Ia Bersamamu di Buritan

WhatsApp Image 2021-06-19 at 11.37.53

(Markus 4:35-41)

Danau Galilea merupakan muara dari sungai Yordan yang mengalir dari arah utara. Dalam keadaan biasa danau Galilea tampak tenang, tetapi sewaktu-waktu bisa terjadi badai.

Danau Galilea memang terletak di lembah yang dikelilingi bukit-bukit, sehingga memungkinkan angin bertiup secara tiba-tiba dari atas bukit dengan kekuatan yang dahsyat ke tengah danau yang dapat menimbulkan badai. Cuaca cerah dapat berubah secara tiba-tiba dengan datangnya badai yang menakutkan yang menggoncang danau itu. Badai lebih sering datang pada waktu petang.

Setelah melayani orang banyak hingga petang hari, Yesus mungkin kelelahan dan ingin beristirahat hingga mengajak murid-murid menyeberang danau dan menjauh dari orang banyak (ayat 35-36). Yesus pun tertidur (ayat 38).

Namun saat Yesus tertidur, terjadi badai yang sangat dahsyat, yang membuat murid-murid menjadi takut (ayat 37-38). Beberapa dari antara murid-murid adalah mantan nelayan berpengalaman, karena itu mereka tahu betul betapa mengerikannya bahaya yang menghadang mereka akibat badai dahsyat itu.

Dalam kesibukan upaya untuk mengatasi masalah yang sedang melanda, murid-murid membangunkan Yesus (ayat 38). Mereka bukan meminta pertolongan Yesus, melainkan memprotes (menegur dengan kasar) Dia atas ketidakpedulian-Nya terhadap masalah yang sedang terjadi.

Seharusnya Ia bangun, bukannya tidur dan bersama mereka mengatasi masalah tersebut, mungkin dengan ikut membantu mereka membuang air yang memenuhi perahu. Toh Yesus berada dalam bahaya yang sama, seperti yang mereka hadapi.

Mereka ingin Yesus menolong mereka dengan bentuk pertolongan seperti yang ada dalam pikiran mereka.

Yesus kemudian menegur mereka karena mengira bahwa Dia tidak memedulikan mereka (ayat 40). Itu menunjukkan bahwa mereka belum mengenali siapa Yesus yang sesungguhnya. Ketika kita mengira bahwa Yesus tidak peduli pada kita, itu menunjukkan bahwa kita tidak percaya pada Dia. Padahal Yesus adalah Tuhan yang Maha Kuasa.

“Terkadang, Dia mengizinkan beberapa hal sulit untuk kita alami agar keimanan kita bertumbuh dan berakar di dalamNya.”

Jika Dia ada dalam hidup kita, maka tidak ada masalah yang dapat menenggelamkan kita. Memang perlu iman untuk tahu bahwa Yesus peduli. Namun inilah iman yang Tuhan ingin bangun dalam hidup kita.

Perintah untuk “diam dan tenang” bukan hanya berlaku bagi angin dan danau, tetapi juga bagi kehidupan kita. Tuhan tidak melarang kita takut, asal rasa takut tidak menguasai pikiran dan hati kita. Untuk itu, kita harus siap sedia menghadapi tantangan yang datang dalam kehidupan kita.

Dengan demikian, kepercayaan kita terhadap Tuhan harus dinyatakan dalam segala hal dan kondisi. Jangan biarkan ketakutan menguasai diri kita. Diam dan tenanglah. Percayalah bahwa Tuhan peduli atas apa yang kita alami dan Ia akan melepaskan kita tepat pada waktu-Nya.

                                                            YKD

Leave a comment