Hidup Sebagai Warga Kerajaan Sorga

26 jul

Matius 13:31-33, 44-52

Sepulang gereja, dikala sebelum pandemi covid-19 menyerang negara kita, saya sempat bercakap dengan seorang rekan yang melayani sebagai prokantor di Perniagaan. Dalam percakapan itu terlontarlah sebuah kalimat yang menarik darinya, “kita tuh harus membiasakan diri menyanyi memuji Tuhan sejak sekarang ini. Jadi ketika kita nanti masuk dalam Kerajaan Sorga, kita udah terbiasa menyanyikan puji-pujian bersama dengan malaikat bagi Allah. Waktu kita saat ini di dunia, menjadi waktu kita berlatih untuk hidup dalam Kerajaan Sorga!”. Menarik bukan pernyataannya! Kita harus melatih dan membiasakan diri terus menaikkan pujian bagi Allah mulai saat ini. Betul sekali! Tetapi membiasakan dirinya bukan dalam arti nanti ketika Kerajaan Sorga itu sudah datang dan akan datang. Ia bukan hal yang nanti baru akan dirasakan, tetapi juga yang sudah dinyatakan dalam hidup manusia saat ini (lihat Mat 12:28). Itu sebabnya Kerajaan Sorga perlu dipahami sebagai suasana di mana Allah memerintah sebagai Raja sepenuh-penuhnya dalam kehidupan manusia. Kitalah yang dipanggil sebagai orang percaya untuk menyatakan kepada dunia tentang Kerajaan Sorga/ Kerajaan Allah itu sudah hadir di tengah dunia ini. Itu sebabnya yang dilatih bukan hanya sekedar menyanyi dengan baik, melainkan seluruh hidup ini harusnya menjadi pujian bagi Allah dan dilakukan dalam standar Kerajaan Sorga. Menjalani hidup dengan prinsip dan nilai yang berlaku dalam Kerajaan Sorga sejak sekarang ini.

5 perumpamaan yang ada dalam bacaan kita hari ini akan menuntun kita mengenali prinsip dan nilai dalam menyatakan Kerajaan Sorga di tengah dunia.

1. Perumpamaan Biji Sesawi & Ragi Biji sesawi adalah biji yang sangat kecil. Ukurannya seperti titik ujung pensil, sekitar 1 milimeter. Dari biji yang sangat kecil ini, dia dapat tumbuh menjadi pohon besar yang rindang  dan menjadi tempat burung-burung bersarang di cabangnya. Perumpamaan ragi juga hendak menyatakan hal yang sama. Ragi menjadi campuran dalam adonan roti yang membuatnya berkembang, empuk dan lentur. Cukup dengan mencampurkan sedikit ragi, maka ia akan mengkhamirkan seluruh adonan yang banyak. Dua perumpamaan ini hendak mengajarkan kita tentang Kerajaan Sorga bahwa: berawal dari hal yang kecil dan sederhana, sebelum berkembang menjadi besar dan luas. Kebesaran dan keluasan Kerajaan Allah terlihat dari keterbukaannya bagi banyak orang dan banyak bangsa bersekutu di dalamnya. Seperti pelayanan Tuhan Yesus yang berawal di Galilea. Ia berkeliling berjalan kaki, menumpangi perahu, berkeliling dari desa ke desa, dari kota ke kota. Menginap di rumah yang sederhana. Pekerjaan pemberitaan Injil tersebut lalu meluas sampai ke berbagai tempat. Demikian juga dengan hidup kita. Mulailah bertekun melakukan pekerjaan Allah dari hal yang kecil dan sederhana, sebelum berkembang menjadi besar dan luas.

2. Perumpamaan Harta Terpendam & Mutiara yang Berharga Pada masa Yesus hidup, orang Yahudi memiliki kebiasaan menyembunyikan hartanya yang berharga di dalam tanah dan ladang yang dimiliknya. Ketika ada seorang upahan bekerja di sebuah ladang, ia menemukan harta terpendam di ladang itu, maka ia rela menjual seluruh harta miliknya demi membeli ladang yang berisi harta terpendam. Ia rela melepaskan apa yang berharga demi harta yang jauh lebih berharga. Demikian juga hal yang hendak disampaikan dalam perumpamaan tentang mutiara yang berharga. Sang Pedagang dalam perumpamaan itu rela menjual seluruh harta miliknya demi membeli mutiara yang sangat berharga tersebut. Dari perumpamaan ini, Kerajaan Sorga berarti harta yang sangat berharga dan membuat para pengikut-Nya (warga-Nya) dipenuhi sukacita dan melepaskan apa yang semula dipandang berharga bagi dia serta memiliki daya juang, mau berusaha untuk mencari apa yang sungguh-sungguh berharga dalam hidupnya. Hal yang sangat berharga itu adalah persekutuan yang intim dan akrab bersama dengan Tuhan. Apakah kita sudah menerapkan hal ini dalam hidup? Apakah kita bersukacita karena telah mengenal Tuhan? Rela melepaskan yang dulu dipandang berharga (sebelum kenal Tuhan), demi hidup dalam persekutuan yang akrab dengan Tuhan sebagai harta yang berharga.

3. Perumpamaan tentang Pukat
Pukat adalah jaring besar dan panjang yang digunakan untuk menangkap ikan. Pukat itu ditempatkan di laut untuk mengumpulkan berbagai jenis ikan di dalamnya. Ia akan menangkap ikan yang baik dan tidak baik. Perumpamaan ini hendak mengingatkan kita yang dipanggil sebagai penjala manusia bahwa ketika memberitakan Injil mungkin saja ada murid yang baik dan yang tidak baik. Bagian perumpamaan ini mengajak kita untuk mengevaluasi diri. Apakah kita sudah menjadi “ikan yang baik” atau kita adalah “ikan yang tidak baik?” Jika kita sungguh ikan yang baik, murid yang baik, tentu kita akan hidup dalam pengajaran yang sudah diberikan kepada kita oleh Tuhan.

Kiranya Tuhan menolong kita dengan hikmat-Nya untuk dapat menyatakan tanda-tanda kehadiran Kerajaan Allah melalui hidup ini. Tanda itu hadir, ketika hidup ini dijalani sesuai dengan prinsip dan nilai Kerajaan Allah, yang berarti Allah sendiri yang memerintah dalam hidup kita. Tuhan memberkati. Amin.

                                                                                                DRS

Leave a comment