Iman yang Penuh Keberanian

news-thumb1280

(Markus 8:31-38)

Banyak orang terlalu sederhana memandang agama. Asal agama tertera di KTP, cukuplah; yang penting tidak dituduh sebagai atheis. Asal percaya Tuhan mahakuasa, hidup pasti sukses dan bahagia. Asal sudah dibaptis dan terdaftar sebagai anggota gereja, pasti selamat dunia dan akhirat. Sikap-sikap seperti inilah yang membuat gereja-gereja hanya dikunjungi sepertiga atau seperempat dari anggota-anggotanya yang terdaftar.

Akibat fatal lainnya dari keberagamaan sempit seperti ini adalah munculnya kekerasan dan kejahatan atas nama agama. Di negeri ini, tidak sulit melihat bagaimana agama dijadikan kuda tunggangan untuk merebut kekuasaan kejayaan. Dengan berjubah agama, diskriminasi dilegalkan demi kekuasaan. Atas nama ajaran agama, segala yang batil menjadi lancar. Dengan kalimat-kalimat agamis, umat dihasut dan digerakkan untuk saling menghakimi dan menghukum. Begitulah, masih telalu banyak orang memandang agama terlalu sederhana, bahkan menjadi sangat rendahan.

Melalui bacaan hari ini, Tuhan Yesus mengungkapkan bahwa hidup beriman kepada Allah bukan perkara yang sederhana, apalagi rendahan. Sebagai Mesias, Tuhan Yesus mengaku bahwa diri-Nya akan menanggung banyak penderitaan, ditolak para tua-tua, imam-imam, ahli-ahli Taurat, dibunuh dan bangkit pada hari yang ketika. Ketika mendengar itu, nyali Petrus menjadi ciut. Petrus bahkan menarik Yesus ke sampingnya dan menegor-Nya dengan lancang (ayat 32). Petrus merasa Yesus melantur dan bicara kebablasan. Menurutnya, mengikut Yesus tidak harus sesulit itu.

Akan tetapi, sikap Petrus yang mau enaknya ini justru menuai hardikan: “Enyahlah Iblis” (ayat 33). Sikap Petrus dinilai seperti sikap Iblis, oleh karena Petrus hanya memikirkan apa yang dipikirkan manusia, bukan apa yang dipikirkan Allah. Petrus menolak pikiran dan pilihan hidup yang ditempuh Gurunya. Atas sikap itu, Tuhan Yesus berani menegornya lebih keras. Di sini, Tuhan Yesus memberi kita contoh pentingnya melawan akal bulus Iblis, yang mungkin tersingkap dalam pemikiran manusia yang hanya mementingkan diri sendiri. Lebih lanjut, Tuhan Yesus mengajar kita pentingnya menegakkan kehendak Allah di atas segalanya, sekalipun harus menempuh penolakan dan penderitaan badani.

Bagi kita, sikap mengutamakan kehendak Allah di atas segala sesuatu ini ditunjukkan dengan kesediaan kita untuk menyangkal diri dan memikul salib. Menyangkal diri berarti melepaskan diri dari semua ego yang hanya memuaskan diri sendiri.  Lalu memikul salib, yang berarti mengambil tanggung jawab dan panggilan hidup yang ditunjukkan Tuhan Yesus. Sebab, tidak ada gunanya seseorang memperoleh seluruh kesenangan duniawi, tetapi ia sendiri kehilangan nyawanya. Tetapi orang yang berani mengutamakan kehendak Allah akan memperoleh kemuliaan yang tidak dapat layu. Tuhan Yesus akan mengakuinya sebagai anak; baik di dunia ini maupun dalam Kerajaan Sorga.

Saudara, marilah kita mengikut Tuhan Yesus dengan penuh keberanian. Keberanian untuk apa? Keberanian untuk menyangkan diri atas segala ambisi dan ego sesaat. Keberanian untuk memikul salib, berkorban dan mengambil tanggung jawab pelayanan, sekalipun terasa berat. Keberanian untuk melawan segala bentuk kejahatan yang merusak hidup umat manusia. Dan, keberanian untuk senantiasa mengutamakan kehendak Allah di atas segala sesuatu. Percayalah, bahwa iman yang penuh keberanian seperti itu bukan saja akan menjadikan kita mulia dalam kasih karunia Allah, tetapi juga berdaya untuk mengubah kehidupan di mana Allah menempatkan kita. Kiranya Tuhan Yesus memampukan kita beriman dengan penuh keberanian. Amin.

                                                                                                MM

Leave a comment