Gembala yang Baik

3 mei

Mazmur 23; Yohanes 10:1-18

Pandemi Corona telah dinyatakan sebagai bencana nasional di Indonesia dan juga bencana dunia. Coronavirus telah merenggut banyak jiwa manusia, perekonomian terganggu sehingga menyebabkan banyak orang yang dirundung ketakutan. Maka nya negara-negara banyak yang melakukan kebijakan lockdown, karantina wilayah, PSBB, social distancing dan sebagainya untuk menekan angka penyebaran Coronavirus ini. Ketakutan, kegelisahan, dan kuatir adalah wajar jika kita rasakan saat-saat ini. Beberapa di antara kita mungkin kena PHK, ada yang bangkrut, ada yang tidak mendapat penghasilan lagi, ada yang berduka karena keluarganya meninggal akibat Coronavirus. Bahkan ada yang sedang takut karena dia sedang terjangkit Corona sehingga merasa hidupnya dalam lembah kekelaman. Akan tetapi pemazmur ingin mengingatkan kita lewat tulisannya bahwa “Tuhan adalah gembalaku, takkan kekurangan aku. . . Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku” (Mzm. 23:1,4).

Pernyataan pemazmur tersebut dilanjutkan oleh Yesus sang Imanuel (Allah beserta kita) dengan mengatakan “Akulah gembala yang baik” (Yoh. 10:11,14). Ada tiga hal yang dapat kita renungkan dari pernyataan Yesus sebagai gembala yang baik yang memberikan kita pengharapan di tengah situasi saat ini:

  1. Yesus, gembala yang mengenal domba-dombaNya. Kata “mengenal” (ginosko) memiliki makna: pengenalan yang diperoleh melalui pengalaman, melalui suatu pertemuan pribadi. Pengenalan ini adalah pengenalan yang intim, yang personal, bukan hanya pengenalan dalam bentuk intelektual belaka. Yesus, gembala kita, mengenal kita melebihi apapun bahkan lebih daripada kita mengenal diri kita sendiri. Pada ayat yang ke 3-4 dikatakan bahwa Ia memanggil domba-domba-Nya menurut nama-Nya, kemudian membawanya keluar. Gembala akan memanggil domba-dombanya masing-masing dengan nama yang khusus bagi setiap domba. Pemberian nama dari sang gembala menggambarkan relasi yang intim dengan dombanya, domba-domba tersebut adalah milik kesayangannya. Jadi yang membuat kita tidak takut dan memiliki pengharapan adalah karena kita milik kesayangan Yesus sang gembala yang mengenal kita.
  2. Yesus sebagai gembala yang memimpin dan membimbing domba-domba-Nya. Di ayat 4 dikatakan bahwa Ia berjalan di depan. Ia berjalan terlebih dahulu memberikan arah kepada domba-domba-Nya. Sang gembala menuntun ke tempat yang benar. Gembala akan berusaha untuk mencari tempat tersebut sekalipun mungkin harus menghadapi bahaya. Ke sanalah ia membimbing domba-dombanya. Gembala akan berjalan di depan untuk melindungi domba-dombanya dari bahaya yang mungkin akan muncul di hadapan mereka. Mazmur 23 juga menggambarkan bagaimana Tuhan memenuhi kebutuhan domba-domba, sekaligus menuntun dan membimbingnya. Yesus Sang Gembala, kemanakah Ia membimbing kita? Ia membimbing kita menuju keselamatan dan hidup yang berkelimpahan. Ia pasti memimpin dan menolong kita dalam kondisi saat ini.
  3. Yesus, sebagai gembala yang mengasihi. Kasih Tuhan tidak perlu diragukan lagi Ayat 11 maupun ayat 17, menyatakan hal yang sama, yaitu bagaimana Yesus Sang Gembala memberikan nyawa-Nya bagi domba-domba. Ia memberikan nyawa-Nya bukan sekedar karena ketaatan-Nya kepada Allah Bapa tetapi juga komitmen dan kasih-Nya yang amat besar bagi manusia. Seorang gembala rela mati bagi domba, “binatang yang bodoh.” Ini menggambarkan betapa besar kasih gembala tersebut kepada domba-domba-Nya. Yesus sang gembala dikontraskan dengan gembala upahan. Gembala upahan tidak memperhatikan, tidak melindungi domba-dombanya di saat menghadapi bahaya, tetapi justru meninggalkannya. Sebaliknya, Yesus sebagai gembala memberikan nyawa-Nya sebagai bukti kasih, kepedulian, dan perlindungannya terhadap domba-dombanya. Bahkan di Palestina pada zaman itu, kematian gembala merupakan bencana bagi domba-dombanya, tetapi kematian gembala yang sejati, yaitu Yesus justru membawa hidup bagi domba-domba-Nya. Yesus memberikan nyawa-Nya karena Ia juga memiliki kuasa untuk memperolehnya kembali.

Di akhir renungan ini, apa yang menjadi aplikasi kita dalam mengimani akan Yesus sang gembala yang baik untuk mengalahkan ketakutan hidup?

a. Mari kita berfokus kepada sesuatu yang kekal. Fokus memandang Tuhan sang gembala baik yang mengenal kita. Fokus memandang akan keselamatan yang kekal dan hidup yang kekal. Fokus akan kasih Tuhan yang kekal.

b. Bersandar terus kepada Yesus Sang Imanuel—Allah berserta kita dan juga Gembala yang baik yang memimpin hidup kita. Tuhan Sang Gembala beserta kita dalam segala kondisi. Pada kondisi pandemi ini Tuhan pun tidak meninggalkan kita dan bangsa ini. Tuhan beserta kita dan akan mengerjakan rencana besar-Nya bagi dunia dan bagi kita sebagai orang percaya. Jadi terus berdoa dan berharap akan pertolongan-Nya.

c. Tuhan sang gembala menginginkan kita untuk hidup dalam kasih-Nya serta menjadi terang, garam dan mengasihi. Maka dari itu mari kita hidup peduli sesama. Hidup kita bukan lagi untuk memikirkan diri sendiri. Belajar untuk mempedulikan dan mengasihi sesama dalam situasi pandemi ini. Belajar untuk mempedulikan lingkungan kita agar nama Tuhan dipermuliakan.

                                                                                                            WAS

Leave a comment