KELUARGA MENSYUKURI PANGGILAN ALLAH

news-thumb1280

Lukas 2:41-52; 1 Samuel 2:18-20, 26, Kol 3:12-17

Berikut adalah sepotong curhatan seorang ibu anak satu kepada keponakannya, “Gw mah pusing orang pada bilang kenapa ndak nambah lagi anaknya. Ayo cepetan nambah biar anaknya ada temennya! Orang enak aja ya ngomongnya, gw yang jalanin. Punya anak udah umur segini, belum lagi biaya sekolahnya, belum lagi makan atinya, capek gw mah!”. Kegundahan ibu ini bukannya tanpa alasan sebab dia menyadari bahwa memiliki anak bukanlah perkara mudah. Anak merupakan anugerah dari Tuhan bagi sebuah keluarga. Layaknya sebuah anugerah yang diberikan bersamaan dengan tanggungjawab untuk dikerjakan, demikian juga kehadiran seorang anak. Anak merupakan anugerah yang harus dirawat dengan baik sebagai bentuk tanggungjawab kepada Tuhan.

Persoalannya, merawat itu bukan sekedar memberi makan, pakaian dan tempat tinggal yang baik sehingga si anak dapat bertumbuh dengan sehat. Merawat juga berarti mendidik anak. Mendidik dalam bahasa Inggris disebut education, yang berasal dari 2 kata, yaitu: ex (keluar) dan ducare (mengantar). Dengan demikian orangtua memiliki tanggungjawab untuk mengantar anak agar siap keluar, siap menjalani hidupnya. Orangtua diberi kesempatan oleh Tuhan untuk terlibat dalam mempersiapkan seseorang menjalani hidupnya. Itu sebabnya proses mendidik tidak bisa dipandang remeh. Orangtua perlu mempersiapkan diri dengan sungguh-sungguh, menjadi teladan bagi anaknya dan tidak bisa menyerahkan proses mendidik kepada pihak lain (apalagi kepada gadget). Proses mempersiapkan anak untuk bisa berjalan ke luar bukan hanya terkait dengan kemampuan intelektual semata tetapi juga mengarahkan mereka untuk mengenal dan taat kepada Tuhan.

Dua pasangan orangtua, Hana dan Elkana; Maria dan Yusuf, dapat menjadi teladan dalam proses mendidik anak. Dalam ketaatan kepada Allah kedua keluarga ini membiasakan diri untuk membimbing dan mengarahkan perkembangan seluruh aspek hidup anak-anak mereka. Anak-anak dimaknai sebagai anugerah Allah yang harus dirawat, diasah dan diasuh dengan semangat kasih. Semangat kasih pula yang membuat mereka rela menyerahkan anaknya bagi Tuhan. Hana dan Elkana mengajarkan kepada Samuel sejak kecil untuk ikut beribadah di rumah Tuhan. Mereka menyerahkan Samuel bagi Tuhan sebagai bentuk ungkapan syukur kepada-Nya. Mereka menyadari bahwa Samuel, anak yang dinantikan oleh mereka, merupakan anugerah Allah yang diserahkan kembali kepada Allah. Sejak masih anak-anak, Samuel menjadi pelayanan di hadapan Tuhan dalam asuhan imam Eli. Dalam ayat 26 dicatat bahwa Samuel yang muda itu semakin besar, semakin disukai baik di hadapan Tuhan maupun di hadapan manusia.

Dalam Injil Lukas dikisahkan bahwa Maria dan Yusuf mengajak Yesus merayakan Paskah di Yerusalem ketika Ia berusia 12 tahun. Bagi laki-laki Yahudi, usia 12 tahun merupakan usia penting sebab pada tahun berikutnya anak laki-laki itu dapat merayakan Paskah sebagai seorang anak Taurat. Untuk itu mereka harus menempuh ujian dan melaksanakan semua ketetapan agama sebagai syarat menjadi seorang laki-laki yang dianggap dewasa dalam ketentuan agama. Di usia itulah Yesus melihat upacara keagamaan paling meriah di Yerusalem. Dia juga berjumpa dengan para pemimpin agama yang sering berada di Bait Allah.

Dalam percakapan yang terjadi antara Yesus, Maria, dan Yusuf dalam Lukas, kita melihat bahwa Yesus menemukan jati diri-Nya (ayat 49). Ketika Ia menemukan jati diri-Nya, Ia pun menemukan keunikan relasi antar diri-Nya dan Bapa. Dalam kesadaran akan relasi-Nya dengan Allah, timbul tanggungjawab dalam langkah hidup selanjutnya yang membuatnya bertanggungjawab dalam kehidupan seharihari. Dalam Luk 2:52 dicatat bahwa Yesus makin bertambah besar dan bertambah hikmat-Nya dan makin dikasihi oleh Allah dan sesama. Catatan Lukas ini memberikan gambaran mengenai kehidupan yang dijalani oleh Yesus. Orang yang dikasihi Allah adalah orang yang hidup dalam ketaatan dan kesetiaan yang dapat dipertanggungjawabkan. Ia memiliki hidup yang didasarkan pada nilainilai sehingga menghadirkan kualitas hidup yang membuat manusia juga mengasihi-Nya.

Tindakan Hana dan Elkana, Maria dan Yusuf menjadi dasar pembentukan hidup Samuel dan Yesus. Samuel dan Yesus, keduanya dicatat sebagai sosok yang dikasihi Allah dan manusia. Teladan dari kedua pasangan inilah yang bisa kita terapkan di dalam keluarga masing-masing. Mendidik anak dengan menuntun dan menanamkan nilai dalam pengenalan akan Allah. Orangtua tidak dapat senantiasa mendampingi anak-anak yang Tuhan percayakan. Maka hal yang paling penting adalah membekali anak dengan prinsip-prinsip yang tepat sebagai modal untuk mengantar mereka keluar menjalani hidupnya.

Salah satu prinsip yang dapat dipelajari berdasarkan surat kepada jemaat di Kolese adalah iman kepada Allah tidak terlepas dari relasi terhadap sesama. Relasi sosial menjadi ukuran relasi dengan Tuhan, cinta kepada Tuhan akan hadir dalam cinta kepada sesama. Cinta kepada sesama berarti menghargai, memanusiakan dan menjaga kehidupan bersama yang telah Tuhan ciptakan baik adanya. Beberapa hari yang lalu kita merayakan Natal, ketika Sang Terang datang ke tengah dunia. Surat Kolese kembali mengingatkan kita untuk menjadi sekerlip cahaya di tengah dunia yang seringkali lupa untuk menghargai hidup sesamanya. Kerlipan cahaya yang kita pancarkan menggambarkan relasi kita dengan Sang Terang.

DRS

Leave a comment