Duta Damai Sejahtera

19 apr

Yohanes 20:19-31

Seorang Bapak bercerita bahwa selama bertahun-tahun ia mencari kedamaian dan kepuasan hati. Ia dan istrinya membangun usaha yang sukses sehingga mampu membeli rumah besar, pakaian mewah, dan perhiasan mahal. Namun, semua harta dan pertemanannya dengan orang-orang yang berpengaruh tidak juga memuaskan kerinduan hatinya akan kedamaian. Lalu, suatu hari, ketika ia merasa terpuruk dan putus asa, seorang teman membawakannya kabar baik tentang Yesus Kristus. Pada saat itulah ia bertemu dengan Sang Raja Damai, dan pemahamannya tentang arti kedamaian dan kepuasan yang sejati pun berubah selamanya.

Yesus berbicara tentang damai sejahtera yang sejati itu kepada para muridNya setelah perjamuan terakhir mereka bersama (Yohanes 14). Disanalah Yesus menyiapkan mereka untuk menghadapi peristiwa-peristiwa yang akan segera terjadi, yaitu kematianNya, kebangkitanNya dan kedatangan Roh Kudus. Yesus menyatakan bahwa damai sejahtera yang diberikanNya tidak seperti yang diberikan dunia ini. Lewat pernyataan ini, Yesus ingin para murid tetap mengalami damai sejahtera sekalipun kesulitan mendera mereka.

Kemudian, ketika Yesus yang telah bangkit muncul dihadapan para murid, Dia menyapa mereka dan berkata, “Damai sejahtera bagi kamu”  (Yohanes 20:19).  Saat itu para murid belum mengalami damai dan kesukaan dari mengetahui bahwa Tuhan mereka telah bangkit. Berita itu pasti telah tiba ke telinga mereka, namun mereka bersembunyi diruang terkunci karena takut kepada para pemimpin orang Yahudi.  Ketakutan yang sudah menyerang mereka sejak menjelang Yesus di salib kini menjadi-jadi. Penampakan Yesus yang tiba-tiba ditengah-tengah mereka, meskipun pintu terkunci, dan pengulangan kata-kata yang telah diucapkanNya dalam perpisahanNya, “Damai sejahtera bagimu” (Yohanes 14:27), sekejap mereka mengalami kepenuhan makna damai, yaitu kepenuhan hidup karena memiliki hubungan yang intim dengan Allah. Sukacita keselamatan karena melihat Yesus yang bangkit memenuhi hati mereka.

Sesudah penuh dengan damai dan sukacita karena kehadiran Yesus, para murid menerima tugas menjadi utusan/duta Kristus. Perhatikan hal penting dalam ucapan pengutusan ini. Bahwa kualifikasi pengutusan para murid adalah seperti Bapa mengutus Aku (Yohanes 20:21).

  1. Misi para murid adalah meneruskan misi Yesus dari Bapa. Misi tersebut adalah membawa kabar baik keselamatan bagi dunia ini.
  2. Misi itu harus dijalankan persis seperti cara Yesus menjalankannya, yaitu didalam ketergantungan penuh kepada Bapa.

Untuk memungkinkan para murid mengemban misi tersebut, Yesus menghem­buskan Roh Kudus kepada mereka. Tindakan ini simbolis menunjuk pada pencurahan Roh Kudus kelak pada hari Pentakosta. Pengutusan dan pencurahan Roh Kudus kelak menjadi fondasi bagi gereja. Roh Kudus akan mengubah ketakutan dan persembunyian menjadi keberanian dan keterbukaan, menjadi utusan/duta yang disertai oleh wibawa Sang Pengutus sendiri (Yohanes 20:23).

Sebagai orang yang diutus Allah, kita tidak saja diserahi tugas, tetapi juga ditopang, dimotivasi, diikutsertakan, dimantapkan, diberi visi, dan ditempatkan dalam jaringan kerja oleh Dia yang mengutus kita.

                                                                                                YKD

Leave a comment