Kasih Allah untuk Semua

news-thumb1280

(Matius 15:10-28)

Kualitas kasih seseorang terlihat dari sikapnya terharap orang lemah, tidak berdaya dan tersisihkan. Jika seseorang hanya mampu mengasihi orang kaya, kuat, hebat berkuasa dan baik, kasihnya sangatlah dangkal. Ia mengharapkan imbalan. Kasihnya menuntut balas budi. Mengasihi untuk dikasihi bukanlah kasih yang berkualitas. Sebaliknya, jika seorang mampu mengasihi orang yang tidak berdaya, berarti kasihnya tulus. Tanpa balasan apapun. Ia memiliki belarasa yang mendalam. Itulah kasih yang berkualitas. Bukan karena dilihat orang, atau sekadar mengikuti aturan agama, atau takut tidak diberkarti Tuhan, kasih sejati digerakkan oleh kasih Allah yang tanpa batas.

Dalam bacaan Injil di atas, terjadi percakapan serius antara Tuhan Yesus dengan orang Farisi. Percakapan terjadi karena orang Farisi merasa heran saat melihat Tuhan Yesus dan murid-murid- Nya makan dengan tangan yang tidak dicuci. Bagi orang Farisi, tindakan itu najis menurut hukum agama. Adanya aturan membuat orang Farisi mudah mendeteksi apakah perbuatan seseorang benar atau salah, baik atau buruk. Tetapi, tuduhan tersebut direspon Tuhan Yesus dengan menyatakan bahwa “Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku” (ayat 8). Orang Farisi hanya memerhatikan kewajiban agama dan kesalehan personal, tetapi mengabaikan kesalehan sosial. Mereka taat aturan agama, tetapi gagal menghormati orang lain. Mereka rajin memberikan persembahan kepada Allah, tetapi gagal mengasihi bapa dan ibu mereka sendiri. Hal najis atau tidak, benar atau tidak, merupakan hal personal dengan Allah. Tugas manusia adalah mengasihi Tuhan dan sesama dengan segenap hati.

Lebih lanjut, Tuhan Yesus mengajarkan bahwa bukan yang masuk ke dalam mulut yang menajiskan orang, melainkan apa yang keluar dari mulutlah yang menajiskan orang. Yang masuk ke dalam mulut adalah materi-materi fana yang akan segera keluar dan di buang di jamban. Itu tidak membuat seseorang menjadi najis atau haram. Tetapi, yang keluar dari mulutlah yang menajiskan, yakni semua perkataan buruk, makian, fitnah, rayuan-tipuan dan kebohongan. Semua ini lahir dari hati yang tidak memiliki kasih. Kasih ilahi selalu mendorong seseorang untuk berbuat baik dan adil kepada sesama manusia, tanpa pandang bulu baik suku, adat, kebangsaan maupun agama.

Itulah sebabnya, pada perikop kedua dalam bacaan di atas, kita melihat Tuhan Yesus secara sengaja memasuki daerah bangsa lain yang dianggap kafir oleh orang Yahudi. Saat itu datanglah seorang perempuan Kanaan kepada Tuhan Yesus meminta pertolongan bagi anaknya yang sakit. Bagi orang Yahudi, perempuan ini memiliki posisi minoritas ganda; yakni sebagai perempuan yang dianggap lebih rendah dari laki-laki, dan sebagai orang asing yang dianggap kafir oleh orang Yahudi. Akan tetapi, ungkapan “Kasihanilah aku, ya Tuhan, Anak Daud…” menunjukkan bahwa perempuan itu memiliki iman dalam dirinya. Meskipun Kristus nampak cuek, perempuan itu tidak menjadi ciut. Bahkan, ketika Tuhan Yesus menggambarkannya bagaikan anjing (demikianlah orang Yahudi memandang bangsa-bangsa lain), namun perempuan itu tidak menyerah. Dalam kerendahan hati ia mengakui “Benar Tuhan…namun anjing itu makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya” (ayat 27). Perkataan itu mengejutkan Tuhan Yesus, sebab nyatanya ia memiliki kepercayaan, kesungguhan dan kerendahan hati yang mendalam. Orang yang dianggap tidak layak ini ternyata memiliki sikap iman yang teguh melebihi orang- orang Yahudi. Akhirnya, Kristus mendengarkan permohonannya dan menyembuhkan anak perempuan itu.

Di sekitar kita ada banyak orang lemah, tidak berdaya dan tersisih oleh masyarakat; seperti para gelandangan, para pengemis, para pengangguran, orang-orang difabel, dan orang-orang miskin yang tidak dapat menolong dirinya sendiri. Kita mungkin tidak sesuku, seagama, sekelurahan, atau segeraja dengan kita. Tetapi, bagi Allah, mereka layak dikasihi. Bagi Allah, yang terutama bukanlah predikat lahiriah, melainkan sikap hati di hadapan Allah. Oleh karena itu, hendaknya kita terus berbuat baik; bukan karena ingin mendapat balasan, atau terpaksa karena desakan aturan, ataupun karena ikatan-ikatan kesukuan. Kita berbuat baik karena Tuhan menghendaki kita demikian. Seperti Kristus mengasihi kita yang berdosa ini, hendaknya kita juga berani mengasihi tanpa pandang bulu.

MM

 

Leave a comment