negeri kita, teladan Maria dan Marta menjadi sangat penting. Mata kita jangan hanya melihat hal-hal lahiriah. Kita akan kelelahan dan putus asa. Jika kita hanya melihat kota yang sepi, usaha yang lesu, aktivitas yang membosankan, gereja-gereja tutup, korban positif corona makin banyak, korban meninggal terus bertambah dan berita buruk merebak, kita pasti stress dan tertekan. Sebagai orang beriman, pandangan kita harus luas. Seraya menjaga diri dan keluarga kita, mari kita semakin mengarahkan hati kepada Tuhan. Mari mencari Tuhan lebih mendalam lagi. Mari berdoa lebih sungguh lagi. Kita percaya bahwa kasih dan kuasa Tuhan melampaui kesukaran kita. Itulah dasar pengharapan kita yang teguh.

Ketika mendengar kabar dari Maria dan Marta perihal Lazarus, Tuhan Yesus sengaja menunda untuk mengunjungi mereka. Para murid merasa heran. Tuhan Yesus seolah cuek dan tidak sigap. Tetapi Ia tahu dasarnya: “Penyakit itu tidak akan membawa kematian, tetapi akan menyatakan kemuliaan Allah, sebab oleh penyakit itu Anak Allah akan dimuliakan” (ay 4). Dalam hal inilah orang kerap terjebak. Ketika kesukaran terjadi, kita berharap Tuhan bertindak cepat. Kita berdoa memaksa Tuhan bekerja darurat. Ketika Tuhan terasa lambat, kita bingung dan panik. Ketika Tuhan terkesan terlambat, kita kecewa dan marah. Padahal, Tuhan tahu saatnya bertindak. Cara kerja-Nya tidak pernah salah, hanya saja sering di luar dugaan kita. Dalam hal ini, dibutuhkan kesabaran, ketabahan dan kejernihan batin untuk tetap percaya bahwa lawatan Allah pasti tepat pada waktu-Nya.

Perhatikan perasaan Tuhan Yesus berjumpa Maria dan Marta. Dikatakan maka “masygullah hati-Nya” (ay 33, 38). Kata “masygul” ini menggambarkan keadaan hati yang sangat terharu. Tuhan Yesus sangat terharu melihat Maria dan Marta yang begitu pilu atas kematian Lazarus. Kepada mereka, ia lalu menegaskan: “Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati” (ay 25). Ungkapan ini kemudian dibuktikan dengan membangkitkan Lazarus dari kematian, meski sudah dikubur 4 hari lamanya. Perbuatan Tuhan Yesus itu pun benar-benar memuliakan Allah, tepat seperti dikatakan-Nya sejak semula.

Saudara, jangan pernah menyerah dengan kesukaran hidup. Tetaplah berjuang. Berjuanglah dalam perjuangan iman bersama Tuhan. Perjuangan kita bukan melawan darah dan daging, melainkan kuasa dunia yang berusaha menghancurkan iman dan harapan kita. Jangan biarkan iman dan harapan runtuh oleh kesusahan apapun. Pandanglah pada Tuhan Yesus. Cari Dia terus dan mohonkan lawatan-Nya. Percayalah, maut saja dikuasai-Nya, apalagi virus corona! Beriringan dengan itu, saling menjaga dan menguatkanlah. Layanilah seorang akan yang lain dengan kasih yang murni!

                                                                                                     MM

Leave a comment