Harga Mengikut Yesus

IMG-20210227-WA0004

(Markus 8:31-38)

“Berterus-terang” barangkali belum menjadi budaya masyarakat kita. Banyak sekali orang takut atau enggan berterus-terang kepada orang lain. Ada yang takut mengungkap kebenaran, karena tidak siap dengan konsekuensi yang mungkin muncul. Ada juga orang yang enggan rahasianya diketahui orang lain, sehingga jadi orang yang sangat tertutup. Sebagian lain takut mencampuri urusan orang lain, sehingga tidak mau menegur kesalahan dengan terus terang. Ada pula yang memang sengaja menutupi kenyataan demi tujuan tersembunyi yang ingin dicapainya. Kita mengenal peribahasa populer ada udang di balik batu, yang menegaskan kebiasaan orang menyimpan dan mengejar kepentingan pribadi.

Lewat perikop di atas, Tuhan Yesus memberi  kita teladan untuk terus-terang dalam mengungkap kebenaran.  Ayat 32 mencatat, “Hal ini dikatakan-Nya dengan terus terang.” Kata “hal ini” merujuk pada kebenaran Yesus sebagai Mesias yang akan menempuh jalan derita. Ia “harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan bangkit sesudah tiga hari” (ay 31). Seberapa pahit pun kenyataan yang terjadi, kebenaran ini harus diungkap dengan terang benderang.

Sikap terus terang Tuhan Yesus dalam mengungkap kebenaran yang akan dialami-Nya memiliki arti yang sangat penting bagi para murid, setidaknya mencakup 3 hal:

  1. Mengubah paradigma murid tentang sosok Mesias. Orang Yahudi memiliki konsep yang sangat politis mengenai Mesias. Mesias dari keluarga kerajaan dan bersifat sangat militan. Ia mampu menggerakkan kekuatan militer untuk mengusir penjajah dan memulihkan kerajaan Israel sepenuhnya. Akan tetapi, kemesiasan Yesus sama jauh dari idealisme itu. Yesus Ketimbang memilih perang, Kristus justru memilih jalan derita dan kematian. Dan, ini sangat membuat marah Petrus, sampai ia menegur Yesus dengan keras. Meski mendapat penolakan, konsep para murid ini harus diubah dengan konsep yang benar.
  2. Mempersiapkan para murid mengikuti kemesiasan Tuhan Yesus. Menerima kemesiasan Yesus yang menderita tentu berdampak langsung pada masa depan para murid. Jika Yesus yang terhormat dan penuh kuasa saja akan menderita, para murid juga akan terseret. Mereka akan menjadi musuh banyak orang, lalu ditangkap dan dianiaya. Para murid harus mempersiapkan diri jauh-jauh hari. Hardikan Tuhan Yesus kepada Petrus sesungguhnya merupakan ajakan agar para murid jangan mengejar kehendak Iblis, melainkan kehendak Allah. Kehendak Iblis ialah hura-hura, menghindari tanggung jawab dan melepas ketaatan kepada Allah. Kehendak Allah ialah kasih, ketaatan dan kerelaan berkurban bagi sesama.
  3. Menuntut para murid untuk membayar harga. Mengikut Tuhan Yesus di jalan penderitaan menuntut nilai perjuangan yang sangat tinggi, yakni: menyangkal diri, memikul salib dan mengikut Yesus. Menyangkal diri berarti mematikan keinginan-keinginan dosa dan melepas kebergantungan pada dunia. Memikul salib berarti mengikuti teladan Yesus yang melayani dan menderita, serta terus menyesuaikan diri dengan kehendak Allah. Mengikut Yesus berarti terus melekat pada-Nya dan semakin serupa dengan diri-Nya.

Saudara, sebagai murid Kristus di masa kini, marilah kita semakin berani berterus terang menyatakan iman kita kepada dunia. Jangan takut dengan sikap dan perlakuan dunia ini. Nyatakanlah kasih dan kebenaran Tuhan dengan terang benderang, supaya karya penebusan Kristus di kayu salib semakin berkumandang. Jangan sembunyikan keberimanan Saudara kepada Kristus; tetapi tunjukkan terus dalam aktivitas dan pelayanan Saudara sehari-hari.

Mengikut Kristus memang harus berani membayar harga tertinggi. Seberapa mahalkah hidup saudara? Persembahkanlah itu kepada Tuhan Yesus. Seberapa mahalkah waktu Saudara? Berikanlah itu untuk melayani Tuhan. Seberapa banyakkah harta Saudara? Kelolalah itu untuk mendukung pekerjaan-pekerjaan Tuhan. Seberapa tinggi kuasa dan posisi kerja Saudara? Pakailah itu semua untuk memuliakan Tuhan. Di atas semua itu, percayalah bahwa Yesus Kristus, Sang Mesias, terus memelihara dan memberkati kita! Amin!

                                                                                                                       MM

Leave a comment