Kegigihan Mengubah Keadaan

Quote-22Okt2019

Mzm 121, Lukas 18:1-8 & 2 Tim 3:14-4:5

Jika ditanya, “Apakah saudara tahu buah strawberry?”, tentu kebanyakan orang akan menjawab, “tahu dong!”. Gambar buah yang satu ini memang dapat dengan mudah kita temukan dimana saja. Ketika hendak menikmati sepotong es krim, kita akan berjumpa dengan pilihan rasa strawberry. Demikian juga ketika kita hendak menikmati sepotong kue, salah satu varian rasa yang umum ditawarkan adalah rasa strawberry. Buah dengan penampilan yang indah, warna merah yang cerah dan rasa yang menyegarkan ini banyak disukai orang. Namun, selain keindahannya dan rasanya yang menyegarkan ada sisi lain dari buah strawberry yang mungkin saja luput dari pengamatan kita, yaitu kerapuhannya. Terkena benturan, jatuh, saling bergesekan, apalagi jika tergesek sikat gigi; buah ini akan mudah terkoyak dan hancur. Seperti inilah strawberry generation, menurut Prof. Rhenald Kasali. Strawberry generation adalah generasi yang penuh dengan gagasan kreatif tetapi mudah menyerah dan gampang sakit hati. Generasi yang manja dengan fixed mindset yang mudah hancur ketika berhadapan dengan kompetisi dan ketidakpastian. Generasi yang terlihat indah, tetapi begitu rapuh ketika berhadapan dengan hambatan dan tantangan dalam hidup. Padahal hidup itu sendiri pada dasarnya adalah sebuah tantangan, yang dapat dilewati hanya dengan kegigihan dan bukan menghindarinya. Butuh daya juang, kesabaran, ketangguhan serta ketekunan untuk bisa bertahan sampai akhir.

Pesan yang sama juga disampaikan melalui perumpamaan Hakim yang tidak benar. Perumpamaan ini diletakkan setelah pengajaran Tuhan Yesus mengenai kedatangan Kerajaan Allah. Dengan demikian, seperti ada pesan tersirat agar para murid Kristus tetap tekun berdoa sementara menantikan kedatangan Kerajaan Allah. Ada 2 sosok yang dipertentangkan dalam perumpamaan ini, yaitu: hakim yang lalim dan Allah yang berbelarasa. Hakim lalim digambarkan sebagai pribadi yang tidak takut Allah dan tidak menghormati orang lain. Dalam jabatannya sebagai hakim, dia berkuasa menentukan apa yang salah dan benar. Itu sebabnya seorang miskin dan tidak berkuasa mustahil untuk mendapatkan keadilan di tangannya. Hakim lalim ini berhadapan dengan  janda yang mewakili kelompok miskin dan tidak berdaya. Namun, dalam kemiskinan dan ketidak­berdayaannya ia terus datang kepada hakim dan memohon agar haknya dibela. Berkat kegigihan dan ketekunan janda itu, hakim lalim itu berhasil diluluhkan.

Kondisi ini kemudian disandingkan dengan cara Allah memandang umat-Nya. Jika hakim yang lalim saja dapat dibujuk untuk bertindak, apalagi Allah. Allah pasti akan mendengarkan seruan umat-Nya. Itu sebabnya di bagian akhir perumpamaan dikatakan, “akan tetapi, jika Anak Manusia itu datang adakah Ia mendapati iman di bumi?”. Kalimat ini merupakan ajakan untuk tidak menyerah mempercayai Tuhan di tengah berbagai hambatan dan tantangan kehidupan.

Lalu bagaimana caranya untuk memiliki kegigihan dan tidak menyerah?

Mari belajar dari surat Rasul Paulus kepada Timotius, anak rohaninya. Rasul Paulus memberi dorongan kepada Timotius dalam menghadapi berbagi kesulitan yang akan dijumpainya. Kemungkinan pada waktu itu terjadi penganiayaan di luar gereja serta ada guru palsu di dalam gereja. Dalam menghadapi ini semua, Rasul Paulus menasehati Timotius untuk memelihara Injil, memberitakan Firman meskipun harus menanggung kesukaran. Timotius juga harus terus mengingat peran Kitab Suci serta tugasnya untuk memberitakan Firman Tuhan serta menuntun jemaat dalam kebenaran. Untuk bisa menyelesaikan tugasnya sampai selesai di tengah berbagai kesulitan tersebut, Rasul Paulus katakan kuasailah dirimu dalam segala hal. Kata Yunani yang digunakan adalah nephein yang berarti sederhana dan mandiri. Seperti seorang atlet yang harus terus menjaga dan melatih diri sehingga kondisinya tetap baik. Itu sebabnya dibutuhkan kegigihan bukan hanya untuk mencapai tujuan tetapi juga untuk membentuk karakter. Maka cara yang dibutuhkan adalah dengan melatih diri terus-menerus untuk memiliki daya juang menghadapi berbagai persoalan.

Dari kedua bacaan ini kita diajak untuk melihat 2 hal, yaitu:  

  1. Life is never flat. Hidup ini akan terus diisi dengan berbagai tantangan dan persoalan. Itu sebabnya kita perlu melatih diri untuk memiliki daya juang dan kegigihan dalam menghadapinya. Ingatlah bahwa kita tidak sendiri menghadapi segala sesuatu, sebab Allah senantiasa menjaga dan menjadi sumber pertolongan kita. Gusti mboten sare. Allah tidak pernah terlelap.
  2. Bagi keluarga yang sudah dipercayakan kehadiran anak atau cucu, maka tanggungjawab kita untuk melatih mereka menjadi para pejuang. Sekalipun saat ini kita memiliki kondisi yang jauh lebih sejahtera dari generasi sebelumnya, kita perlu melatih mereka untuk menghargai proses dan berusaha dengan gigih serta tekun untuk mencapai sesuatu. Kasih tidak hanya tampak ketika kita memberikan semua yang dikehendaki, tetapi juga ketika kita mengkondisikan agar mereka berusaha untuk mendapatkannya. Dengan demikian kita mengubahnya untuk tidak menjadi bagian dari STRAWBERRY GENERATION. Kita tidak bisa selalu ada bersama dengannya menghadapi berbagai persoalan. Bagian kita membekali mereka dengan kesadaran akan Tuhan, Sang Penjaga yang selalu menjaganya. Maka bersama dengan Tuhan-lah mereka menghadapi berbagai pergumulan itu. Latih dan didik anak serta cucu menjadi generasi yang penuh dengan gagasan kreatif, tangguh dan gigih menghadapi segala tantangan. Tuhan memberi hikmat dan menolong kita melakukannya.

  DR

Leave a comment