Hidup yang Memberi Hidup

news-thumb1280

Yohanes 6:51-58

Hidup adalah anugerah. Allah yang memberikannya. Kita tidak dapat memilih menjadi ada atau tiada, kecuali Allah yang mengadakan dan meniadakannya. Dengan begitu, selama kita masih ada (dan belum tiada) itu berarti Allah masih menganugerahkan kita kehidupan untuk kita maknai, nikmati dan jalani sesuai kehendak yang berkenan kepada-Nya.

Akan tetapi, sekalipun semua orang sudah diberikan anugerah kehidupan, sayangnya tidak semua orang mampu memaknai dan menikmati kehidupan kehidupan itu. Sekalipun semua orang memiliki keinginan untuk hidup secara berkualitas, tetapi tidak semua orang mampu meraih kehidupan yang bernilai seperti itu. Sekalipun semua orang dianugerahkan hidup yang panjang bersama orang-orang yang lain, tetapi tidak semua orang mampu memaknai kehidupannya untuk berarti bagi kehidupan di sekitarnya. Banyak orang berusaha dan berjuang semata-mata untuk memuaskan ambisi diri mereka sendiri. Mereka hidup berorientasi pada kesenangan duniawi, yang menjerumuskan mereka pada pengejaran hidup yang fana dan sia-sia.

Itulah sebabnya, diperlukan hikmat agar kita memiliki hidup yang benar-benar bermakna, bahkan memiliki hidup yang kekal. Hikmat seperti ini tentu saja hanya mungkin kita perloleh dalam relasi yang intim dengan Tuhan Yesus Kristus. Sebagai Roti Hidup, Kristus berjanji “Akulah roti hidup yang telah turun dari sorga. Jikalau seorang makan roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang Kuberikan ini ialah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia” (ayat 51).

Dalam ayat di atas, Tuhan Yesus menegaskan bahwa asal-Nya ialah sorga, sehingga Ia memiliki kehidupan yang kudus, mulia dan kekal. Maksud-Nya turun dari sorga ialah agar dapat diterima oleh seluruh umat manusia, layaknya ‘makanan’ yang merupakan kebutuhan hidup yang utama. Selama hidup di dalam dan bersama Kristus, manusia akan menemukan kepuasan hidup, bahkan keselamatan dalam hidup yang kekal. Sebagai sumber kehidupan dan keselamatan, Kristus harus menyatu dengan hidup kita, bagaikan roti yang kita makan dan menyatu dengan tubuh kita. Dalam kesatuan itulah kita mengalami penguatan, pemulihan dan pertumbuhan yang sesuai dengan kehendak dan rencana Allah.

Sayangnya, tidak semua orang dapat memahami dan menerima perkataan Tuhan Yesus, bahwa “…jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu” (ayat 53). Banyak orang menduga bahwa Tuhan Yesus mengajarkan kanibalisme, yakni memakan daging dan darah-Nya secara harafiah. Dugaan dan tuduhan ini menjadi bukti betapa  lambatnya hati manusia untuk percaya kepada Tuhan Yesus. Ketidakpercayaan ini disebabkan oleh beberapa faktor penting: (1) keinginan manusia untuk mendapatkan tanda yang luar biasa, berkali-kali, seperti yang dilakukan oleh Musa; (2) mereka mengukur segala sesuatu menurut ukuran duniawi, sehingga mereka lebih mengagungkan Musa daripada Tuhan Yesus, yang sebenarnya telah melakukan banyak mukjizat bagi mereka; (3) mereka suka mengandalkan ahli pikir mereka sendiri dan memilih untuk terus-menerus berdebat dengan Tuhan Yesus; (4) mereka tidak mendengar dan memahami pengajaran Tuhan Yesus dengan saksama. Orang-orang seperti ini dapat dikategorikan sebagai orang yang bebal, yang tidak percaya sekalipun telah melihat bukti-bukti yang jelas dan kuat.

Akan tetapi, barangsiapa yang menerima Tuhan Yesus, ia akan memiliki kehidupan yang kekal. Ia akan tinggal di dalam Tuhan Yesus, dan Tuhan Yesus akan tinggal di dalam dirinya (ayat 56). Artinya, ia akan memiliki relasi dan persekutuan yang intim dengan Tuhan Yesus. Di dalam persekutuan yang erat itulah akan terjadi banyak perbuatan ajaib, sebab Tuhan Yesus akan menyertai seluruh pekerjaan baik yang dilakukannya. Ia akan senantiasa menghasilkan pekerjaan yang baik dan bermanfaat, bukan hanya untuk dirinya melainkan juga untuk orang banyak. Ia akan menjadi inspirasi yang menuntun orang banyak pada keselamatan dalam Kristus. Kehidupannya akan memberi kehidupan pada banyak orang di sekitarnya. Oleh karena itu, teruslah hidup di dalam Kristus dan semakin erat membangun persekutuan dengan-Nya. Percayalah, hidup Saudara akan semakin bermakna, teguh dan berbuah bagi banyak kehidupan yang lain. Tuhan memberkati. Amin.

                                                                                           MM

 

Leave a comment