Kemuliaan Dalam Bingkai Derita

Quote-23Feb2020

Kel 24:12-18, Mzm 2, 2 Petrus 1:16-21, Mat 17:1-9

“Sebentar ma, jangan dimakan dulu. Sini aku foto dulu makanannya. Bagus ni buat instagram aku.”, seru seorang anak remaja kepada mamanya. Apakah saudara pernah mengalaminya? Dilarang makan kalo belum dapat foto yang bagus untuk dipajang di medsos. Atau jangan-jangan saudara sendiri ‘pelaku’nya? 🙂 Apapun status kita, entah sebagai ‘pelaku’ ataupun ‘korban’, yang jelas foto-foto makanan yang bertebaran di medsos menjadi salah satu tolak ukur trend bisnis yang sedang berkembang di Indonesia saat ini. Selama 5 tahun belakangan ini bisnis kuliner memang sedang naik daun. Makanan tidak hanya sekadar untuk mengenyangkan perut, tetapi juga untuk memuaskan mata dan indra pengecap ketika disantap. Itu sebabnya muncul berbagai kreativitas berhubungan dengan makanan di sekitar kita. Mulai dari burger tanpa roti (roti diganti nasi), sushi rendang, sampai tumpeng pun hadir dengan berbagai bentuk. Padahal bentuk kerucut pada tumpeng, dengan sengaja dipilih untuk menyampaikan sebuah pesan. Bentuk kerucut dipilih untuk menyimbolkan gunung. Kenapa gunung? Sebab gunung dipahami oleh orang Indonesia, secara khusus orang Jawa, sebagai tempat Tuhan bersemayam. Oleh sebab itu, dalam perayaan tumpeng hadir dengan bentuk kerucut untuk mengingatkan kehadiran Tuhan yang berada di posisi puncak dalam kehidupan, yang menolong dan menjaga manusia.

Gunung tidak hanya bermakna bagi orang Jawa, tetapi juga untuk orang Yahudi. Di gununglah Tuhan menyatakan kehendak kepada umat-Nya. Pertama, dalam peristiwa Musa di Gunung Sinai. Di sanalah Tuhan meneguhkan penyertaan-Nya dan memberikan 2 loh batu yang berisi hukum dan perintah yang harus diajarkan kepada bangsa Israel. Kedua, dalam peristiwa Transfigurasi Tuhan Yesus yang dirayakan hari ini. Transfigurasi memiliki makna yang dekat dengan metamorfosis → artinya sebuah perubahan rupa, bentuk dalam diri Tuhan Yesus yang terjadi, lagi-lagi di atas gunung. Dalam Matius 17:2 dikatakan wajah-Nya bercahaya seperti matahari, pakaiannya menjadi putih bersinar seperti terang.

Dalam peristiwa itu, hadir juga Musa dan Elia. Musa adalah nabi besar yang memimpin bangsa Israel keluar dari Mesir. Elia adalah nabi yang menyerukan agar bangsa Israel kembali kepada Tuhan. Keduanya adalah tokoh besar bagi bangsa Israel. Tidak berhenti sampai di situ, dari balik awan terdengarlah suara yang berkata, “Inilah Anak yang kukasihi, kepadanyalah aku berkenan, dengarkanlah Dia”. Pernahkah saudara mendengar kata-kata ini? Betul! Dalam peristiwa ketika Tuhan Yesus dibaptis (Mat 3:17). Pada waktu itu pernyataan ini menjadi sebuah peneguhan kedudukan Tuhan Yesus sebagai Anak Allah di tengah dunia sebelum Ia memulai pelayanan-Nya. Lalu, apa maknanya ketika kata yang sama disampaikan dalam Transfigurasi Tuhan Yesus?

Ada 2 makna yang dapat kita renungkan dari peristiwa Transfigurasi Tuhan Yesus, yaitu:

1.Transfigurasi, ketika Tuhan Yesus dimuliakan

Tuhan Yesus dimuliakan di atas gunung, bukan sebagai penghargaan atau hadiah atas kesetiaan-Nya kepada Bapa. Pemuliaan itu terjadi untuk menegaskan hakikat Tuhan Yesus, sebagai anak Allah yang menjadi manusia. Pada saat yang sama pemuliaan ini merupakan peneguhan sebelum Tuhan Yesus menjalani penderitaan-Nya.

2.Kemuliaan dalam Bingkai derita

Jika kita perhatikan, letak peristiwa Transfigurasi berada di antara pemberitahuan pertama dan kedua mengenai penderitaan Tuhan Yesus. Dari sini kita melihat bahwa kemuliaan itu terletak pada hakikat-Nya sebagai Allah yang menjadi manusia yang dalam kesetiaan rela menanggung penderitaan demi manusia. Dia merendahkan diri, rela menderita demi keselamatan manusia.

Di sini kita melihat bahwa, ketika banyak orang berpikir jalan menuju kemuliaan adalah jalan yang menanjak, kesuksesan, kemenangan, Tuhan Yesus menunjukkan bahwa jalan kemuliaan adalah jalan yang menurun, menghamba dan mengosongkan diri-Nya dalam kerelaan memberi diri bagi dunia.

Bagaimana dengan kita? Maukah kita belajar mengambil jalan kemuliaan yang sama dengan Dia? Kemuliaan yang terletak pada kerinduan untuk berkorban bagi orang lain. Kesediaan memikirkan orang lain dan merendahkan diri untuk menolong sesama. Jangan menunjuk atau menilai apakah yang lain sudah melakukannya atau belum. Lakukanlah mulai dari diri kita sendiri. Kemuliaan hadir ketika kita mau belajar memberi diri bagi sesama dalam ketulusan. Kiranya Tuhan menolong kita untuk melakukannya.

                                                                                                DRS

Leave a comment