Kita Adalah Saudara

WhatsApp Image 2021-06-05 at 07.55.04

(Markus 3:20-35)

Ibu dan saudara merupakan bagian dari keluarga inti. Mereka adalah orang yang paling dekat dengan kita, terutama Ibu sebagai wanita yang melahirkan kita. Kisah ini dimulai dengan mukjizat yang Yesus kerjakan sehingga keluarga-Nya datang hendak menjemput-Nya (ayat 21). Mereka mendengar komentar bahwa Yesus tidak waras, kemungkinan mereka hendak membawa Yesus pulang kerumah, memastikan kewarasan Yesus dan untuk menghindari omongan orang. Ibu dan saudara-saudara Yesus tiba dan berdiri di luar. Kemudian mereka menyuruh orang untuk memangil Dia (ayat 31). Saat orang banyak duduk sambil mengelilingi Yesus, dari antara mereka ada yang mengetahui kedatangan mereka dan memberitahukannya kepada Yesus (ayat 32). Tetapi Yesus menjawab seolah-olah Dia tidak mengenal Ibu dan para saudara- Nya dengan kalimat “siapa ibu-Ku dan siapa saudara-saudara- Ku?” (ayat 33).

Mereka yang hadir tidak mengerti mengapa Yesus berkata seperti itu. Yesus menambahkan dengan mengatakan bahwa orang-orang yang duduk disekeliling-Nya adalah ibu-Nya dan saudara-Nya (ayat 34). Kalimat ini mengajarkan bahwa relasi ibu dan saudara tidak dibatasi oleh hubungan secara jasmani, tetapi juga secara rohani. Hal ini berarti bahwa mereka yang mendengar firman dan menerima firman itu adalah ibu dan saudara Yesus dan berita firman berlaku untuk setiap bangsa.

Yesus memberitahukan bahwa Ia sedang mengerjakan kehendak Allah, yaitu mengabarkan Injil kepada semua orang. Dia mengingatkan bahwa yang menjadi ibu dan saudara-Nya adalah orang- orang yang juga mengerjakan kehendak Allah (Lukas 8:4-15 mendengarkan dan melakukan firmanNya). Mereka inilah saudara-Nya laki-laki, saudara- Nya perempuan, dan ibu-Nya (ayat 35). Yesus menegaskan bahwa Dia akan mengakui kita sebagai anggota keluarga inti, anggota keluarga yang dekat jika kita mau mendengar dan melakukan firmanNya.

Tuhan berulang kali menegaskan betapa pentingnya mendengar firman Allah. Para pendengar firman Allah digambarkan seperti tanah subur (Markus 4:1-20). Mereka laksana pelita yang cahayanya dapat terlihat dan dinikmati oleh banyak orang (Markus 4:21-23). Tuhan pun memberikan tempat istimewa kepada mereka, yaitu diakui sebagai keluarga inti (Markus 4:33-35).

Ada banyak hal dalam hidup ini yang mengalihkan kita agar tidak mendengar firman Tuhan, misalnya kesibukan. Kita diminta menyadari bahwa betapa rindunya Tuhan berbicara dengan kita. Bagaimana caranya agar kita mampu mendengar suara-Nya? Berdiam dirilah sejenak setiap hari dan ambil waktu untuk merenungkan firman Tuhan.

Sebagai seorang Kristen, Tuhan adalah yang terutama. Oleh karena itulah, kita mesti memberi waktu mendengar firman-Nya dan melakukannya. Kita bisa mencoba melatih diri mendengar suara Tuhan – yang tak terlihat. Dengan ini, kita mungkin akan memiliki kemampuan mendengar sesama kita. Hingga akhirnya, kita akan mampu memahami perasaan dan kebutuhan orang lain.

 

YKD

Leave a comment