Memahami, Mengalami, Melakukan

WhatsApp Image 2021-01-16 at 18.55.25

Yohanes 1:43-51

“Marilah dan kamu akan melihatnya” (Yoh. 1:39), ini pernyataan ajakan Yesus kepada Andreas dan Simon untuk melihat tempat tinggalNya.  Melalui melihat kehidupan Yesus secara langsung dan pribadi, Andreas dan Simon mengenal siapakah Yesus, Sang Anak Domba Allah itu. Pola yang sama juga dapat kita lihat dalam Yohanes 1: 47 – “Mari dan lihatlah!”, sebuah pernyataan Filipus kepada Natanael, yang meragukan beritanya tentang Yesus.

Setelah Filipus bertemu dengan Yesus dan dipanggil untuk menjadi muridNya, ia bergegas menemui Natanael seraya membawa kabar bahwa ia telah menemukan Mesias yang telah dinubuatkan oleh para nabi.  Namun rupanya keterangan yang dibawa oleh Filipus tentang daerah asal Yesus (Nazaret) membuat Natanael meragukan kebenaran berita yang dibawanya (Yoh.1:45). Itu sebabnya Natanael berkata,”Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?” Dalam pertanyaan ini tersirat nada sindiran dan keraguan terhadap Nazaret itu sendiri. Dari catatan Alkitab (Yoh.7:41-42,52; Mat.2:23; Kisah Para Rasul 24:5) mengindikasikan bahwa Nazaret dianggap sebagai tempat yang “rendah” oleh penduduk kota lain. Namun reaksi Filipus terhadap perkataan Natanael sungguh amat menarik. Ia berkata, “Mari dan lihatlah!”

Filipus rupanya mulai memahami makna keterpanggilannya sebagai murid Yesus. Dia tidak mau menguras waktu dan tenaganya untuk berdebat dengan Natanael dalam rangka “membela” harkat dan martabat Gurunya yang direndahkan itu. itu sebabnya, sama seperti Yesus mengajak Andreas dan Simon untuk melihat dan merasakan pengalaman tinggal bersamaNya, Filipus kini juga mengajak Natanael untuk melihat dan mengalami Yesus secara pribadi. Inilah esensi terdalam dari sebuah spiritualitas, yaitu pengalaman perjumpaan kita dengan Sang Anak Domba Allah yang berkenan hadir dan berbincang dengan kita secara pribadi. “Mari dan lihatlah”.

Setelah itu, datanglah Natanael kepada Yesus. Yesus memandangnya dan berkata, “Lihat, inilah seorang Israel sejati, tidak ada kepalsuan di dalamnya!” pernyataan Yesus ini mengagetkan Natanael karena Yesus dapat memberikan sebuah penilaian yang sahih dalam perjumpaan yang pertama kali dengannya. Natanael bertanya,

bagaimana Yesus bisa mengenal dia. Yesus kemudian mengatakan bahwa Ia telah melihatnya dibawah pohon ara (Yoh.1:48). Apakah pohon ara memiliki arti khusus? Dan apa yang dilakukan oleh Natanael dibawah pohon ara? Namun berdasarkan tanggapan Natanael, “Rabi, Engkau Anak Allah, Engkau Raja orang Israel!”, kita dapat menduga bahwa apa yang dikatakan Yesus itu memang benar, bersifat pribadi, mendalam, dan sangat menyentuh bagi Natanael. Seorang penafsir memberikan sebuah tafsiran yang menarik. Sangat mungkin bahwa pada hari dimana Natanael duduk di bawah pohon ara, ia sedang merenung dan berdoa bagi hari datangnya Orang Pilihan Allah itu, ia sedang merenungkan janji-janji Allah di masa lalu. Itu sebabnya ia begitu gentar dan terharu tatkala Yesus mengetahui isi hatinya yang terdalam. Ini sebuah pengalaman ketakjuban di hadapan Tuhan sebagai misteri yang menggentarkan, sekaligus memesona. Dalam pengalaman itulah, manusia menyadari akan betapa lemahnya dia dan betapa kuat dan dahsyatnya Tuhan.  Betapa berdosanya manusia tetapi betapa kudus dan besar kasih setia Tuhan.

Pengalaman Natanael mengajarkan kepada kita bahwa panggilan Allah dalam hidup kita memang tidak selamanya jelas dan dapat dipahami oleh akal budi atau standar-standar manusia tentang diriNya.  Sebelum kita mencoba memahamiNya, Ia telah terlebih dahulu memahami, mengenal, bahkan mendesain hidup kita di dunia. Menghayati bahwa apapun yang kita kerjakan di dunia ini adalah sebuah “panggilan” dari Nya, maka kita perlu belajar “mendengar Dia” sebelum kita melakukan segala sesuatu. “Mari dan lihatlah!” Amin.

YKD

Leave a comment