Lalang di Tengah Gandum

19 jul

Matius 13:24-30, 36-43

Suatu kali di kelas katekisasi, seorang katekisan mengajukan pertanyaan, “Kak, kenapa Tuhan tidak langsung menghukum orang yang berbuat jahat? Kenapa sepertinya didiamkan begitu saja.”. Mungkin pertanyaan ini juga pernah terlintas dibenak saudara, “kenapa Tuhan membiarkan orang jahat untuk terus hidup?” bahkan mungkin juga ada yang mengatakan, “orang jahat kok panjang umur ya?”. Melalui perumpamaan hari ini kita akan mengetahui mengapa Tuhan membiarkan orang jahat dan orang baik tinggal bersama di dunia ini.

Di suatu ladang ditaburkan bibit gandum yang baik oleh sang tuan pemilik ladang itu. Namun, pada malam hari ketika semua orang tertidur datanglah seorang musuh dan menaburkan benih lalang di atas ladang tersebut. Ketika gandum itu bertumbuh dan mulai berbulir, hamba sang tuan melihat bahwa ada lalang yang tumbuh di antara gandum. Lalu para hamba itu mengusulkan agar lalang itu dicabut. Sang tuan menjawab, “Jangan, sebab mungkin gandum itu ikut tercabut pada waktu kamu mencabut lalang itu.”. Lalu sang tuan memberi perintah, “biarkanlah keduanya tumbuh bersama. Nanti ketika waktu menuai, kumpulkanlah lalang untuk dibakar dan gandum untuk disimpan dalam lumbung.” Dalam perumpamaan ini ladang adalah dunia tempat kita tinggal saat ini, orang yang menaburkan benih yang baik adalah Allah, gandum adalah anak-anak kerajaan dan lalang adalah anak-anak si jahat, sedangkan musuh adalah iblis”

Lalang dan gandum memiliki tampilan yang sangat mirip sehingga dapat membuat orang kesulitan untuk membedakannya. Itu sebabnya sang pemilik ladang meminta agar lalang dan gandum itu diberi kesempatan yang sama untuk tumbuh di ladang miliknya. Dalam kehidupan kita sebagai orang percaya, kita merindukan hidup yang tenang dan tentram tanpa godaan dan pergumulan. Namun, dari perumpamaan ini kita melihat bahwa Tuhan (sang pemilik ladang) dengan sengaja memberikan kesempatan kepada anak si jahat (atau pengaruh si jahat) tetap ada di tengah dunia. Mengapa demikian? Ada tiga alasan, yaitu:

1. Tuhan memberi kesempatan kepada mereka untuk bertobat

Mengapa Tuhan memberikan kesempatan yang sama kepada orang jahat untuk hidup? Mengapa Ia tetap memberi hujan dan matahari bagi orang jahat? Sebab Ia Mahakasih dan rindu semua manusia yang diciptakan-Nya dapat mengikut Dia. Maka Ia memberikan waktu kepada mereka untuk berbalik (bertobat) kembali kepada-Nya. Seperti yang dicatat dalam 2 Petrus 3:9, “Tuhan tidak lalai menepati janji-Nya, sekalipun ada orang yang menganggapnya sebagai kelalaian, tetapi Ia sabar terhadap kamu, karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat.” Kerinduan-Nyaadalah supaya semua orang selamat an ini menjadi bukti kesabaran-Nya terhadap manusia. Bertobatlah selama Ia memberi kita kesempatan dan waktu.

2. Tuhan rindu agar kita tidak menjadi jahat dengan mengucilkan mereka yang melakukan kejahatan

Sang pemilik ladang membiarkan lalang itu tumbuh bersama dengan gandum. Demikian juga kita sebagai anak-anak Allah harus belajar untuk hidup bersama dengan mereka. Tidak mengucilkan dan menolak keberadaan mereka di sekitar kita, sekalipun mereka tidak mau melakukan kehendak Allah. Ingatlah bahwa kita pun menjadi anak-anak Allah semata-mata karena anugerah yang telah diberikannya kepada kita. Maka kita juga tidak berhak untuk sombong, atau merendahkan yang lain. Sebaliknya ketika hidup bersama dengan mereka, kita diajak untuk…

3. Menjadi contoh dengan hidup dalam pimpinan Roh Allah

Dalam hidup selalu ada pertentangan antara hidup dipimpin Roh Allah atau membiarkan diri mengikuti godaan dan keinginan si jahat. Pengaruh si jahat selalu ada di dalam dunia ini. Pada satu sisi ini bisa dilihat sebagai hambatan yang mengganggu kenyamanan kita. Tetapi di sisi lain, inilah panggilan kita agar menjadi contoh bagaimana hidup dalam pimpinan Roh Allah bagi mereka yang menolak hidup seturut dengan kehendak Allah. Kita menjadi alat di tangan Allah untuk memberi pengaruh baik kepada sesama. Pada saat yang sama kita juga terus dimurnikan untuk bisa terus setia mengikuti pimpinan Roh Allah di tengah segala godaan dan pergumulan hidup.

Kehadiran lalang di antara gandum memang dapat menghambat pertumbuhan, tetapi juga dapat melatih si gandum untuk terus berjuang hidup dan menghasilkan bulir-bulir yang baik. Sekalipun kita telah menjadi anak-anak Allah, jangan pernah mengucilkan siapapun yang melakukan dosa. Kita diajak untuk justru menolongnya, hidup berdampingan dengannya, agar ia dapat melihat contoh kehidupan dalam pimpinan Roh Allah. Pada saat yang sama tetaplah waspada, berjaga-jaga dan tidak lengah agar jangan sampai justru kita yang tergoda dan terbawa oleh pengaruh si jahat. Ingatlah kita perlu untuk terus bertumbuh, sampai masa menuai itu tiba dan akan terlihat apakah kita termasuk lalang ataukah gandum? Semoga sampai akhir kita tetap menjadi gandum yang berbulir-bulir milik kepunyaan Allah.

                                                                                                DRS

Leave a comment