Iman Mengenyahkan Ketakutan

news-thumb1280

Kejadian 15:1-21

Seseorang berkisah demikian, “Ketakutan diam-diam menyelinap ke dalam hati saya. Saya dibuatnya tidak berdaya dan putus asa. Rasa takut merenggut kedamaian dan konsentrasi saya. Apa yang saya takutkan? Saya mengkhawatirkan keselamatan keluarga saya atau kesehatan orang-orang yang saya kasihi. Saya dibuat panik ketika kehilangan pekerjaan atau hubungan keluarga yang rusak. Ketakutan membuat saya melihat diri sendiri dan merasakan bahwa ada kalanya hati saya sulit untuk beriman”.

Ketakutan, kekhawatiran dan keraguan akan kehidupan ini, seperti kisah diatas, merupakan hal yang tidak terhindarkan oleh setiap manusia, pun juga orang Kristen. Dalam Kejadian 15, dikisahkan, Abram dalam satu situasi dimana ia sedang mengalami ketakutan, keraguan. Dua kali Abram menyatakan ketakutan dan keraguannya. Pertama, Abram, yang pada waktu itu sudah tua, yang secara manusia sudah tidak dapat lagi memiliki keturunan, takut akan masa depannya – apa yang akan terjadi dengan kehidupannya yang sampai saat itu belum memiliki keturunan sebagai ahli waris. Dalam keraguan dan ketakutannya, Abram mempertanyakan Allah, “Ya Tuhan Allah, apakah yang akan Engkau berikan kepadaku, karena aku akan meninggal dengan tidak mempunyai anak . . . “. (Kej 15:2). Keraguan Abram yang kedua tentang janji Allah tentang pemberian tanah Perjanjian – ragu dan takut keamanan hidupnya. Ketika Abram mengikuti panggilan Allah untuk mengikutNya, Abram telah meninggalkan segalanya. Namun sampai saat itu, tidak jelas akan janji tanah perjanjian itu. Dalam keraguan dan ketakutannya, Abram mempertanyakan Allah, “Ya Tuhan Allah, dari manakah aku tahu, bahwa aku akan memilikinya?” (Kej 15:8). Bagaimana Allah menolong Abram mengatasi ketakutan dan keraguannya tersebut?

Pertama, Allah meneguhkan janjiNya, menegaskan kembali janjiNya akan masa depan Abram – keturunan. Rupanya Allah mengetahui dan memahami gejolak perasaan takut dan ragu dalam diri Abram. Itulah sebabnya Allah berinisiatif mendatangi Abram untuk meneguhkan janjiNya pada Abram. Ketika Abram meminta kepastian janji Allah tentang keturunan yang akan menjadi ahli warisnya, Allah menegaskan bahwa anak kandungnya sendiri yang akan menjadi ahli warisnya. Allah meneguhkan pengulangan janjiNya dengan mengajak Abram keluar dan melihat bintang-bintang di langit – Allah meminta Abram menghitung bintang yang ada dilangit. Dengan cara tersebut, Allah memastikan bahwa nanti keturunan Abram akan sebanyak bintang di langit. Keturunannya akan sangat banyak. Allah meneguhkan janjiNya melalui pernyataan perkataanNya.

Dalam situasi kehidupan kita – ketika anak sakit keras, kesulitan keuangan, gagal ujian, di”phk”, pernikahan bermasalah dsb., kitapun seringkali mengalami keraguan akan pemeliharaan, penyertaan Tuhan. Situasi tersebut bisa mengguncang iman percaya kita pada Tuhan. Namun melalui kisah yang dialami Abram, Alkitab menegaskan bahwa Allah tidak membiarkan anak-anakNya dalam keraguan dan ketakutan. Pada waktuNya, Allah akan terus meneguhkan janji pemeliharaan dan penyertaanNya pada anak-anakNya – melalui firman yang kita dengar dan baca melalui persekutuan doa pribadi, kelompok, dsb.

Kedua, Allah kembali meneguhkan janji-Nya melalui cara yang sangat spesial – ikatan perjanjian/covenant kepada Abram – ketika Abram ragu dan takut akan keamanan hidupnya. Peneguhan janji akan keamanan hidup – Tanah Perjanjian, dilakukan Allah melalui mengikat perjanjian diri-Nya dengan Abram dengan menggunakan binatang. Inilah Ikatan perjanjian pada masa Perjanjian Lama, dimana dua orang yang mengikatkan dirinya berjalan bersama ditengah-tengah potongan binatang yang dipotong menjadi dua. Jika mereka gagal memenuhi ikatan janji tersebut maka mereka akan seperti potongan binatang tersebut. Kejadian 15:12 mencatat, “Menjelang matahari terbenam tertidurlah Abram dengan nyenyak, lalu turunlah meliputinya gelap gulita yang mengerikan”. Dalam keadaan Abram tertidur, muncullah perapian yang berasap dan suluh yang berapi – inilah tanda kehadiran Tuhan. Allah hadir dalam kemuliaanNya, melewati potongan-potongan binatang itu sendirian, tidak bersama Abram. Artinya Allah hendak mengatakan bahwa jikalau Aku Allah tidak menepati perkataanKu, biarlah Aku tercerai-berai seperti potongan-potongan daging binatang ini, biarlah yang kekal menjadi fana, biarlah yang tidak terbatas menjadi terbatas.

Begitu Allah selesai melewati potongan binatang itu – Abram tertidur dan tidak menjalani potongan binatang itu, Allah mengadakan perjanjian dengan Abram, bahwa Allah akan memberkati Abram dan Allah pasti akan melakukan apa yang dijanjikanNya. Dan Abram berhenti ragu, ia percaya pada Allah – Abram berhenti mempertanyakan Allah.

Allah bukan hanya meneguhkan Abram, tapi juga meneguhkan kita. Allah mengadakan perjanjian dengan kita dengan mengutus Yesus Kristus sebagai korban binatang yang terpotong-potong diatas kayu salib. Markus 15 mencatat bahwa pada jam 12 siang bolong kegelapan meliputi seluruh daerah itu dan berlangsung sampai jam 3. Apa yang terjadi? Allah dalam kemuliaanNya hadir melewati Yesus diatas kayu salib. Inilah tanda perjanjian Allah, bahwa Allah memberkati kita dengan menebus kita dari kutuk dan belenggu dosa. Kematian Yesus diatas kayu salib menjadi bukti nyata perjanjian Allah yang kekal bahwa Allah senantiasa memberkati kita.

Apapun situasi kita saat ini yang mungkin telah membuat kita ragu dan takut, ingatlah bahwa Allah telah memberikan firman yang tertulis – Alkitab, yang didalamnya penuh dengan penegasan, peneguhan Allah akan janjiNya pada kita, ingat juga bahwa Allah telah menyatakan kasih yang besar melalui perngorbanan Yesus diatas kayu salib, yang mana menuntaskan rencana keselamatan untuk kita semua. Ingat dan percayalah pada Allah didalam Yesus Kristus!.

TH

Leave a comment