Mata yang Dicelikkan

IG 22 MAR 20

(Yohanes 4:1-41)

Memahami dan melihat pekerjaan Tuhan atas dunia dan manusia bukanlah usaha sehari. Tuhan bekerja setiap hari, maka kita pun perlu memahami dan melihatnya setiap hari. Untuk itu, kita perlu melatih kepekaan hati kita untuk menyadarinya.  Mata batin atau rohani kita harus celik, bukan hanya mata jasmani kita saja. Dengan memahami dan melihat pekerjaan Tuhan, kita akan mendapatkan kekuatan, penghiburan dan pengharapan baru setiap hari.

Di awal perikop firman Tuhan di atas disebutkan: “Waktu Yesus sedang lewat, Ia melihat seorang yang buta sejak lahirnya” (ay 1). Bagi sebagian orang, ayat ini hanyalah suatu keterangan biasa. Akan tetapi, dari kacamata iman, ayat ini menegaskan: Allah melihat. Allah memperhatikan insan demi insan. Kalimat ini menegaskan konsep teologis bahwa Allah berinisiatif melihat dan menyatakan belas kasihan-Nya kepada manusia. Pekerjaan Allah memang tidak dimulai karena inisiatif manusia, tetapi dimulai oleh inisiatif Allah. Melalui Yesus Kristus, Allah aktif berkeliling, mencari dan melihat orang sengsara. Setelah ditemukan-Nya, Ia menolong dan memulihkannya.

Sikap Tuhan Yesus ini berbeda sekali dengan sikap para murid dan manusia pada umumnya. Ketika melihat orang buta itu, para murid lalu berdebat tentang siapa yang berdosa sehingga orang itu dilahirkan dalam keadaan buta. Apakah ayah atau ibunya yang berdosa? Ataukah orang itu sendiri yang berdosa sejak dari mulanya? Perdebatan seperti ini sering terjadi dalam keseharian kita. Ketika terjadi musibah, orang sibuk mencari siapa yang bersalah. Lainnya lagi sibuk mencari ‘kambing hitam’ untuk dipersalahkan.

Di tengah wabah virus Covid-19 yang melanda dunia saat ini, banyak orang juga sibuk saling menyalahkan. Ada yang menyebut ilmuwan di Wuhan sebagai biang kerok. Ada yang menyalahkan kebiasaan orang Tiongkok yang  memakan binatang liar. Ada juga yang menyalahkan pemerintah Tiongkok yang tidak mampu mengendalikan laju penyebaran virus. Beberapa kasus xenophobia juga mencuat, yakni kecurigaan dan kebencian terhadap etnis atau suku bangsa tertentu yang dianggap sebagai penyebar virus ini.

Lebih dari itu, sejumlah orang mungkin juga bertanya: “Mengapa Tuhan berdiam diri saja atas virus ini? Di mana Tuhan? Apakah Ia peduli dengan situasi ini? Mengapa ia membiarkan banyak korban terjangkit, bahkan meninggal dunia?” Pertanyaan semacam ini sebenarnya sudah diajukan banyak orang sejak dahulu kala. Manusia seringkali menilai dan mengukur Tuhan menurut apa yang kelihatan. Jika terjadi bencana, orang meragukan kuasa Tuhan. Jika terjadi penyakit, orang mempertanyakan kasih dan kebaikan Tuhan. Begitulah, perkara dunawi dan jasmani kerapkali menjadi ukuran bagi perkara rohani dan ilahi.

Pada perikop di atas, penginjil menyebut banyak kata melihat. Akan tetapi, dalam teks bahasa Yunani, kata “melihat” ini berasal dari 2 unsur kata yang berbeda: horao dan blepo. Kata blepo berarti “melihat dengan mata inderawi”, sedangkan horao berarti “melihat secara spiritual atau rohani”. Kita ambil contoh: Salib. Ketika melihat salib, manusia blepo hanya melihat dua batang kayu yang dipaku secara menyilang. Akan tetapi, manusia horao akan memaknai peristiwa Tuhan Yesus yang menderita untuk menebus manusia dari dosa dan menyelamatkannya. Bagi para murid, kebutaan itu tidak begitu istimewa, sama seperti kecelikannya pun tidak begitu istimewa bagi orang-orang Farisi.

Akan tetapi, Tuhan Yesus melihat sesuatu yang besar di balik kebutaan orang itu: “pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia” (ay 3). Kristus seperti berkata jangan melihat secara fisik saja. Lihatlah secara batin. Lihatlah dengan kacamata iman bahwa Allah ingin mengerjakan sesuatu yang indah dalam keadaan itu. Tuhan mau dan mampu mengubah keburukan menjadi kebaikan. Itu sebabnya, Tuhan Yesus menjamah mata orang buta itu, menyuruhnya membasuh diri, lalu segera sembuh dari kebutaannya itu.

Dengan demikian, di tengah wabah Covid-19 ini, kita tidak boleh dikuasai cara pandang blepo yang duniawi. Cara pandang seperti ini hanya akan membuat kita panik dan gentar karena banyaknya orang yang terjangkit dan meninggal. Cara pandang inderawi hanya membuat kita takut pada bahaya di sekitar kita, sehingga kita mudah putus asa dan menyerah. Itu sebabnya, milikilah kepekaan dan kekuatan rohani. Melihatlah dengan kacamata iman dan batin. Percayalah, Tuhan beserta kita. Tuhan melihat dan Ia peduli kepada pergumulan kita. Bersama-Nya kita pasti mampu menghadapi dan melewati wabah ini.

Dua pekan ke depan, cara beribadah kita tidak dilakukan di gereja, tetapi di rumah kita masing-masing bersama keluarga. Jangan panik. Jangan menyesal. Kita percaya bahwa ibadah kita tidak dibatasi oleh ruang dan waktu, seperti kasih Tuhan pada kita pun tidak tertahan ruang dan waktu. Tuhan hadir di manapun kita memanggil namanya dalam doa, pujian dan persekutuan kasih. Oleh karena itu, tetaplah beribadah. Tetaplah berdoa. Tetaplah saling mengasihi, saling menjaga dan saling melindungi. Tuhan kiranya memberi kita kekuatan, kedamaian dan keselamatan di sepanjang perjalanan hidup kita. Amin.

                                                                                                     MM

Leave a comment