HIDUP YANG PATUT DI HADAPAN ALLAH

Quote-13Jan2020

Yesaya 42:1-9, Mazmur 29, Kisah Para Rasul 10:34-43, Matius 3:13-17

Baptisan yang dilakukan oleh Yohanes Pembaptis adalah baptisan pertobatan. Dalam Matius 3:11a, penulis Injil Matius secara jelas mengungkapkan pernyataan Yohanes Pembaptis, “Aku membaptis kamu dengan air sebagai tanda pertobatan…” Jadi baptisan yang diberikan oleh Yohanes adalah baptisan yang memanggil umat datang menyatakan pertobatan oleh karena Dia yang akan membaptis dengan api, yang akan menampi dan menghakimi hidup mereka sudah dekat. Melalui undangan untuk memberi diri dibaptis yang diserukan, Yohanes mengingatkan umat betapa besar dan banyaknya pelanggaran yang selama ini mereka lakukan dan sudah tiba saatnya bagi mereka untuk bertobat dan memohon pengampunan Tuhan agar mereka tidak binasa dalam kesalahan dan pelanggaran mereka. Karena itu baptisan tersebut tidak hanya menuntut mereka untuk mengakui dosa dan pelanggaran mereka, tetapi juga memanggil mereka untuk menghasilkan buah yang sesuai dengan pertobatan.

Ketika Yohanes Pembaptis sedang melakukan pelayanan pembaptisan, Tuhan Yesus datang kepadanya dan memberi diri-Nya untuk dibaptis oleh Yohanes Pembaptis. Saat Yohanes, yang mengenal Yesus sebagai Mesias yang akan datang, menerima kedatangan Yesus dan permintaan-Nya, maka Yohanes segera menyimpulkan bahwa Yesus tidak perlu menerima baptisan darinya. Sebaliknya justru Yohaneslah yang akan menerima baptisan dari Yesus, baptisan yang akan membawa dia pada pemurnian. Karena tentang Yesus, Yohanes berkata, “Ia yang datang kemudian dari padaku lebih berkuasa dari padaku dan aku tidak layak melepaskan kasut-Nya. Ia akan membaptis kamu dengan Roh Kudus dan dengan api. Alat penampi sudah ditangan-Nya. Ia akan membersihkan tempat pengirikan-Nya dan mengumpulkan gandum-Nya ke dalam lumbung, tetapi debu jerami itu akan dibakar-Nya dalam api yang tidak terpadamkan.” (Matius 3:11-12) Yohanes tahu dengan jelas bahwa Yesus adalah sosok yang lebih berkuasa dari dirinya, Ia yang akan menjadi hakim, yang akan memeteraikan dan mengumpulkan milik kepunyaan-Nya. Dan karena itu Yohanes dengan tegas mengatakan bahwa Yesus sama sekali tidak memerlukan baptisan yang diberikannya. Tuhan Yesus bukan orang berdosa yang memerlukan pertobatan, Ia tidak perlu menerima baptisan Yohanes.

Benar, Tuhan Yesus bukan orang berdosa dan karena itu Ia tidak perlu bertobat dan menerima baptisan yang diberikan Yohanes Pembaptis. Tetapi Tuhan Yesus tetap memberi diri-Nya untuk dibaptis oleh Yohanes Pembaptis. Mengapa? Tuhan menyebutkan alasan yang kuat bagi-Nya untuk menerima baptisan Yohanes Pembaptis dengan berkata, “Biarlah hal itu terjadi, karena demikianlah sepatutnya kita menggenapkan seluruh kehendak Allah.” (Matius 3:15) Dengan kata lain tindakan Tuhan Yesus menerima baptisan Yohanes Pembaptis memang tidak bertolak dari keperluan karena kebutuhan atau keinginan-Nya sendiri, melainkan karena Ia secara tegas menyatakan bahwa kehadiran-Nya adalah untuk menggenapkan rencana dan kehendak Allah. Dan melakukan kehendak Allah adalah hal yang sepatutnya atau sepantasnya dan selayaknya dilakukan. Yesus menerima baptisan Yohanes bukan karena Ia berdosa dan karena itu harus menyatakan pertobatan, melainkan sebagai suatu cara untuk menyatakan bahwa Ia menempatkan diri menjadi satu dengan manusia yang berdosa. Baptisan yang diterima-Nya menjadi penyataan belarasa, kepedulian dan kesediaan-Nya untuk masuk dalam kerapuhan manusia yang berada dalam dosa. Baptisan itu menjadikan Dia bagian dari manusia yang berdosa, sekalipun Ia tidak berdosa (2Kor 5:21).

Dengan demikian dalam seluruh laku hidup-Nya di dunia, Tuhan Yesus tidak sekadar memikirkan dan menggenapi apa yang diperlukan, dibutuhkan atau diingini manusia. Melampaui itu semua, seluruh tindakan-Nya dilakukan untuk menggenapi kebenaran dan keadilan yang dikehendaki Allah. Setiap langkah, setiap tindakan, setiap kerja dan karya yang dilakukan-Nya adalah untuk menggenapi rencana keselamatan Allah bagi dunia. Ia melakukan yang sepatutnya dan sepantasnya dilakukan. Bapak, ibu serta saudara sekalian, bagaimana dengan setiap tindakan dan perbuatan yang kita lakukan dalam hidup kita, didorong oleh apakah semuanya itu? Oleh rasa perlu karena ada kebutuhan dan keinginan? Atau karena kita mau menggenapi kehendak Allah?

LN

Leave a comment