Hidup yang dibarui oleh Sang Firman

26 apr

Lukas 24:13-35

Banyak dari kita mengenal lagu rohani klasik “Abide with me” (Tinggal Sertaku, Hari t’lah Senja). Lagu lembut ini diangkat dari kisah perjumpaan penuh perasaan berkobar dalam kisah perjalanan ke Emaus. Michael Goulder, seorang ahli Perjanjian Baru, bahkan mengatakan bahwa kisah Emaus adalah kisah yang paling menggetarkan emosi diantara semua kisah di Alkitab.

Kleopas dan temannya, pengikut Yesus, menjadi tokoh kisah hebat ini. Mereka pergi ke Emaus dengan muram, karena Yesus disalib. Mereka pergi ke Emaus sambil mempercakapkan Guru mereka, Yesus. Percakapan mereka bisa jadi adalah cara untuk menyalurkan kesedihan atau meringankan beban kedukaan. Boleh dibilang mereka saling menghibur. Di tengah jalan, seorang Tamu tak dikenal ikut berbincang dengan mereka. Tamu itu Yesus. Namun, karena ada sesuatu menghalangi mata Kleopas dan temannya, Tamu Agung itu tidak mereka kenali. Apakah itu? Rasionalitas mereka sehingga peristiwa kebangkitan tidak dapat mereka terima dengan akal sehat.  Atau perasaan putus asa yang begitu mendalam sehingga tidak dapat mengenali Tuhan yang berdiri didepan mereka.  Lukas mencatat bahwa Kleopas dan temannya kemudian mengalami pembaharuan: dari hati yang muram menjadi hati yang berkobar-kobar, dari tidak mengenali Yesus menjadi mengenalNya dan memahami apa yang diajarkanNya selama ini serta antusias mengabarkan berita kebangkitan Yesus kepada orang lain. Bagaimana bisa demikian? Lukas menjelaskan begini:

  1. Yesus, Sang Tamu Agung itu mendekati Kleopas dan temannya dan berjalan bersama dengan mereka. Yesus ikut terlibat dalam percakapan mereka dan mempertanyakan apa yang sedang mereka percakapan.
  2. Yesus kemudian berganti peran, dari orang yang bertanya menjadi seorang yang mengajar tentang Mesias yang harus menderita dan bangkit. Tuhan Yesus dengan sabar membimbing mereka sampai kepada kesadaran mengenal Yesus. Saat Yesus memperagakan ulang perjamuan akhir bersama para murid sesaat sebelum penangkapanNya dan kayu salib, mata mereka dicelikkan sehingga dapat mengenali Tuhan yang sudah bangkit. Mereka mengenali Yesus dari caraNya berbicara, mengambil roti, mengucap berkat, lalu memecah-mecahkannya dan memberikan kepada mereka.
  3. Hati Kleopas dan temannya berkobar-kobar dalam perjumpaan yang sesaat itu dengan Tuhan Yesus. Mereka berjumpa sesaat, tetapi dampaknya abadi. Begitulah pengalaman berjumpa dengan Tuhan Yesus, ada getar batin yang hebat karena Allah hadir. Kleopas dan temannya menanggapi hal itu dengan “bangun dan kembali berjalan 11 kilometer ke Yerusalem untuk mengisahkan pertemuan mereka yang mengobarkan hati itu”.

Mengenal Tuhan dengan benar merupakan anugerah. Keberdosaan kita menghalangi mata iman kita.  Akan tetapi membuka diri kepadaNya, bersedia percaya kepada firmanNya merupakan kunci untuk mengenal Tuhan dengan benar dan mengalami pembaharuan hidup.  Bersediakah kita?

                                                                                                            YKD

Leave a comment