Iman Kepada Allah yang Hidup

Quote-11Nop2019

Lukas 20:27-38

Allah adalah sumber kehidupan. Segala yang ada dan yang hidup berasal dari-Nya. Maka, beriman kepada Allah yang hidup berarti menekankan pentingnya kehidupan. Kehidupan bukan sekadar keadaan hidup, melainkan suatu keadaan hidup yang terpelihara, berkualitas dan bermakna bagi kekekalan. Beriman kepada Allah yang hidup akan mendorong kita untuk terus berjuang melakukan kebaikan, menjadi berkat dan terus membarui kehidupan menjadi lebih baik.

Tidak jarang, orang Kristen lebih menekankan kematian daripada kehidupan. Misalnya, orang Kristen lebih banyak berbicara tentang dosa dan hukuman ketimbang kasih dan anugerah Allah. Orang Kristen lebih banyak menekankan neraka dan siksaan daripada keselamatan, sorga dan kekekalan sorgawi. Tentang akhir zaman, orang lebih membayangkan kengerian dan ketakutan ketimbang menyambutnya sebagai peristiwa penyelamatan. Banyak orang berpikir bahwa Allah adalah sosok keras dan kejam, suka menghukum dan mengutuk. Padahal Allah, di dalam Alkitab, adalah Sosok yang peduli, penuh pengertian, selalu merencanakan kebaikan dan terus memelihara kehidupan.

Penekanan-penekanan yang salah tentang Allah seperti diatas hanya akan menimbulkan ketakutan dan prasangka buruk akan masa depan. Orang terjebak untuk terus bertanya: “Apakah aku sudah cukup baik untuk bisa lepas dari hukuman dan neraka?”Orang sibuk memikirkan keselamatan dirinya sendiri. Akibatnya, orang Kristen lupa mengisi hidup dengan karya-karya yang mengembangkan kehidupan. Kita hidup bukan sekadar untuk menghindari kematian, melainkan untuk memperjuangkan kehidupan. Kita hidup untuk menata dunia bersama Allah, dengan rencana-rencana baik, agar suasana sorgawi turun dan terwujud di atas muka bumi.

Dalam bacaan Injil di atas disebutkan orang-orang Saduki datang kepada Tuhan Yesus untuk bersoal jawab. Orang Saduki merupakan kalangan Yahudi yang tidak percaya kebangkitan orang mati dan kehidupan sesudah kematian. Untuk membenarkan pandangan tersebut, mereka menyusun suatu kasus: tentang seorang perempuan yang dinikahi 7 pria bersaudara secara berurutan. Satu persatu 7 bersaudara itu meninggal tanpa menurunkan seorang anak pun. Akhirnya, mati jugalah perempuan itu. Atas kasus itu, orang Saduki bersoal: “siapakah di antara orang-orang itu yang menjadi suaminya pada hari kebangkitan? Sebab ketujuhnya telah beristerikan dia.” (ay 33).

Melalui pertanyaan ini, terbayanglah bahwa orang Saduki sama sekali tidak memiliki konsep tentang akhirat (atau dunia setelah kematian). Bagi mereka, konsep akhirat sangat tidak masuk akal. Jikapun akhirat ada, mereka berpikir situasinya pastilah kacau balau. Setelah dinikahi 7 laki-laki selama hidup di dunia, perempuan dalam kasus di atas pastilah menghadapi banyak gugatan. Lagipula, menurut mereka, hukum Musa sendiri tidak menyebut adanya kehidupan setelah kematian atau suatu tempat di balik dunia ini.

Tuhan Yesus, yang berasal dari sorga, tahu betul bagaimana menjawab pertanyaan ini. Ia tahu betul suasana kehidupan di sorga. Ia menegaskan bahwa di sorga orang tidak kawin dan dikawinkan seperti di bumi. Orang tidak memiliki nafsu birahi, hasrat menikah atau memiliki keturunan. Manusia hidup seperti malaikat: kudus, mulia, kekal dan seluruh hatinya tertuju kepada Allah. Manusia hidup untuk memuliakan Allah. Di sana tidak ada lagi kesakitan, hukuman atau kematian. Di sorga, manusia hidup sebagai anak-anak Allah, menikmati keintiman dan sukacita bersama dengan Allah.

Tuhan Yesus juga menegaskan bahwa Allah selamanya akan disebut Allah Abraham, Ishak dan Yakub. Artinya, Ia tetap hidup sekalipun Abraham, Ishak dan Yakub sudah tidak ada lagi di dunia ini. Orang-orang yang dikasihi-Nya pun berkenan disambut-Nya di dalam kehidupan yang baru. Rencana Allah atas umat-Nya melampaui kehidupan di dunia ini, yakni suatu kehidupan yang jauh lebih indah melampaui keindahan apapun di dunia ini.

Saudara, beriman kepada Allah yang hidup sepatutnya menggairahkan kita untuk terus memperjuangkan kehidupan: berani menegakkan keadilan dan kebenaran, menyusun rencana baik untuk memberkati sesama, memelihara alam dan lingkungan agar lebih asri, membantu orang-orang susah agar memiliki daya juang, menyemangati orang-orang yang hilang pengharapan, dan terus berusaha memperjumpakan sesama dengan Tuhan, Sang Sumber Kehidupan. Tuhan memberkati!

                                                                                                           MM

Leave a comment