KEBAHAGIAAN DALAM KERAJAAN ALLAH

Quote-03Feb2020

(Mikha 6:1-8, Mazmur 15, 1Korintus 1:18-31, Matius 5:1-12)

Bahagia, siapa yang tidak menginginkannya? Semua orang, bahkan semua makhluk ingin hidup bahagia. Karena itu semua berusaha sedemikian rupa untuk mencari dan menemukan kebahagiaan. Sayangnya tidak semua orang tahu apa yang benar-benar dapat membahagiakan dirinya. Banyak orang berpikir bahwa jika semua keinginan mereka dapat dipenuhi, maka mereka akan bahagia. Tetapi ternyata tidak demikian, keinginan dalam diri manusia ternyata tidak pernah benar-benar dapat dipuaskan. Mereka tidak pernah bisa menjumpai keadaan ideal yang benar-benar dapat membahagiakan mereka, sebagaimana selama ini mereka pikirkan dan bayangkan. Itu sebabnya meskipun sudah berusaha mencari dan mengejar kebahagiaan dengan begitu giat, banyak orang tetap mendapati diri mereka tidak bahagia. Mengapa? Karena mereka mencari dan mengejar kebahagiaan yang salah.

Kebahagiaan sesungguhnya tidak bergantung pada keadaan kita, baik atau tidak baik, dalam kondisi senang atau susah, sehat atau sakit, berkelimpahan ataupun kekurangan. Orang-orang yang memiliki kebahagiaan sejati akan tetap bahagia sekalipun berbagai kondisi sulit bisa hadir dalam hidupnya. Apapun kondisi yang sedang dihadapi, orang-orang yang memiliki kebahagiaan sejati akan senantiasa merasa cukup dan tidak akan kehilangan kebahagiaannya. Di mana kebahagiaan yang seperti itu dapat kita temukan? Pemazmur dalam Mazmur 62:1 berkata, “Hanya dekat Allah saja aku tenang, dari pada-Nyalah keselamatanku.” Orang-orang yang bisa tenang tentram dan merasakan kebahagiaan yang tetap adalah mereka yang hidup dekat dengan Allah. Dan orang-orang yang boleh diam dekat dengan Allah adalah mereka yang mengenal Allah dan hidup sesuai dengan ketetapan dan perintah-Nya (Mazmur 15).

Mereka mungkin akan mengalami berbagai situasi dan kondisi yang tidak enak, yang bagi kebanyakan orang mereka tidak akan dilihat dan dipandang sebagai orang yang bahagia, tetapi dalam semuanya itu mereka lebih daripada orang-orang yang menang (Lihat Roma 8:37). Bagian Injil yang kita baca hari ini (Matius 5:1-12) sering disebut dengan istilah “Ucapan Bahagia”, seperti judul perikop yang diberikan oleh LAI (Lembaga Alkitab Indonesia). Dalam Ucapan Bahagia ini, Tuhan Yesus menyebutkan berbagai macam situasi yang oleh kebanyakan orang, mereka yang mengalaminya dipandang sebagai orang-orang yang tidak bahagia. Tetapi di hadapan Tuhan, orang-orang seperti mereka itulah yang justru disebut sebagai orang yang berbahagia oleh Tuhan. Dalam keadaan yang menurut banyak orang tidak akan disebut Bahagia karena mereka miskin, berdukacita, lemah, haus dan lapar akan kebenaran, harus menyatakan kemurahan hati, hidup dalam kesucian dan menghadapi berbagai penganiayaan, di sana mereka justru akan berbahagia, karena dalam semua yang mereka hadapi, Tuhan berkenan hadir dan memberikan berkat-Nya atas mereka. Dalam semua situasi itu, mereka akan mengalami kehadiran Tuhan yang akan memberi kekuatan dan penghiburan kepada setiap mereka. Kehadiran Tuhan, campur tangan Tuhan, karya Tuhan, itulah yang menjadi sumber dan dasar kebahagiaan yang sejati dalam Kerajaan Allah.

Semua materi yang dapat kita miliki dan semua pencapaian yang dapat kita capai dalam hidup kita, tidak pernah akan ada cukupnya bagi kita. Setelah kaya, kita ingin terus bertambah kaya, setelah pintar, kita ingin terus bertambah pintar, setelah berkuasa, kita akan terus mengejar kekuasaaan, sampai kita bisa menjadi “allah”. Itu natur keinginan kita, sehingga tidak akan pernah ada Bahagia karena kita tidak akan pernah merasa cukup dengan semua keinginan kita. Tetapi Allah, Ia dapat memberi rasa cukup kepada kita, sehingga bersama Dia, kita dapat berkata, tidak ada apa-apa lagi yang aku inginkan, tidak ada lagi yang kurang… (Mazmur 23:1).

LN

Leave a comment