Iman Di persimpangan Jalan

Quote-02Mar2020

Matius 4:1-11

Dikisahkan, seorang lelaki mengajak isteri, ibu dan anak kecilnya berlayar menuju sebuah pulau. Di tengah laut, tiba-tiba cuaca memburuk. Udara mendung. Angin bertiup kencang. Ombak mengganas. Perahu itu pun terhempas dan terbalik. Celakanya, di perahu itu hanya ada 2 baju pelampung. Satu baju untuk satu orang. Sebagai kepala keluarga, lelaki memutar otak: “Satu baju satu nyawa. Siapa yang harus memakainya?”

Jika jadi lelaki di atas, siapa yang Saudara selamatkan? Ilustrasi ini adalah gambaran peliknya hidup sehari-hari. Setiap hari kita menghadapi pergumulan hidup dan pilihan-pilihan yang pelik. Keberimanan kita ditantang untuk selalu menghasilkan sikap yang baik dan pilihan yang benar. Antara kebutuhan diri atau kebenaran ilahi, kepuasan atau keadilan, kesenangan atau ketaatan, kita berdiri di persimpangan jalan yang menantang.

Setelah dibaptis Yohanes dan dipenuhi Roh Kudus, Yesus dituntun memasuki fase padang gurun. Padang gurun adalah tempat penuh bahaya dan dinamika. Di padang gurun, siang begitu panas, malam sangat dingin, hewan berbisa berkeliaran, makanan tidak ada dan kesunyian melanda sepanjang hari. Di sinilah Yesus berdoa dan berpuasa. Tanpa makan dan minum selama 40 hari sungguh keadaan yang berat. Perut terasa lapar. Kerongkongan kering menuntut air. Badan kurus tanpa asupan. Celakanya lagi, Iblis datang menggoda dan memanfaatkan situasi.

Pertama-tama, Iblis membujuk Yesus mengubah batu menjadi roti. Iblis tahu dirinya tidak kuasa melakukan itu, tetapi ia bisa menggoda Yesus untuk memuaskan diri-Nya dengan kuasa-Nya. Ternyata, meski sangat lapar, Yesus menolak cara berpikir dan cara kerja Iblis. Di dalam kelemahan tubuh-Nya, Yesus tetap setia kepada Bapa-Nya. Ia hadir bukan untuk memuaskan diri-Nya, melainkan untuk melayani dan berkurban bagi semua orang.

Kedua, Iblis menempatkan Tuhan Yesus di atas bubungan bait Allah dan menggoda-Nya untuk menjatuhkan diri. Iblis tahu bahwa Allah pasti akan melindungi Anak-Nya agar tidak celaka. Jika adegan berbahaya ini diikuti, Yesus pasti selamat sekaligus tersohor di Bait Allah. Akan tetapi, Yesus menolak. Kuasa rohani bukanlah tontonan atau untuk popularitas; melainkan kehormatan untuk melayani Allah dan menyelamatkan hidup umat manusia.

Ketiga, Iblis membawa Yesus ke sebuah gunung yang tinggi. Pada- Nya diperlihatkan semua kerajaan dunia. Kemegahan dunia itu akan diberikan kepada Yesus, asalkan Dia menyembah kepada Iblis. Tawaran ini sangat menggiurkan. Namun ternyata, Iblis malah dihardik: “Enyahlah, Iblis”. Bagi Kristus, tidak satu sosok pun yang layak disembah selain TUHAN, Bapa-Nya.

Pencobaan yang dialami Yesus tidak hanya berhenti di padang gurun. Pencobaan lainnya masih terus terjadi selama pelayanan-Nya. Ia dihadang, ditantang dan dijebak berulangkali untuk membuat keputusan yang salah. Semua itu dimaksudkan untuk membinasakan-Nya. Namun, kejelian dan kejernihan hati Kristus mampu memahami semua situasi itu dan tetap membuat keputusan hidup yang benar. Yesus tidak tergoda sedikitpun kepada kemewahan dan kesenangan dunia ini. Ia hanya melekat pada kehendak bapa-Nya dan mewujudkannya dalam segenap jalan hidup-Nya.

Bagaimana dengan kita? Bagaimana kita menanggapi kebutuhan fisik, godaan popularitas dan jebakan kekuasaan selama ini? Bagaimana caranya kita menemukan hikmat di tengah gejolak-gejolak hidup kita?

Seperti Tuhan Yesus, marilah belajar menolak tawaran kemudahan dunia ini. Marilah belajar mengutamakan kehendak Allah dan menegakkan kebenaran firman-Nya. Marilah bersikap taat dan setia di dalam kelemahan, kekurangan dan keterbatasan-keterbatasan kita. Ingatlah bahwa ketaatan itu bukan sesuatu yang otomatis. Ketaatan itu tumbuh dalam pergumulan iman sehari-hari. Untuk itu, peganglah komitmen untuk selalu memilih jalan Tuhan ketika berhadapan dengan semua persimpangan jalan.

Pertanyaan diskusi
1. Mengapa Bapa mengijinkan Anak-Nya dicobai Iblis di padang gurun?
2. Apa yang membuat Tuhan Yesus selalu mampu melawan godaan Iblis?

Pertanyaan Sharing
1. Pernahkah saudara berada dalam situasi yang sangat dilematis (mis. seperti kisah pembuka di atas)? Sharingkanlah pergumulanmu saat itu!
2. Menurut perenungan Saudara, apa yang membuat Saudara berhasil atau gagal mengatasi situasi dilematis dalam hidupmu?
3. Tantangan apa yang Saudara mungkin hadapi dalam bersikap taat dan setia di dalam pencobaan dan pergumulan hidup Saudara?

MM

Leave a comment