Melampaui Kata, Menemukan Makna

Quote-17Feb2020

Ul 30:15-20, Mzm 119:1-8; 1 Kor 3:1-9, Matius 5:21-37

Di sebuah media sosial, seseorang memposting, “Segala kuasa itu serta kemuliaannya akan kuberikan kepada-Mu, sebab semuanya itu telah diserahkan kepadaku dan aku memberikannya kepada siapa saja yang kukehendaki” (Lukas 4:6). Begitu ayat ini selesai diposting, banyak orang memberikan jempol, tanda menyukai postingan tersebut. Termasuk seorang pendeta juga turut memberikan ‘jempol’nya pada postingan ini. Tetapi, tidak lama dia segera ’unlike’postingan tersebut. Tahukah alasannya? Coba cek deh, kalimat itu diucapkan sama siapa?

Banyak orang dengan mudahnya langsung me-‘like’ suatu postingan, ‘yang penting ada ayatnya’ tanpa memahami makna dan konteksnya. Bukan itu saja, kenyataannya ada banyak ayat yang kerap dipakai dan dikutip dengan tujuan tertentu berdasarkan kepentingan dan pemahaman pembacanya. Seringkali pemahaman itu didapat dari pembacaan teks secara harfiah, padahal sebuah teks kitab suci memiliki kedalaman makna yang tidak dapat dipahami secara harfiah.

Setiap kata yang digunakan, dipilih dengan cermat oleh penulis untuk menghindari kesalahpahaman makna, sekaligus untuk membuatnya menjadi sebuah karya seni yang luar biasa. Bahasa yang digunakan pun tidak seperti bahasa yang dipakai sehari-hari dan jangan lupa ada konteks yang membingkai penulisan teks tersebut. Itu sebabnya dalam membaca kitab suci kita tidak dapat memahaminya hanya berdasarkan tulisan. Kita perlu memahami konteks dan tujuan untuk menangkap makna yang sebenarnya. Hal inilah yang Tuhan Yesus hendak ajarkan kepada orang banyak melalui kotbah di bukit. Ia mengajak orang untuk melihat kedalaman makna, sehingga tidak terjebak untuk mengartikan kata-kata itu secara sempit.

Pada bagian bacaan Injil hari ini, ada 4 persoalan yang diangkat dan diulas oleh Tuhan Yesus, yaitu: pembunuhan dan kemarahan (Mat 5:21-26), perzinahan dan hawa nafsu (Mat 5:27-30), perceraian (Mat 5:27-30) dan bersumpah (Mat 5:31-37).

  1. Jangan Membunuh → mengampuni

Dalam sepuluh perintah Tuhan dengan jelas ada perintah ‘jangan membunuh’. Untuk memperjelas hukum ini, maka ditambahkan dengan hukum lain yaitu nyawa ganti nyawa. Tuhan Yesus mengajak pada pendengarnya untuk memahami lebih dalam lagi terkait dengan penyebab terjadinya pembunuhan, yaitu kemarahan. Kemarahan seringkali dianggap sebagai hal yang biasa dalam hidup manusia. Namun, kemarahan yang tidak dapat dipadamkan dan dikendalikan dengan baik dapat menghasilkan kekerasan bahkan pembunuhan. Itu sebabnya Tuhan mengajarkan kepada para pendengar untuk dapat belajar mengatasi penyebabnya (yaitu kemarahan), ketimbang hanya berfokus pada akibatnya (pembunuhan). Cara mengatasi kemarahan yang Tuhan ajarkan adalah dengan mengampuni. Tuhan memberi contoh tentang seseorang yang meninggalkan ibadahnya untuk berdamai dengan orang yang membuatnya marah terlebih dahulu.

  1. Jangan berzinah → Kuasai indramu

Jangan berzinah juga tertulis secara tegas dalam Dasa Titah. Pada bagian ini Tuhan Yesus mengajar para pendengar untuk memahami akar perzinahan itu sendiri, yaitu menginginkan. Bahwa perzinahan terjadi karena ketidakmampuan seseorang menahan dirinya sehingga terjatuh pada ketidaksetiaan dan menjadikan orang lain sebagai obyek pemuas nafsunya. Maka Tuhan Yesus mengajar para pendengar untuk berlatih menahan diri dengan menguasai indra.

  1. Perceraian

Berdasarkan catatan penafsir didapatkan informasi bahwa pada masa itu banyak perceraian terjadi. Perceraian dilakukan dengan mudah dan dengan alasan sederhana yang dinyatakan oleh suami, seperti: masakannya tidak enak, tidak punya anak, dst. Tuhan Yesus mengajarkan ‘kecuali karena zinah’ sebagai upaya agar tidak bisa menceraikan dengan semena-mena dan untuk menempatkan pernikahan sebagai hubungan yang setara.

  1. Bersumpah Katakan yang sebenarnya!

Ada perintah untuk tidak bersumpah palsu, melainkan peganglah sumpah itu di depan Tuhan. Inilah perintah yang dikenal luas oleh masyarakat Yahudi. Namun, Tuhan Yesus mengatakan, “jangan sekali-kali bersumpah atas apapun”. Tuhan mengajak pendengarnya untuk melihat lebih dalam secara jernih. Seseorang harus bersumpah ketika integritasnya diragukan. Tapi, orang yang memiliki integritas, dia tidak perlu melakukan sumpah. Itu sebabnya Tuhan mengingatkan untuk memiliki ketegasan dan kejujuran dalam berkata-kata. Jika ya, katakan ya. Jika tidak, katakan tidak. Lebih dari pada itu berasal dari si jahat.

Pengajaran Tuhan Yesus menunjukkan bahwa Dia tidak hanya berkutat di permukaan, melainkan menelisik ke persoalan yang lebih dalam lagi. Ia membaca melampaui apa yang tertulis untuk menemukan makna yang sebenarnya. Selamat menjadi lebih bijak dalam membaca Firman Tuhan, menggali pemaknaan untuk bertumbuh dan berbuah sesuai kehendak-Nya.

                                                                                                              DRS

Leave a comment