Iman sehari-hari

Quote-07Okt2019

2 Tim 1:1-14, Luk 17:5-10

“Siapa yang tahu kepanjangan dari GKI?”, tanya seorang pendeta kepada katekisan (sebutan untuk peserta katekisasi). Serentak mereka berseru, “Gereja Kurang Iman”.  Cerita ini memang hanya sekedar rekaan, tetapi sebutan ini rasanya sudah familiar di telinga. Sebutan ini menimbulkan pertanyaan dalam hati, “memangnya iman dapat berkurang dan bertambah? Apakah ada yang besar dan kecil? Bagaimana cara mengukurnya?”

Dalam Injil Lukas 17:5, para murid berseru kepada Tuhan, “tambahkanlah iman kami!”. Seruan ini menunjukkan pemahaman para murid bahwa iman adalah sesuatu yang dapat diukur dengan kuantitas. Iman itu ada yang besar dan kecil sehingga mereka berseru tambahkanlah iman kami. Para murid merindukan iman yang lebih banyak dan besar. Mengapa para murid membutuhkan iman yang lebih banyak? Jika kita perhatikan ayat sebelumnya, seruan itu muncul sebagai respon atas perkataan Tuhan Yesus. Tuhan Yesus memperingatkan mereka bahwa akan selalu ada penyesatan di dunia, tetapi jangan sampai jadi orang yang menyesatkan. Jika ada orang yang menyesatkan lebih baik dia dilempar ke laut. Selain itu, Ia juga mengajar mereka untuk menegur saudara yang berbuat dosa dan mengampuninya jika ia menyesal. Bahkan jika orang itu melakukan dosa sampai 7x pun, ketika ia menyesal kita tetap harus mengampuninya. Semua ini bukanlah tugas yang mudah untuk dilakukan. Itu sebabnya para murid berpikir bahwa mereka membutuhkan iman yang besar.

Mendengar seruan para murid, Tuhan Yesus merespon dengan mengatakan, “kalau sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja, kamu dapat berkata kepada pohon ara ini: Terbantunlah engkau dan tertanamlah di dalam laut, dan ia akan taat kepadamu.”. Maksud dari perkataan Tuhan Yesus adalah bahwa tidak ada yang perlu ditambahkan. Iman sebesar biji sesawi itu sudah cukup. Sebab iman bukan perkara besar atau kecil, sedikit atau banyak, tetapi sudah beriman dan itu cukup. Iman bukanlah sebuah benda, gagasan atau konsep yang bisa ditambah atau dikurangi. Iman adalah melakukan apa yang seharusnya kita lakukan.

Oleh karena itu beriman adalah sesuatu yang sederhana, seperti bekerja sehari-hari. Pesan ini yang ditegaskan Yesus melalui kisah hamba dan tuan. Dalam kisah ini disebutkan bahwa hamba itu hanya melakukan hal yang harus dilakukannya, tanpa menuntut upah, dihargai dan dihormati. Hamba itu hanya melakukan apa yang harus dilakukannya.

Ada 2 hal yang dapat direfleksikan, yaitu:

  1. Beriman dan itu sudah cukup.

Tuhan Yesus menegaskan bahwa memiliki iman itu sudah cukup, iman itu harus dinyatakan dalam pekerjaan dan tanggungjawab sehari-hari yang biasa dan sederhana.

  1. Iman dan Setia

Kata iman dan setia dalam bahasa Yunani memakai kata yang sama, yaitu: pistis. Jika iman diibaratkan seperti otot, maka semakin sering dilatih semakin kuatlah otot itu. Iman perlu dilatih secara disiplin, terus-menerus dalam keseharian. Beriman adalah setia, setia melakukan apa yang harus dikerjakan dalam hidup sehari-hari. Hal ini yang ditunjukkan oleh tindakan nenek dan ibu dari Timotius. Iman tulus ikhlas yang dimiliki oleh Timotius, pertama-tama lahir dari neneknya Lois dan ibunya, Eunike. Iman Timotius bertumbuh melalui pendidikan sehari-hari di rumah dari orang biasa yang menyatakan imannya dalam hal sederhana dan dalam pekerjaan sehari-hari.

Kata ibadah dalam bahasa Inggris adalah service. Sebagai kata kerja, service berarti memperbaiki. Ketika kita hadir dalam ibadah di hari Minggu, sebenarnya kita sedang di-service supaya dapat kembali berjalan seperti yang seharusnya. Ibadah menjadi tempat kita di-service supaya kehidupan sehari-hari dapat menyatakan iman sebagaimana yang seharusnya.

Pertanyaan Diskusi:

  1. Mengapa Tuhan Yesus menjawab seruan para murid dengan kisah hamba dan tuan?
  2. Menurut saudara, bagaimana cara melatih iman dalam kehidupan sehari-hari?
  3. Ceritakanlah bagaimana hidup beriman saudara berdampak bagi kehidupan anggota keluarga lainnya?

                                                                                                                                                    DRS

Leave a comment