Melepaskan Kenyamanan demi Ketaatan

news-thumb1280

1 Raja-raja 19:15-21 & Lukas 9:51-62

I have decided to follow Jesus; I have decided to follow Jesus; I have decided to follow Jesus; No turning back, no turning back. Sebait lagu ini tentu tidak asing di telinga kita. Kita sering menyanyikan versi bahasa Indonesia-nya yang berjudul “Mengikut Yesus Keputusanku”. Dibalik lagu ini ada sebuah kisah luar biasa yang perlu ditelusuri untuk meraih makna didalamnya.

Di sebuah desa kecil di India sekitar tahun 1880, hiduplah sepasang suami istri dan dua orang anaknya. Keluarga ini memutuskan untuk dibaptis dan mengikut Yesus. Keputusan ini membuat kepala suku di sana menjadi marah. Nokseng (nama sang ayah) dan keluarganya ditangkap lalu dihakimi di tengah masyarakat. Kepala suku itu berkata kepadanya, “Jika engkau tidak mau menyangkal dan berpaling dari imanmu kepada Yesus Kristus, maka anak-anakmu akan kami bunuh!”. Nokseng menjawab “I have decided to follow Jesus, and there is no turning back.” Mendengar jawaban itu, kepala suku membunuh kedua anaknya. Ia lalu kembali bertanya, “Jika engkau tidak mau menyangkal dan berpaling dari imanmu kepada Yesus Kristus, maka istrimu akan kami bunuh!”. Nokseng menjawab, “Though none go with me, still I will follow. No turning back.” Mendengar kalimat ini, kepala suku memerintahkan untuk membunuh isterinya. Setelah isterinya mati, kepala suku berkata, “Aku memberikan kamu satu kesempatan lagi, jika kamu mau berbalik dari imanmu maka kamu akan hidup”. Tetapi dengan mantap Nokseng berucap “The cross before me, the world behind me. No turning back. No turning back.”. Inilah kalimat terakhir yang diucapkannya sebelum akhirnya ia mati.

Kisah Nokseng berdampak besar bagi pekabaran Injil di daerah itu. Kepala suku yang membunuh Nokseng dan keluarganya, merasa terganggu dengan keteguhan iman Nokseng. Rasa penasaran itulah yang membuatnya mengalami perjumpaan dengan Tuhan. Ia kemudian mengajak seluruh rakyatnya untuk menyatakan iman pada Kristus.

Kisah Nokseng menunjukkan betapa tidak mudahnya menjadi seorang pengikut Yesus. Hal ini juga yang ditegaskan oleh Yesus dalam percakapan-Nya dengan ketiga murid dalam perjalanan menuju Yerusalem. Dalam percakapan itu ada 3 jawaban Tuhan Yesus yang menunjukkan kualitas yang harus dimiliki dalam mengikut Dia, yaitu:

  1. “Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.” Menjadi seorang murid Yesus harus memiliki kesiapan untuk berkorban tanpa pamrih, bahkan menguburkan motivasi kesenangan, kenyamanan atau keuntungan pribadi.
  2. “Biarlah orang mati menguburkan orang mati; tetapi engkau, pergilah dan beritakanlah Kerajaan Allah di mana-mana.” Mengapa Tuhan Yesus menjawab seperti itu? Untuk memahaminya, kita perlu memperhatikan konteks dari jawaban murid yang berkata, “Izinkanlah aku pergi dahulu menguburkan bapaku.” Kalimat ini merupakan ungkapan yang biasa dipakai untuk menolak secara halus atau menunda dalam waktu yang tidak dapat ditentukan. Melalui jawaban ini dia hendak menyatakan bahwa ia tidak bisa meninggalkan rumah untuk waktu yang lama sebab ia memiliki kewajiban untuk menguburkan bapanya apabila meninggal kelak. Oleh sebab itu, Tuhan Yesus menekankan bahwa tidak ada yang lebih mendesak daripada mengikut-Nya  danmemberitakan Kerajaan Allah.
  3. “Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah.” Dapatkah orang membajak dengan memandang ke belakang? Tentu tidak. Oleh sebab itu, Tuhan Yesus hendak mengingatkan bahwa kehidupan masa kini dan masa lalu yang memberikan kenyamanan dapat mengikat sehingga menggagalkan kesungguhan dan tekad untuk mengikut Yesus. Diperlukan keberanian untuk meninggalkan kenyamanan seperti Elisa. Elisa berasal dari keluarga kaya yang memiliki sejumlah pelayan. Ketika Elia memanggilnya, ia segera meninggalkan seluruh kenyamanan itu. Hal ini ditunjukkannya dengan menyembelih lembu yang digunakan untuk membajak dan mengenakan bajak lembu sebagai kayu api dalam pesta perpisahannya. Dia melepaskan semuanya dalam ketaatan dan keberanian untuk menjalani hidup sebagai seorang nabi Tuhan.

Hingga saat ini Tuhan terus memanggil banyak orang untuk mengikut Dia, meniru teladan-Nya dan membawa perubahan nyata di tengah masyarakat. Sebagai orang yang telah dipanggil dan menyatakan diri sebagai pengikut-Nya, selidiki dan ujilah diri kita saat ini: apakah kita telah sungguh-sungguh mengikut Yesus? Siapkah kita untuk melepaskan kenyamanan dan kemapanan demi mengikuti- Nya? Siapkah kita untuk mematikan keinginan diri dan hidup dalam Kristus? Semoga Tuhan memampukan kita untuk setia menjadi pengikut-Nya, sekalipun harus melepaskan kenyamanan. Semoga Tuhan memampukan kita untuk tidak mengingkari iman, tetap mengikut-Nya sekalipun sendiri dan tidak kembali dalam hidup yang lama.

DRS

Leave a comment