Kesatuan yang Sempurna

news-thumb1280

Yoh 17:20-26

#berbedatapisatu

Hashtag ini muncul di berbagi media sosial menyongsong pesta demokrasi Pemilihan Umum Kepala Daerah maupun Pemilihan Umum Presiden dan anggota Legislatif yang berlangsung sebulan yang lalu. Menjelang pemilu, virus perpecahan dengan cepat berhembus yang dapat memecah kesatuan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Itu sebabnya hashtag ini muncul sebagai bentuk perlawanan terhadap virus perpecahan yang ada sekaligus ajakan untuk menjaga kesatuan sekalipun memiliki pilihan yang berbeda.

Persoalan karena perbedaan tidak hanya menjadi masalah di ranah politik, tetapi juga dalam keseharian. Perjumpaan dengan mereka yang berbeda latarbelakang dengan kita baik dalam hal pendidikan, ekonomi, agama, suku dan bahasa, tidak terhindarkan dan dapat menjadi sumber perpecahan. Bahkan perpecahan karena perbedaan pun dapat terjadi di tengah kehidupan orang percaya. Aliran dan denominasi gereja yang berbeda dengan berbagai pendekatan dan corak serta pengakuan yang beragam, dapat menjadi sumber perpecahan. Seperti yang kita lihat dalam sejarah gereja, kehancuran gereja tidak terjadi karena tekanan dan penganiayaan dari luar. Ketika dianiaya, gereja justru semakin kuat. Tetapi ketika perpecahan terjadi di dalam gereja, pada saat itulah gereja menjadi lemah dan mudah untuk dihancurkan.

Itu sebabnya sebelum Tuhan Yesus ditangkap, Ia menaikan doa yang powerfull kepada Bapa-Nya. Sebuah untaian doa yang berisi suara harapan terdalam Yesus bagi mereka yang dikasihi-Nya. Doa ini dikenal dengan Doa sang Imam Agung yang terdiri dari tiga bagian, yaitu: Yesus yang berdoa bagi diri-Nya sendiri, bagi murid-Nya saat itu dan seluruh orang percaya di masa yang akan datang.

Dalam Yoh 17: 20-26 yang menjadi salah satu bacaan kita, Yesus berdoa bagi seluruh orang percaya “supaya mereka menjadi satu”. Inilah isi doa Tuhan Yesus yang kemudian menjadi semboyan gerakan keesaan gereja, seperti PGI (Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia). Lalu pertanyaannya apakah menjadi satu sama dengan meniadakan perbedaan yang ada? Tidak! Sebab kalo sudah sama secara tidak langsung mereka adalah satu. Jadi tidak perlu lagi kesatuan, toh udah sama. Kesatuan itu justru hadir ketika ada perbedaan di dalamnya. Kesatuan merupakan bentuk dari kemampuan atau kemauan untuk menerima dan menghargai perbedaan. Paling tidak ini juga yang menjadi semboyan negara kita, “Bhinneka Tunggal Ika” meskipun berbeda-beda tetap satu jua. Diversity in Unity, Unity in Diversity. Perbedaan dalam kesatuan, kesatuan dalam perbedaan. Disinilah letak keindahan dari kesatuan ketika ada perbedaan di dalamnya. Seperti pelangi, setiap garis di dalamnya memiliki warnanya sendiri, tetapi ketika warna-warna itu disatukan muncul sesuatu yang lebih indah lagi. Kesatuan tidak berarti bahwa harus kehilangan identitasnya atau sesuatu yang membedakan. Tetapi bagaimana perbedaan itu tidak menjadi penghalang dan justru menjadi sebuah anugerah untuk saling melengkapi satu dengan yang lain.

Kesatuan dalam perbedaan, sebagaimana Allah Tritunggal yang kita imani, 1 hakikat 3 pribadi (Bapa, Anak dan Roh Kudus). Tiga pribadi yang berbeda, tetapi senantiasa berada, berkarya bersama dan saling melengkapi. Demikian sebagai umat-Nya kita juga diajak untuk dapat merespon perbedaan dengan semangat kesatuan. Baik ketika kita berjumpa dengan sesama orang percaya di gereja, maupun ketika kita berjumpa dengan mereka yang berasal dari aliran dan denominasi gereja yang berbeda, ingatlah bahwa sekalipun berbeda kita satu di dalam Tuhan, satu semangat untuk melayani Tuhan, satu kerinduan untuk meneruskan karya-Nya di dunia. Allah pun memberi kita karunia yang berbeda, supaya bisa saling melengkapi dalam membangun jemaat Tuhan. Maka jangan biarkan perbedaan menjadi sumber perpecahan, tetapi jadi sumber sukacita. Kesatuan seluruh orang percaya, adalah kesatuan untuk menjadi kesaksian bagi dunia (ayat 21-23).

Bukan hanya kesatuan di antara orang percaya, tetapi lebih jauh kita juga dapat belajar untuk menjaga kesatuan dengan mereka yang berasal dari agama yang berbeda. Sebentar lagi rekan-rekan kita yang beragama Muslim akan merayakan hari Lebaran. Kepada mereka kita sampaikan ucapan selamat. Mungkin juga ada jalan yang akan ditutup untuk menyiapkan tempat bagi mereka beribadah bersama (Sholat Ied) yang akan membuat kita sedikit kesulitan, tetaplah bersukacita. Akan sangat menyenangkan jika kita juga bisa menyediakan suguhan bagi mereka yang melintasi rumah kita ketika hendak beribadah di pagi hari. Ketika kita bisa memberi ruang dalam perbedaan, di situ juga kita sedang bersaksi akan cinta Tuhan. Selamat hidup dan bersaksi di tengah perbedaan.

DRS

Leave a comment