Epifani

Quote-06Jan2020

Mat 2:1-12

“Kemarin kotbahnya tentang apa?”, tanya seorang ibu kepada temannya. “Hehehe, gw udah lupa! Tapi kemarin ada cerita tentang seorang anak yang melarang orang lain untuk makan buah dengan kulitnya. Dia diajarin mamanya seperti itu. Pinternya dia bukan sekedar melakukannya tapi dia tahu alasannya dan dapat menjelaskan kepada orang lain. Maka kalo melakukan sesuatu harus dengan pemahaman dan pemaknaan yang benar. Jangan Cuma sekedar melakukan saja.”, jawabnya

Sepenggal percakapan di atas menunjukkan betapa kuatnya penyampaian pesan lewat cerita. Kotbah ndak bisa diingat seluruhnya, tetapi ceritanya bisa langsung ‘nyantol’ dalam kepala kita. Itu sebabnya bercerita menjadi metode yang efektif dan dapat digunakan untuk berbagai keperluan, seperti mengajar, presentasi, seminar, dsb. Metode ini juga digunakan oleh penulis Matius untuk menyampaikan pesan kepada orang Yahudi.

Injil Matius ditujukan bagi orang-orang Yahudi. Itu sebabnya Injil ini dimulai dengan silsilah keturunan Tuhan Yesus untuk menunjukkan hubungan antara Tuhan Yesus dengan pengharapan Israel akan kedatangan Mesias. Penulis hendak menyatakan bahwa Tuhan Yesus adalah penggenapan dari nubuat dalam Perjanjian Lama. Demikian juga dengan kisah orang Majus. Penulis memiliki tujuan yang hendak disampaikan melalui kisah orang Majus kepada orang Yahudi.

Orang Majus adalah ahli dalam bidang Astrologi. Mereka merupakan orang kaya yang pandai dan berpengetahuan dari Babilonia. Mereka juga dikenal sebagai para imam agama Zoroaster. Mereka adalah adalah bangsa non Yahudi yang kepadanya Allah menyatakan diri-Nya di dalam Tuhan Yesus. Padahal orang Yahudi memiliki pemahaman bahwa anugerah, keselamatan dan kemuliaan Allah hanya diberikan bagi mereka. Itu sebabnya ketika orang Yahudi membaca kisah orang Majus, mereka akan mempertanyakan kembali pemahaman mereka yang sangat eksklusif selama ini. Inilah tujuan penulis yang sebenarnya. Ia hendak menyampaikan kepada para pembaca (orang Yahudi) bahwa Allah memiliki keleluasaan untuk menampakkan dan menyatakan diri-Nya kepada semua bangsa. Kemurahan hati Allah tidak bisa dibatasi dalam kebangsaan tertentu. Kasih Allah adalah kasih yang terbuka untuk semua orang (universal).

Lalu mengapa Allah memilih bangsa Yahudi, sebagai bangsa pilihan-Nya? Melalui kisah ini penulis juga hendak mengingatkan bahwa bangsa Yahudi dipilih untuk menjadi terang bagi bangsa-bangsa. Berarti melalui merekalah Allah menyatakan kemuliaan-Nya bagi setiap bangsa. Jadi pemilihan bangsa Israel ada dalam tujuan dan rancangan Allah bagi seluruh bangsa. Mereka dipilih bukan karena berkat itu hanya khusus bagi mereka. Melainkan Allah ingin menyatakan berkat-Nya kepada semua bangsa melalui kehidupan mereka. Mereka dipilih, diberkati untuk menjadi terang dan berkat bagi semua bangsa. Oleh sebab itu, kisah orang Majus menjadi pengajaran sekaligus mengingatkan orang Yahudi untuk memberitakan tentang ‘Terang’itu kepada semua bangsa. Sebab bangsa non Yahudi pun dapat mengalami perjumpaan dengan Allah. Perjumpaan atau pernyataan diri Allah di dalam Tuhan Yesus kepada orang majus (non Yahudi) ini yang disebut Epifani.

Dalam minggu Epifani kita kembali diingatkan bahwa kita dipilih oleh Allah bukan untuk menjadi eksklusif. Kita dipilih karena Allah memiliki tujuan dan panggilan bagi kita untuk memberitakan tentang Tuhan Yesus sebagai terang kepada semua bangsa. Apa yang harus kita lakukan sebagai orang yang telah dipilih Allah? Pertama, alamilah perjumpaan secara pribadi dengan Tuhan Yesus, Sang Terang sejati. Kedua, nyatakanlah perubahan hidup karena telah berjumpa dengan Sang Terang Sejati. Ketiga, beritakanlah tentang Tuhan Yesus melalui seluruh hidup kita. Selamat berjumpa dan memberitakan Sang Terang di tengah dunia.

                                                                                                            DRS

Leave a comment