Janji yang Manis

news-thumb1280

2 Samuel 7:1-11. 16; Luk 1:26-38

Ada yang pernah dengar atau tahu istilah PHP? Kalo pertanyaan ini diajukan kepada remaja, mereka pasti langsung jawab PHP= Pemberi Harapan Palsu. Istilah yang ditujukan kepada orang yang pernah membuat janji, sehingga menimbulkan pengharapan bagi pihak lain, tetapi tidak juga menepati janji tersebut. Oleh karena itu, supaya tidak jadi korban PHP, penting bagi kita untuk menyadari pihak yang kepadanya kita menaruh pengharapan atau memegang janjinya.

Seperti Daud yang memegang janji dan menaruh pengharapan-Nya dipihak yang tepat, yaitu pada Tuhan. Kenyamanan tinggal di istana dan keamanan dari para musuh yang mengganggu, adalah berkat yang Daud terima dari Tuhan. Namun, kenyamanan dan kelimpahan berkat yang telah diterima oleh Daud, tidak membuatnya lupa kepada Sang Sumber Berkat, yaitu Tuhan. Di tengah kenyamanan itu, Daud berefleksi dan mengutarakan keinginannya kepada Natan untuk membangun ‘rumah’ bagi Tuhan. Atau lebih tepatnya tempat untuk meletakkan Tabut Allah, simbol dari kehadiran Allah dan tempat berkumpul serta beribadah bagi orang Israel.

Kerinduan Daud ini mendapat respon dari Tuhan yang disampaikan melalui nabi Natan. Tuhan berkehendak lain, Ia tidak mengijinkan Daud untuk membangun Bait Allah, melainkan keturunannya nanti. Dalam konteks inilah Tuhan juga memberikan janji untuk mengokohkan Kerajaan Daud. Janji inilah yang berkembang menjadi sebuah janji penyelamatan bagi seluruh bangsa Israel, yaitu kedatangan Mesias dari garis keturunan Daud yang akan membebaskan bangsa Israel. Janji inilah yang terus dipegang dan dipelihara serta dinanti-nantikan oleh bangsa Israel selama ribuan tahun lamanya.

Janji itu ditepati ribuan tahun kemudian melalui kelahiran Yesus dari rahim perawan Maria. Tuhan bukanlah PHP, Ia senantiasa ingat dan berpegang pada janji yang telah dinyatakan-Nya. Ia menepati janji- Nya dengan cara yang kreatif dan di luar pemahaman manusia. Penggenapan janji-Nya tidak terbatas oleh waktu dan cara tertentu, sebab segala sesuatu mungkin di dalam Tuhan.

Berita tentang kehamilan Maria disampaikan oleh Gabriel, malaikat yang juga menyampaikan kabar kehamilan Elisabet kepada Zakharia. Gabriel berkata kepada Maria, “Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah. Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi.

Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya, dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan.”. Pesan yang disampaikan oleh Gabriel ini mau menyatakan bahwa Maria adalah orang yang dipilih oleh Allah untuk menggenapi janji-Nya dan rencana kelahiran Yesus bukanlah sebuah karya acak Allah, melainkan ada dalam rancangan Tuhan terkait dengan janji-Nya kepada Daud.

Sebagai orang Yahudi, janji mengenai kehadiran Mesias bukanlah sesuatu yang asing. Maria telah mengenal dan menantikan pengokohan kembali kerajaan Daud. Ketika mendengar pesan dari Gabriel, Maria tidak tinggal diam. Maria merespon dan berkata, “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.”. Maria tidak hanya berpangku tangan dan menantikan penggenapan janji Allah. Ia mau memberi diri dan terlibat dalam penggenapan janji Tuhan bagi bangsa Israel. Sekalipun tantangan yang harus dijumpainya tidaklah mudah.

Di Minggu Adven IV kita diajak untuk belajar 2 hal, pertama bahwa Tuhan tidak lalai menepati janji yang telah diberikan-Nya. Oleh karena itu, ketika hidup berada di tengah segala gelombang yang menekan dengan hebat, ingatlah akan janji penyertaan-Nya. Janji itu yang akan menolong kita tidak mudah terombang ambing oleh gelombang dunia, tetapi terus bertahan sampai bisa melihat rancangan-Nya dalam hidup kita. Janji Tuhan digenapi dengan cara dan waktu yang tanpa batas. Kedua, belajar dari Maria yang hidup di dalam janji Tuhan dan mau dipakai Tuhan membawa keselamatan di tengah dunia. Maukah kita sebagai orang percaya yang hidup di dalam janji Tuhan juga membawa keselamatan dan menjadi kabar baik di tengah dunia? Menjadi tangan dan kaki yang membawa pemulihan bagi mereka yang berada di dalam kekurangan, ambil bagian dalam pelayanan di dalam rumah-Nya, yaitu gereja; menggunakan kesempatan bekerja dengan baik dan tidak menjadikannya sebagai alasan untuk tidak terlibat dalam pelayanan; mengupayakan kedamaian dan kesejahteraan di dalam kehidupan rumah tangga dan bukan hanya di gereja. Dengan demikian kita telah memberi diri terlibat untuk berkarya memenuhi kebaikan janji- Nya yang selalu manis kepada dunia.

DRS

Leave a comment