Kasih Setia Allah kepada Ciptaan-Nya

WhatsApp Image 2021-02-26 at 11.35.06

(Kejadian 9:8-17)

Bacaan di atas berbicara tentang perjanjian yang diadakan Allah dengan ciptaan-Nya. Kata ‘perjanjian’ ini diterjemahkan dari kata beriyth dalam bahasa Ibrani, yang secara mendasar berarti perjanjian, ikatan, persatuan atau persekutuan (konfederasi). Dengan pengertian ini, kita memahami besarnya inisiatif Allah untuk menjalin persekutuan atau ikatan kasih dengan ciptaan-Nya. Memang, Alkitab mencatat bahwa alasan terjadinya air bah adalah bejatnya kejahatan manusia. Namun, air bah itu terjadi bukan dalam rangka menghapus sejarah kehidupan di muka bumi. Air bah itu terjadi dengan suatu rencana kasih untuk membarui bumi dengan kualitas hidup yang lebih baik. Nuh dan keluarganya, yang dikenal beriman dan hidup bergaul dengan Allah, diselamatkan bersama-sama dengan pasangan ciptaan lainnya untuk mengawali segala sesuatu secara baru bersama Tuhan.

Suatu perjanjian tentulah mengandung janji atau harapan baik untuk masa depan. Dalam perjanjian dengan ciptaan-Nya, Tuhan berjanji tidak akan membinasakan bumi dan makhluk hidup dengan air bah lagi. Tuhan seolah mengajak manusia untuk tidak fokus pada peristiwa air bah yang telah terjadi; melainkan fokus pada janji pemeliharaan Tuhan ke masa depan. Tuhan berjanji untuk memelihara kelangsungan hidup segala makhluk, dan pemeliharaan itu terjadi untuk waktu yang sangat panjang. Tuhan memberi kesempatan baru untuk ciptaan kembali menata hidup. Ini berarti, ketimbang memikirkan soal kiamat, penghakiman dan hukuman, adalah lebih bermakna untuk kita berpikir tentang pengelolaan kehidupan di bumi ini. Seperti Nuh, kita harus memiliki visi dan misi untuk mengisi bumi ini dengan orang-orang beriman, orang-orang yang bergaul dengan Tuhan dan kehidupan yang harmonis dengan seluruh ciptaan.

Kita lihat bahwa perjanjian yang Tuhan nyatakan ini bersifat tanpa syarat. Tuhan tentu tahu bahwa manusia masih berpeluang bersikap jahat dalam hidupnya. Namun, janji pemeliharaan ini tetap dinyatakan-Nya. Artinya, kasih setia Allah kepada ciptaan-Nya lebih besar daripada dosa dan kejahatan ciptaan-Nya. Perjanjian ini juga bersifat permanen, artinya tetap berlaku sampai selama-lamanya. Sebagai tandanya, Allah menaruh busur-Nya di langit, yakni pelangi. Artinya, selagi masih ada langit, matahari, awan dan hujan, janji pemeliharaan Tuhan itu akan terus dijaga. Kasih setia Tuhan akan terus tercurah bagi ciptaan-Nya selama bumi dan alam semesta ini masih ada. Bahkan, pemazmur bersaksi bahwa kasih setia Tuhan itu selalu baru setiap hari atas ciptaan-Nya. Ini artinya, jangan sekali-kali kita ragu lagi atas besarnya kasih dan panjangnya kesetiaan Tuhan kepada kita.

Perlu juga ditekankan di sini bahwa cakupan perjnajian Allah itu tidak hanya terbatas pada manusia saja, melainkan juga mencakup seluruh makhluk secara universal. Menurut ayat 10, pemeliharaan Tuhan itu juga mencakup burung-burung, ternak dan segala binatang liar yang hidup di bumi, yang keluar dari bahtera bersama-sama dengan Nuh. Artinya, dalam tatanan bumi yang baru ini, manusia harus menyadari keberadaannya yang sama pentingnya dengan segala makhluk. Meski manusia memiliki keistimewaan dengan adanya akal budi, namun keistimewaan itu jangan dipakai untuk bersikap semena-mena terhadap ciptaan lainnya. Manusia, binatang dan alam sama-sama harus dilihat sebagai sasaran atau objek kasih Allah. Itu berarti, Tuhan mengajak kita untuk serius memperhatikan kelestarian alam ini. Kita dipanggil bukan untuk semata menguasai bumi ini, tetapi juga untuk memelihara dan mengelolanya sesuai dengan rencana kasih Allah.

Saudara, seluruh pemaknaan ini hendaknya menyadarkan kita akan jati diri Allah yang penuh kasih setia. Pada satu sisi, Allah kita itu penuh kasih, karena Allah tidak dapat menahan diri-Nya untuk menyatakan kasih-Nya kepada ciptaan-Nya. Allah selalu ingin menyatakan kasih dan kebaikan-Nya kepada seluruh ciptaan.  Allah tidak tahan melihat bumi menuju kebinasaan. Itu sebabnya, Ia terus-menerus melakukan karya-karya baik untuk kembali memulihkannya. Ini berarti bahwa semua orang yang mengenal Allah dan hidup di dalam Allah haruslah juga tergerak untuk mengupayakan pemulihan bumi ini. Mari sikapi secara serius tentang pemanasan global. Mari serukan agar bumi tidak dieksploitasi secara berlebihan. Mari jaga lingkungan agar tidak rusak akibat sampah yang dibuang secara sembarangan. Mari jaga udara kita agar tidak tercemar secara akut.

Pada sisi lain, Allah juga adalah sosok yang setia. Sekali Ia menyatakan janji-Nya, selamanya akan Ia pegang sampai tergenapi. Kita percaya bahwa Allah terus berinisiatif dan berprakarsa untuk membangun keharmonisan relasi dengan ciptaan-Nya dan keharmonisan relasi sesama antar ciptaan. Dengan demikian, kita tidak perlu ragu akan kesetiaan Tuhan dalam memelihara kehidupan ini. Percayalah, semua masih berada di dalam kendali kuasa dan rencana baik Allah kita. Tuhan memberkati kita. Amin

 

MM.

Leave a comment