Jangan Terus Menentang

5 jul

Matius 11:16-19, 25-30

Ada sebuah pemahaman yang dipegang oleh sebagian besar masyarakat bahwa seseorang membutuhkan waktu sebanyak 21 hari untuk mengubah kebiasaannya. Pemahaman ini rupanya lahir dari sebuah buku yang ditulis oleh dr. Maxwell Maltz, seorang ahli bedah plastik yang berjudul Psycho Cybernetics pada tahun 1960. Dalam bukunya dr. Maltz mengatakan bahwa pasiennya membutuhkan waktu 21 hari untuk terbiasa dengan wajah baru mereka setelah menjalani operasi plastik. Dari sini ia menyimpulkan bahwa manusia memerlukan waktu sekitar 3 minggu untuk beradaptasi dengan segala perubahan dalam hidupnya.

Beberapa tahun belakangan ini muncul hasil penelitian dari Phillippa Lally dari University College London yang dipublikasikan dalam European Journal of Social Psychology. Dalam penelitiannya ia menemukan bahwa lama proses untuk mengubah kebiasaan itu bervariasi tergantung pada tingkat kesulitannya. Ia mengatakan waktu yang diperlukan antara 18-254 hari tergantung pada masing-masing individu. Sekalipun berbeda, kedua hasil penelitian ini menyampaikan pesan yang sama, yaitu tidak mudah mengubah suatu kebiasaan yang sudah dilakukan selama ini. Butuh waktu yang cukup lama untuk beradaptasi dengan perubahan yang ada. Semakin lama suatu kebiasaan dilakukan akan semakin panjang waktu yang dibutuhkan untuk berubah.

Hal ini yang dihadapi oleh Yohanes Pembaptis dan Tuhan Yesus ketika mereka hendak melakukan perubahan dan pemulihan di tengah kehidupan masyarakat Yahudi. Mereka harus berhadapan dengan penentangan dan penolakan yang dilakukan khususnya oleh orang Farisi dan para ahli Taurat. Yohanes Pembaptis dan Tuhan Yesus, dianggap sebagai orang aneh di tengah masyarakat. Yohanes Pembaptis datang dengan penampilan yang berbeda dengan kebiasaan orang lain. Ia seorang petapa yang tinggal di padang gurun. Ia memakai jubah bulu binatang dan memakan belalang serta madu hutan. Ia juga tidak minum anggur dan karena seluruh kebiasaan yang berbeda ia dianggap sebagai orang yang kerasukan setan. Tuhan Yesus yang tampil sebagai sosok yang berbeda dengan Yohanes. Ia memakan makanan sama seperti yang lain, ia bergaul dengan semua orang, termasuk orang berdosa dan kemudian orang menyebutnya sebagai seorang pelahap dan peminum. Rasanya hidup seperti apapun yang dijalani baik oleh Yohanes Pembaptis maupun oleh Tuhan Yesus, tetap saja salah atau selalu saja ada yang kurang dimata mereka.

Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa mereka bersikap seperti itu terhadap Yohanes Pembaptis dan Tuhan Yesus? Inti persoalannya terletak pada keengganan mereka untuk mengalami perubahan dan pemulihan. Mereka tidak menginginkan kebenaran dan karena itu selalu mencari alasan untuk menentang dan menolak perubahan yang disampaikan oleh Yohanes dan Tuhan Yesus. Mereka takut jika perubahan itu terjadi, maka mereka akan kehilangan kedudukan dan pengaruhnya di tengah masyarakat. Mereka enggan untuk mengubah kebiasaan lama dengan kebiasaan yang baru.

Sekalipun terus-menerus berhadapan dengan para penentang yang menolaknya, Tuhan Yesus tetap menyatakan diri sebagai seorang pemimpin yang rendah hati, lemah lembut dan ramah. Ia mengatakan di ayat 28, “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.” Undangan untuk datang kepada-Nya ditujukan kepada mereka yang sedang berusaha untuk melakukan perubahan dan pemulihan dalam kehidupannya. Berupaya untuk menemukan kebenaran Allah dapat membuat mereka merasakan letih dan lesu. Tidak mudah untuk mengalami perubahan hidup dan pemulihan. Oleh sebab itu, bagi mereka yang membuka diri dan mendengarkan suara-Nya, Tuhan berkata marilah datang kepada-Nya. Sekalipun ada orang yang menolak dan menentang pembaruan hidup yang kita serukan, tetaplah berusaha untuk mengalami perubahan itu. Sebab ketahuilah, kita tidak menjalaninya seorang diri. Tuhan senantiasa hadir, membuka tangan-Nya untuk meneguhkan setiap orang yang mengalami kelelahan dalam upaya membarui dan memulihkan diri seturut dengan kehendak Allah. Merubah hidup itu butuh waktu, jalanilah setahap demi setahap dengan pertolongan Tuhan.

DRS

Leave a comment