“Ketika Tuhan Tidak Mau Dengar Puji-pujian Kita”

news-thumb1280

“….Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran. ” (Yoh 4:23-24)

Bagi orang Kristen dan gereja Kristen, menyanyi sudah menjadi keniscayaan. Sejak Sekolah Minggu hingga lanjut usia, orang Kristen terbiasa menyanyi atau mendengarkan lagu pujian. Setiap ibadah atau kebaktian pasti berisi nyanyian pujian dan penyembahan kepada Tuhan. Kebaktian tidak lengkap tanpa nyanyian. Bahkan, beberapa gereja memberikan porsi pada pujian dan penyembahan lebih besar daripada unsur ibadah lainnya.

Bagi kita, pujian dan penyembahan adalah doa kepada Tuhan. Saat seseorang mengumandangkan lagu pujian, sesungguhnya ia sedang berdoa kepada Tuhan. Ia sedang mendekat dan berkomunikasi dengan Allah. Ia mengutarakan isi hati, harapan dan pergumulannya kepada Tuhan. Ia mengarahkan hati, pikiran dan seluruh hidupnya kepada Sang Pencipta.

Akan tetapi, faktanya, tidak semua orang memaknai dan menghidupi pujian dan penyembahan dengan benar. Ada banyak orang menyanyi tanpa hati. Tidak sedikit orang memuji Tuhan tanpa pikiran ke arah Tuhan. Hati dan pikiran mereka masih tertuju kepada diri sendiri atau dunia. Mereka menyebut nama Tuhan tanpa iman. Dengan kata lain, mereka telah menyebut nama Tuhan dengan sembarangan (sia-sia). Puji-pujian seperti inilah yang tidak dikenan Tuhan. Pujian seperti ini menjijikkan di mata Tuhan. Bibir dan mulut dekat pada Tuhan, tetapi hati dan pikiran jauh ke mana-mana (Mat 15:8). Mereka menyanyi tanpa iman, tanpa kasih, dan tanpa rasa takjub atau rasa takut kepada Tuhan.

Pujian dan penyembahan kepada Tuhan bukanlah soal hobi, kesukaan, kesenangan atau selera belaka. Pujian dan penyembahan kepada Tuhan harus menjadi bukti pembaruan hidup dalam Tuhan. Orang yang memuji Tuhan adalah orang yang hidup di dalam Tuhan. Ia tidak lagi fokus dan hidup untuk dirinya sendiri. Ia tidak lagi fokus dengan kesenangan atau kesusahannya sendiri. Ia tidak lagi terjerat di dalam dosa dan kejahatannya sendiri. Ia hidup di dalam dan bersama Tuhan, yang kasih dan kemurahan-Nya layak dipuji dan diagungkan.

Demikianlah dosa membuat orang berhenti berdoa, tetapi doa membuat orang berhenti berbuat dosa. Doa, pujian dan penyembahan harus membawa dampak besar bagi kehidupan. Kehidupan yang diwarnai oleh doa, pujian dan penyembahan akan menghasilkan pertumbuhan dan kemajuan yang dikenan oleh Tuhan. Sebaliknya, kehidupan yang mengabaikan doa, pujian dan penyembahan akan mudah dirusak dan dirasuk oleh Iblis dan dosa yang membinasakan.

Itulah sebabnya, Tuhan Yesus mengharapkan bahwa kelak orang beriman akan menyembah Allah dalam roh dan kebenaran. Mengapa dalam roh? Karena Allah adalah Roh. Juga hanya oleh Roh Kudus yang tinggal di dalam kitalah kita dapat mengenal dan memuji Allah Bapa. Roh Kudus membantu kita di dalam hati kita untuk bersyafaat kepada Bapa di Sorga (Rm. 8:26). Tanpa Roh Kudus, manusia roh kita tidak tahu dan tidak mampu melakukan apa yang Allah kehendaki. Mengapa dalam kebenaran? Karena Allah adalah sosok yang kudus dan benar. Hanya dalam Kebenaran, yaitu Yesus Kristus, kita menjadi layak untuk datang menyembah Allah. Tanpa perataraan Yesus Kristus, Sang Firman yang menjadi manusia, tidak seorang pun mampu mendekat kepada Allah.

Oleh karena itu, marilah selalu memuji dan menyembah Tuhan. Tetapi, jangan lagi memuji dan menyembah dengan sembarangan, melainkan dengan penuh keyakinan. Bahkan, marilah memuji Tuhan dengan perubahan-pertumbuhan hidup yang semakin maju dan mempermuliakan nama Tuhan. Kiranya Tuhan menolong dan memberkati kita. Amin.

MM

Leave a comment