KEBANGKITAN KRISTUS MENGATASI KECEMASAN

news-thumb1280

(Yesaya 25:6-9, Mazmur 118:1-2, 14-24, Kisah Para Rasul 10:34-43, Markus 16:1-8)

Kecemasan adalah respon terhadap situasi tertentu yang mengancam dan merupakan hal yang normal terhadap situasi yang menekan kehidupan seseorang. Sekalipun kecemasan merupakan respon yang normal dan bisa dialami setiap orang, jika tidak diatasi dengan baik maka kecemasan dapat menjadi gangguan psikologis yang membuat penderitanya mengalami rasa takut, keprihatinan dan kekhawatiran yang berkepanjangan, bahkan gugup. Gangguan kecemasan yang seperti itu dapat mempengaruhi aktivitas sehari-hari seseorang. Bagaimana kita dapat mengatasi hal-hal yang membuat kita merasa cemas, yang kita hadapi sehari-hari agar kita tidak mengalami gangguan kecemasan?

Dalam peristiwa penangkapan, penghakiman, penyaliban, kematian dan pemakaman Tuhan Yesus, kita dapat melihat berbagai situasi yang membuat para murid dan semua orang yang mengenal Tuhan Yesus dengan dekat merasakan ketakutan yang begitu mencekam. Situasi yang mereka hadapi saat itu benar-benar membuat mereka merasa terancam dan tertekan, sehingga dicatat bahwa sekalipun para murid sudah berjanji untuk setia dan tetap mengikut Yesus, mereka semua pergi meninggalkan Tuhan dan hanya berani melihat dari kejauhan. Bahkan ada juga yang menyangkal bahwa ia mengenal Dia.

Kita saat ini menyambut Minggu Paskah dengan sukacita, tetapi para murid yang menjadi saksi pertama kebangkitan-Nya tidak demikian. Alkitab mencatat bahwa  pada hari itu, hari pertama dalam minggu itu, pagi-pagi benar, mereka  datang ke kubur Yesus hendak merempah-rempahi mayat-Nya. Mereka tidak datang dengan langkah riang dan penuh sorak sorai, mereka datang dengan ketakutan dan kekhawatiran, apakah mereka diberi ijin untuk merempah-rempahi Dia, bukankah kubur-Nya diberi materai pemerintah dan dijaga dengan ketat? Jika mereka dapat ijin, apakah mereka, para perempuan dapat menggulingkan batu besar yang digunakan untuk menutup kubur itu? Kesulitan apa lagi yang akan mereka hadapi di depan setelah Guru mereka ditangkap dan mati? Hari itu mereka pergi ke kubur Yesus dengan penuh kecemasan, muka mereka murung dan penuh kesedihan, langkah mereka gemetar namun penuh kehati-hatian. Kecemasan karena situasi yang mengancam dan menekan mereka menyelubungi diri mereka.

Tuhan melihat dan mengerti semua yang mereka alami. Ia membiarkan mereka mengalami semua itu bersama-sama dengan Dia. Tuhan tidak mengangkat dan meniadakan situasi yang menakutkan dan menekan mereka, yang Ia lakukan adalah menyatakan kepada mereka bahwa Ia adalah Tuhan yang Mahakuasa dan dapat dipercaya, Ia bangkit dari antara orang mati, pintu kubur yang merintangi para murid dari-Nya digulingkan. Ia membuat semua penjaga gentar ketakutan dan jadi seperti orang mati karena menyaksikan kebesaran-Nya (Matius 28:4). Ia tidak ada lagi dalam kubur, kubur tidak dapat menahan diri-Nya, maut tidak dapat menguasai-Nya. Tuhan Yesus berkuasa untuk mengatasi semua hal yang pada waktu itu menimbulkan kecemasan dalam diri murid-murid-Nya. Dan melalui peristiwa itu, Ia juga mau menyatakan bahwa bukan hanya kecemasan para murid pada waktu itu saja yang dapat diatasi-Nya, tetapi juga kecemasan dalam diri setiap orang pada hari ini.

Situasi apa yang membuat kita takut dan tertekan, yang mencengkram kita dengan kecemasan saat ini? Tuhan kita Yesus Kristus sudah bangkit dari antara orang  mati, menyatakan kepada kita bahwa kuasa-Nya dapat menolong kita mengalahkan hal yang paling menakutkan dalam hidup kita, yaitu kematian. Jika yang paling menakutkan saja sudah dapat dikalahkan-Nya, tidakkah kuasa-Nya itu juga akan menolong kita mengatasi berbagai kecemasan yang kita jumpai sehari-hari dalam hidup kita? Selamat berjuang bersama Tuhan yang bangkit.

LN

Leave a comment