Kasih Lintas Batas

IMG-20200815-WA0006

Matius 15:21-28

Pada tanggal 17 Agustus 2020 ini, Indonesia genap merayakan hari Kemerdekaan yang ke-75. Artinya, 75 tahun sudah kita menikmati kemerdekaan sebagai sebuah negara. Itu waktu yang panjang dan anugerah besar yang layak disyukuri kepada Tuhan. Kemerdekaan ini adalah buah rahmat Allah melalui perjuangan para pahlawan dari berbagai suku di Indonesia. Pertempuran mereka terjadi di berbagai daerah dan melibatkan rakyat tanpa batas. Pada masa perjuangan, perbedaan suku, budaya dan agama menjadi suatu kekuatan besar; yang dengannya kita mampu mengusir penjajah yang menindas hidup kita. Indonesia berjuang demi satu tujuan, yakni menjadi bangsa yang merdeka, bermartabat, berdaulat dan setara dengan bangsa-bangsa lain di dunia.

Nilai kemerdekaan dan kesetaraan yang diperjuangkan bangsa Indonesia ini agaknya berbeda dengan pemahaman orang Israel tentang kebangsaan mereka. Pada zaman Alkitab, bangsa Israel cenderung memandang diri mereka lebih tinggi dari bangsa manapun di dunia. Menurut mereka, Israel-lah bangsa pilihan Allah. Allah hanya memandang dan menghargai Israel, ; bangsa-bangsa lain tidak. Akibatnya, orang Israel cenderung memandang rendah bangsa-bangsa di luar Israel dan tidak mau mereka bergaul dengan mereka.

Suatu kali, Tuhan Yesus berkunjung ke daerah Tirus dan Sidon. Dulunya, kota ini masuk kekuasaan Israel, sebelum akhirnya menjadi wilayah Lebanon. Di kota ini, seorang perempuan mengikuti rombongan Tuhan Yesus sambil berseru: “Kasihanilah aku, ya Tuhan, Anak Daud, karena anakku perempuan kerasukan setan dan sangat menderita” (ay 22). Kedatangan dan seruan perempuan ini mengherankan. Karena perempuan ini memohon belas kasihan kepada seorang asing yang tidak sesuku atau sebangsa dengannya. Selain itu, perempuan ini menyebut Yesus sebagai “Tuhan” dan “Anak Daud”. Meski tahu ada batas-batas sosial dan religius di antara mereka, namun ia tetap memohon belas kasihan untuk kesembuhan anaknya yang kerasukan setan.

Sepertinya, perempuan itu berteriak berkali-kali, hingga menarik perhatian umum dan mengganggu kenyamanan para murid. Sampai-sampai, para murid meminta agar Tuhan Yesus menyuruhnya pergi menjauh. Nampaknya, bagi para murid, perempuan itu tidak penting dan pergumulannya tidak menguntungkan. Sikap ini didorong oleh paradigma mereka sebagai orang Yahudi bahwa orang asing tidak berharga, apalagi seorang perempuan susah. Akibatnya, belas kasihan mereka tidak meluap. Kasih mereka terperangkap oleh suku dan status mereka.

Awalnya, Tuhan Yesus juga tidak spontan merespon perempuan ini. Ia sengaja. Ia ingin melihat kesungguhan hati perempuan itu. Apakah ia sungguh percaya kepada-Nya atau sekadar gurauan. Ternyata, perempuan itu sangat percaya kepada-Nya. Ia terus-menerus berseru, tidak peduli apa kata orang. Meski diingatkan bahwa ia bukan orang Israel, ia tetap menyembah di kaki Tuhan Yesus. Meski dinasehati bahwa tidak patut mengambil paksa roti dari anak-anak dan melemparkannya kepada anjing, namun perempuan itu tetap merendahkan hati. Ia tahu bahwa ia tidak memaksa,; ia hanya meminta remah-remah dan  memohon belas kasihan Tuhan Yesus.

Sikap perempuan ini pun diapresiasi Tuhan Yesus: “Hai ibu, besar imanmu” (ay 28). Semangat dan perjuangannya tanpa batas. Sikapnya menjadi bukti iman yang besar, yang bahkan tidak banyak ditemui di antara orang-orang Israel. Inilah yang diharapkan Tuhan Yesus, keterbukaan insan demi insan kepada kasih dan karya keselamatan-Nya. Kristus memang hadir untuk mengasihi semua orang, termasuk perempuan itu. Perempuan itu pun pulang dan menemukan anaknya telah sembuh, itulah buah imannya dan buah anugerah Allah baginya.

Saudara, pekan ini kita tidak hanya merayakan HUT kemerdekaan RI ke -75, tetapi juga merayakan HUT Penyatuan Gereja Kristen Indonesia (GKI) yang ke-32. Sebagai tubuh Kristus di dunia, GKI juga menghidupi kasih dan karya yang lintas batas. Anggota-anggota GKI berasal dari berbagai suku, bangsa dan budaya di Indonesia. Pelayanan dan kesaksian GKI juga terarah pada dan melibatkan seluruh elemen bangsa yang berbeda. Indonesia bukan hanya tempat tinggal GKI, tetapi tempat berkarya secara penuh. Artinya, seluruh konteks Indonesia menjadi kontek pergumulan GKI. GKI terbuka untuk berdialog dan bekerjasama dengan agama dan budaya lain demi kesejahteraan, keadilan dan perdamaian di bumi Indonesia.

Saudara, milikilah kasih yang lintas batas, bahkan yang tanpa batas. Terbukalah untuk mengenal, mendengarkan dan memahami orang lain yang berbeda-beda. Teladanilah kasih Kristus, yang mau berbelas kasihan kepada orang-orang yang berkesusahan, apapun latar belakang kesukuan dan kebangsaan. Fokuslah kepada pekerjaan Tuhan untuk menghadirkan kebenaran, keadilan, kedamaian dan keselamatan bagi seluruh umat manusia. Jauhi dan lawanlah segala bentuk diskriminasi, sikap membeda-membedakan dan segala bentuk sinisme antar golongan. Dengan begitu, kemerdekaan Indonesia akan menghadirkan kemaslahatan bagi seluruh rakyat, yakni kesatuan, kebersamaan dan perdamaian yang tak terbatas (tidak berkesudahan).

                                                                                                            MM

Leave a comment