Keramahtamahan Sebagai Nilai Hidup

news-thumb1280

Kejadian 18:1-10; Lukas 10: 38-42

Kata “keramahtamahan‟ adalah terjemahan untuk kata (Ing.) hospitality. Akar kata hospitality sendiri adalah hospes, yang bermakna ganda “tamu” sekaligus “tuan rumah”. Hospitality mengajar kita bagaimana menjadi “tamu” yang baik terhadap tuan rumah; tetapi sekaligus juga menjadi “tuan rumah” yang ramah terhadap setiap tamu. Setiap pertemuan dan pertamuan memang seharusnya didasarkan pada sikap hidup yang baik, ramah dan penuh kemurahan hati.

Setiap kelompok masyarakat selalu memiliki tradisi atau sikap tertentu dalam menyatakan keramahtamahan terhadap orang-orang asing yang bertamu. Masyarakat Jawa misalnya, dahulu biasa menyediakan sebuah kendi berisi air segar di depan rumah, biasanya lengkap dengan gelas bersihnya. Air minum itu disediakan gratis bagi siapa saja yang ingin melepas dahaganya. Sementara masyarakat Tionghoa pada masa lampau biasa memasak nasi dan lauk lebih banyak, sehingga tamu yang datang sewaktu-waktu dapat dipersilakan untuk makan. Bahkan, salah satu salam “apa kabar” dalam bahasa Mandarin adalah ni chi le ma, yang berarti “apakah Anda sudah makan?” Masyarakat Tionghoa memang terkenal dengan jamuan makan-minumnya dalam menyambut para tamu.

Pada masa kini, tradisi-tradisi di atas memang semakin pudar, khususnya di perkotaan. Ketika merasa haus di perjalanan, kita harus membawa atau membeli air untuk diminum. Kita tidak lagi menemukan kendi-kendi berisi air segar yang gratis. Kita tidak lagi biasa bertamu untuk sekadar meminta minum, apalagi makan. Kita tidak biasa memasak makanan dalam jumlah berlebih, karena dianggap mubazir. Meski demikian, itu bukan pertanda bahwa masyarakat kita tidak membutuhkan nilai keramahtamahan. Hanya saja kemauan dan kemampuan orang untuk menyatakannya semakin lemah akibat egoisme, individualisme dan hedonisme yang semakin akut di zaman ini.

Kejadian 18:1-10 di atas mengisahkan tentang Abraham yang didatangi oleh 3 orang tamu asing. Meski orang asing, namun sikap Abraham kepada mereka sungguh mulia. Ia menyongsong dan bersembah di depan mereka. Ia meminta istrinya membuatkan roti yang terbaik (ay 6). Ia mengolah seekor anak lembu yang empuk dan baik dagingnya (ay 7). Roti bundar, dadih, susu dan daging anak lembu itu disajikan semuanya kepada tamu-tamu itu (ay 8). Abraham menunjukkan bagaimana menjadi tuan rumah yang baik. Di dalam budaya nomaden, Ia tidak bisa membiarkan para peziarah terabaikan saat melalui rumah atau tanahnya (ay 5). Selain itu, Abraham juga berharap akan kasih dari tamu-tamunya (ay 3). Sungguh wajar jika Abraham mengharapkan dukungan doa dari tamu-tamunya. Benar saja, para tamu itu menegaskan bahwa tahun berikutnya Abraham dan Sara akan dikaruniai seorang anak di usia suntuk mereka (ay 10).

Sementara itu, bacaan Injil di atas mengisahkan tentang Tuhan Yesus dan rombongan-Nya saat tiba di Betania. Keluarga Marta menyambut mereka di rumahnya. Mereka melepas lelah di rumah itu. Adik Marta, yakni Maria, duduk menemani mereka dan mendengar perkataan Tuhan Yesus. Ia memperlihatkan keramahan hatinya dengan mendengar dan menemani. Sementara Marta menyatakan kebaikan hatinya dengan memasak makanan bagi rombongan itu. Karena ingin menyajikan makanan untuk banyak orang, Marta mulai kewalahan. Ia menilai sikap Maria kelewatan dengan tidak membantunya. Maria dianggap salah karena hanya duduk-duduk saja. Tuhan Yesus juga dianggap tidak peduli karena membiarkan Maria mengobrol saja. Padahal, pikiran Marta tidak sama dengan pikiran Tuhan Yesus. Tidak semua tamu mengharapkan makanan atau berkat jasmani saat bertamu. Ia datang bukan untuk menumpang minum dan makan. Ia mau rindu bertemu jiwa-jiwa. Ia ingin bercakap-cakap dari hati ke hati. Ia ingin membangun relasi kasih dengan keluarga Marta. Tuhan Yesus ingin mereka lebih saling mengenal dan mengasihi.

Inilah nilai dan kualitas terdalam yang harus terwujud dalam setiap pertemuan dan pertamuan; yakni tumbuhnya relasi baik, saling mengenal, perasaan kasih dan kepedulian satu sama lain. Seperti Tuhan datang kepada keluarga Marta, kita percaya bahwa Tuhan juga mau hadir di dalam hidup kita. Akan tetapi, kehadiran-Nya tidak lagi secara fisik. Ia hadir melalui Roh-Nya. Ia hadir melalui orang-orang lain yang dikirim-Nya untuk berjumpa dengan kita. Inilah alasan mengapa kita harus selalu bersikap baik dan ramah seorang terhadap yang lain; sebab Allah memang berkenan menjumpai kita melalui orang-orang lain. Ia ingin melihat dan merasakan kebaikan hati kita melalui kasih dan keramahan kita kepada semua orang yang diutus-Nya untuk berjumpa dengan kita.

Oleh karena itu, milikilah nilai keramahtamahan hidup, sehingga kita selalu mau dan mampu menyatakan kemurahan hati kepada setiap orang. Kita hidup di tengah masyarakat yang beragam agama, suku dan budaya yang berbedabeda. Realitas ini menuntut kita untuk semakin bersikap ramah dan bermurahhati. Sikap inilah yang akan menjaga kerukunan, kesatuan dan keharmonisan kita sebagai masyarakat dan bangsa. Keramahtahan inilah yang akan memperkuat relasi dan interaksi-interaksi di tengah-tengah masyarakat. Keramahtamahan tidak boleh hanya ada di rumah sakit (hospital) atau ketika bertemu orang sakit. Keramahtamahan harus mewujud setiap hari dan saat bertemu orang-orang di lingkungan rumah, dunia kerja, di jalan, di gereja dan juga di media sosial. Percayalah, keramahtamahan Saudara tidak akan sia-sia. Banyak orang akan merasakannya dan mensyukurinya kepada Allah, sehingga hidup Saudara semakin mempermuliakan-nya. Amin.

MM

Leave a comment